JAKARTA–Harga minyak goreng diprediksi terus naik sampai awal 2022. Kenaikan harga di pasar domestik ditengarai dipengaruhi menguatnya harga crude palm oil (CPO). Untuk meredamnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya mengamankan stok minyak goreng di lapangan.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengungkapkan, harga CPO masih berpotensi naik sampai Kuartal I 2022. Itulah pengaruh dari fenomena commodity supercycle. “CPO sebagai komoditas supercycle memang memiliki kelebihan, tetapi di sisi lain menimbulkan dampak negatif terhadap harga minyak goreng,” ujarnya, Kamis (25/11).

Berdasar catatan Kemendag, harga eceran nasional untuk minyak goreng curah sudah berada di posisi Rp 16.500 per liter atau naik 14,58 persen dari bulan lalu. Di sisi lain, harga minyak goreng kemasan melonjak 10,91 persen menjadi Rp 18.300 per liter dari pencatatan bulan lalu.

“Sudah setuju dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) untuk mendistribusikan 11 juta liter minyak goreng kemasan sederhana dengan harga Rp 14 ribu per liter,” kata Oke.

Minyak goreng murah tersebut akan dijual di 45 ribu gerai milik anggota Aprindo di seluruh Indonesia. Meski minyak goreng itu dijual Rp 14 ribu per liter, harganya masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET) pemerintah. Sebelumnya, HET minyak goreng kemasan sederhana ditetapkan Rp 11 ribu per liter oleh pemerintah.

Sementara itu, Ketua Umum Aprindo Roy Mandey menjelaskan, pihaknya telah bekerja sama dengan para pemasok minyak goreng. Kerja sama tersebut difasilitasi Kemendag. “Ketersediaan minyak goreng kemasan sederhana saat ini tidak optimal. Kami di sektor hilir menjadi harapan masyarakat untuk menyediakan pasokan dan harga yang ideal. Saat ini sudah berjalan prosesnya (tambahan pasokan, Red),” jelasnya. (agf/jpg/ndu/k8)