Ketika mengenakan seragam putih biru, kemampuannya menggunakan mesin jahit semakin terasah. Keterampilannya menjadi-jadi. Membuatnya gemar menyulap lembaran kain menjadi pakaian. Meski kini profesinya sebagai dokter, dia semakin menekuni usahanya yakni Kinanti Couture.

 

KAIN adalah dunia bagi Nur. Itulah yang diakui saat ditemui di butiknya, daerah Perumahan Bumi Sempaja Samarinda. Dari butiknya itu, berbagai macam pakaian jadi dari wastra daerah seperti sarung samarinda hingga ulap doyo terpajang. Selain itu, lembaran kain hasil eco print juga tersusun apik di salah satu sudut rak. Dengan motif cantik khas dedaunan dan perpaduan warna apik. Begitu pakaian yang sudah jadi dari eco print.

Nur bercerita, jika semuanya bermulai saat dia masih belia. Diakui jika ibunya gemar menjahit. Hal itu tentu mengorek rasa penasaran Nur. Hingga dia mulai mahir ketika ada mata pelajaran terkait ketika di duduk di bangku SMP.

“Zaman dulu itu ada mata pelajaran semacam keterampilan, menjahit itu. Ya akhirnya semakin suka. Autodidak semuanya, enggak ikut kursus. Bahkan ketika sudah mulai terampil, kami sekeluarga enggak pernah beli baju lebaran. Selalu saya yang bikin,” bebernya lalu terkekeh.

Ketika lulus SMA, keinginannya untuk menekuni hobi itu semakin tinggi. “Loh, ibu penginnya saya jadi dokter. Jadi saat itu, selain kedokteran saya ambil jurusan teknik tekstil. Pilihan pertama yang masuk itu (kedokteran) di Universitas Brawijaya,” lanjutnya.

Semenjak kuliah, diakui dia mulai jarang menyentuh mesin jahit. Sibuk dengan studinya. Namun ketika ada waktu senggang, dia mulai mengutak-atik dan menciptakan pakaiannya sendiri.

Sekian tahun berlalu. Di Samarinda, Nur melihat jika tak banyak yang mengenakan pakaian dengan kain daerah, khususnya sarung samarinda. Apalagi di lingkungannya. Dia pun bertekad ingin mengenalkan lebih wastra daerah.

“Akhirnya sekitar 2018 lahirlah Kinanti Couture. Utamanya fashion dengan kain sarung samarinda. Promosinya dengan cara mulai aktif ikut pameran, fashion show. Jadi promosi mulut ke mulut,” jelas perempuan kelahiran 1975 itu.

 

 

ECO PRINT: Merupakan salah satu buah kreativitas yang lahir saat pandemi. Yang kini menjadi salah satu kain dengan nilai jual dan estetika tinggi.

Namanya perlahan dikenal. Apalagi ciri khas kedaerahan yang di bawa lewat berbagai fashion yang dia kenalkan. Hingga kini, dia melihat jika peminat jasa dan produknya kebanyakan mereka yang ingin tampil beda. “Saya lihatnya kayak pengin yang wah gitu misal ada yang request baju,” ujarnya.

“Dari awal, branding awalnya memang terkenal pakaian dari sarung samarinda. Nah, pas pandemi muncul brand baru House of Padma untuk eco print. Salah satu bentuk pengembangan kreativitas selama pandemi lah,” lanjutnya.

Dari hobinya itu, keinginannya tak muluk. Tentu ingin semakin banyak orang mengenal dan mencintai kain nusantara khususnya daerah sendiri. Sama seperti desainer kebanyakan, dia juga ingin hasil karyanya semakin dikenal. (rdm)