JAKARTA–Pemerintah mencatat defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) hingga Oktober 2021 lebih rendah ketimbang periode yang sama tahun lalu. Perbaikan tersebut lantaran adanya kenaikan penerimaan negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan, defisit APBN mencapai Rp 548,9 triliun. Setara 3,29 persen dari produk domestik bruto (PDB). Tahun lalu, mencapai Rp 764,8 triliun atau 4,67 persen terhadap PDB. Meski demikian, defisit tahun ini masih 54,5 persen dari target yang mencapai Rp 1.006,4 triliun.

“Dibanding tahun lalu yang defisit totalnya, ini turun 28,2 persen, drop tinggi. Ini menunjukkan kesehatan APBN dan tren yang baik,” katanya.

Perempuan yang akrab disapa Ani itu menyebut, defisit yang lebih rendah terjadi lantaran penerimaan negara meningkat. Hingga Oktober 2021, pendapatan negara Rp 1.510,0 triliun atau terealisasi 86,5 persen dari target pendapatan negara tumbuh 18,2 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu dengan Rp 1.277 triliun.

Pendapatan negara tersebut, lanjut dia, ditopang oleh penerimaan perpajakan dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Penerimaan perpajakan naik 17 persen year-on-year (yoy) mencapai Rp 1.159,4 triliun. Perinciannya, Rp 953,6 triliun dari penerimaan pajak serta, kepabeanan dan cukai sebanyak Rp 205,8 triliun. Jumlah tersebut sudah mencapai 80,3 persen dari target APBN 2021, Rp 1.444,5 triliun.

“Bea cukai tumbuh kuat karena disumbangkan oleh bea masuk yang meningkat 16,8 persen dan bea keluar yang tumbuh delapan kali lipat,” beber Ani.

Di sisi lain, belanja negara sampai Oktober 2021 mencapai Rp 2.058,9 triliun. Realisasinya meningkat 0,8 persen dibanding tahun lalu. Angka itu juga setara dengan 74,9 persen dari target Rp 2.750 triliun. “Kami lihat dari postur APBN sudah sesuai keinginan. APBN jadi lebih sehat, tetap bisa menopang dan mendorong pemulihan ekonomi,” ujar mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu. (han/JPG/rom/k8)