Kreativitas tanpa batas. Menyulap sebuah ruangan kecil, memanfaatkan pelataran, dan menambah sedikit pernak-pernik, menjadikan Gudang Kena sebagai kedai kopi di Samarinda yang kerap jadi pilihan untuk bersantai.

 

JULI 2020, pemerintah memberlakukan pengetatan. Lantaran pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) terus melonjak. Banyak usaha yang memilih stop beroperasi. Namun, Hadi Cahyo dan empat kerabatnya berani menghadapi tantangan di tengah wabah. Membuka sebuah kedai dengan memanfaatkan ruangan yang sebelumnya hanya gudang.

“Jadi saya diajak ngumpul sama teman yang memang sering nongkrong bareng karena satu kontrakan, awalnya itu bukan tempat begini, rombong. Karena niatnya jadi tempat nyantai kami-kami aja,” ujar Cahyo. Semula pun mencari tempat. Bahkan sempat diberikan tawaran di kompleks Citra Niaga. Namun, dia memilih tak mengambilnya. “Sempat juga mau di Jalan AW Sjahranie, tapi keburu diambil orang. Nyari di pinggir jalan kok bujetnya lumayan. Kawasan Jalan Juanda itu awalnya saya sangat enggak mengingingkan, tapi enggak tahu bisa jodohnya ya di Jalan Tri Daya sini, masih masuk kawasan Juanda. Di sini kan banyak juga (kedai dan coffee shop),” sambung laki-laki yang menggeluti dunia teater itu.

Sampai akhirnya tawaran datang dari rekannya sesama penggiat bisnis kopi. “Dulunya teman duluan yang mau masuk, tapi katanya budget mereka enggak cocok. Begitu saya yang masuk, cocok. Jadilah gudang ini tempat kami buka,” tambahnya. Dengan budget yang seadanya, Cahyo dan rekan-rekannya mengubah tempat yang semula merupakan gudang tempat bongkar-muat ikan, menjadi ruangan denga meja bar yang cukup panjang.

“Itu nukang sendiri semua, prepare-nya sebulan tuh. Pengerjaan mulai pukul 19.00–07.00 Wita. Setiap hari, sampai capek pokoknya. Bahkan pas mau launching itu belum beli kursi,” ungkapnya diikuti tawa ringan. Hingga akhirnya, lima owner punya peran masing-masing di awal hadirnya kedai Gudang Kena. “Saya di kasir, dua teman baristanya, terus ada yang ngurusin keuangan juga. Awalnya itu bahkan enggak mau pakai makanan karena ngerasa ribet,” sambung pria yang juga aktif di berbagai event entertainment itu.

Mengenai konsep bergaya klasik, Cahyo menyebut kerap melihat perkembangan di tiga daerah, Malang, Jogjakarta, dan Jakarta. Memadukan dengan gaya industrial, ditambah dengan kesan hijau lewat tanaman-tanaman hias. “Jadi ada teman anak pertanian kan mempersilakan dia berekspresi. Biar tambah kesan klasik, coba deh main jendela kayu,” ungkapnya.

Namun, meski tempatnya berada di permukiman warga, Cahyo dan rekan-rekan beruntung, tempatnya justru tak terganggu dengan kebisingan kendaraan. Bahkan, produk yang terbaik justru membuat pelanggan bakal kembali meski tempatnya ada di dalam gang. “Jadi jangan takut deh, mau buka di pinggir jalan atau dalam gang, kalau produknya membuat pelanggan nyaman, pasti enggak bakal kehilangan customer,” sambungnya. Selain itu, dia pun sengaja tak banyak menyediakan terminal listrik. “Jadi anak gudang (sebutan customer Gudang Kena) datang mereka bisa lebih banyak ngobrol, sharing, dan diskusi, tidak terpaku dengan gadget, artinya menumbuhkan kedekatan juga,” ungkapnya. Namun, dia juga tak mengabaikan bagaimana masukan pelanggan, seperti varian minuman premium teh. Karena saran pengunjung, Gudang Kena juga menyediakan varian teh.

Bahkan, guna menjalin hubungan erat antara pegawai dengan pelanggan Gudang Kena, Cahyo tak menggunakan metode panggil nama. “Jadi kalau sudah dua sampai tiga kali, pegawai di sini pasti sudah hafal, kenal juga, makin akrab, terbangun juga rasa kekeluargaannya,” kunci dia. (dra/k8)