MENURUT Nur Khoma Fatmawati, tak ada beda ketika dia berprofesi sebagai dokter dan juga desainer. Sama-sama bergerak di bidang layanan. Sehingga dia tak kaget ketika menghadapi berbagai macam klien yang ingin menggunakan jasanya.

”Kalau pasien kan tentu banyak keluhannya kan, namanya juga jadi dokter. Jadi ya sebenarnya sudah biasa,” ujar dokter spesialis mata yang juga menjadi dosen di Fakultas Kedokteran (FK) Unmul itu.

Namun diakui, waktunya tak terlalu banyak untuk membagi tugas untuk semua yang dilakoninya. Selain bertugas di dua rumah sakit serta seorang akademisi, dia sebisa mungkin setiap Minggu ke butiknya.

“Jadi juga punya kayak co-owner yang megang kalau saya tugas (dokter). Termasuk dia yang mengikuti pengembangan dan pelatihan untuk bisnis. Sama ikut fashion show juga,” kata Nur.

Ketika awal pandemi, diakui jika memang bisnisnya terkena dampak. “Tapi ya dasarnya saya suka kain, suka penasaran. Akhirnya kenal dengan teknik eco print. Akhirnya itu yang dicoba terus sampai punya brand sendiri sekarang,” jelasnya.

Eco print merupakan teknik memberi pola pada bahan atau kain menggunakan bahan alami. Seperti bunga, daun, batang hingga bagian tumbuhan lain yang menghasilkan pigmen warna. Selain media kain, Nur juga menggunakan teknik eco print pada bahan kulit.

“Jadi bisa dibilang itu terus yang dicoba. Trial and error. Sampai dapat pola atau motif sama warna yang sesuai,” jelasnya sambil memberi contoh pada selembar kain warna merah yang sudah diberi motif dari berbagai daun dan bunga.

Diakui Nur jika hobi yang dia suka sejak kecil kini sudah menghasilkan lewat bisnis yang dia rintis. Selain tetap mengabdi sebagai tenaga kesehatan, dia menjalani sepenuhi hati bisnis yang berangkat dari hobinya itu.

Mulai pakaian wanita seperti dress, gamis atau terusan, mukena, atasan hingga jilbab. Ada pula pakaian pria berupa kemeja. Hingga berbagai aksesori seperti tas. Menjadi bukti, bahwa sesuatu yang digeluti sepenuh hati bisa menghasilkan. Bahkan turut menghidupi orang lain yang menjadi karyawannya. (rdm)