Uswandi, Mahasiswa Pascasarjana PAI UMM

 

Setidaknya ada tiga ayat dalam Al-Qur’an Yang menyatakan Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh hal dalam kehidupan manusia baik dalam kehidupan mereka di dunia maupun kehidupan setelahnya. Tiga ayat tersebut adalah ayat ke-3 Surah Al Maidah: “…pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridai Islam sebagai agamamu”, lalu ayat ke-89 Surah An-Nahl: ”…Dan kami turunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)”, dan ayat ke-38 Surah Al-An’am: ”…tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan dalam kitab.

Begitu pun halnya dengan pendidikan dan komponen-komponen yang melingkupinya termasuk hal yang mendapatkan perhatian dan pengaturan dalam Islam: baik yang menyangkut hal-hal filosofis maupun teknis, guru, murid, kurikulum, tujuan, tahapan, adab, dan lain sebagainya.

Surah Al-Mujadalah Ayat 11, Al-Alaq Ayat 1-5, Al-Jum’ah Ayat 2, At-Tahrim Ayat 6, Al-Mudatsir Ayat 1-7, Al-Kahfi Ayat 60-82, dan masih banyak lagi ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an dan dalam hadis-hadis Rasul yang mengatur dan menjelaskan hal ini.

Salah satu bagian dari pendidikan dalam Islam yang mendapatkan perhatian serius dari Allah berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an adalah guru. Bukan hanya karena peran sentral guru dalam mencapai tujuan pendidikan, tapi lebih dari itu karena Allah SWT juga adalah guru bahkan Ia adalah Maha Guru dari seluruh guru dalam kehidupan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan, tentu termasuk manusia di dalamnya.

Dalam Surah Al-Mujadalah Ayat 11 misalnya Allah SWT mendudukkan seorang yang berilmu yang mengajarkan ilmunya di atas derajat manusia pada umumnya. Begitupun dalam Surah Al-Jum’ah Ayat 2 Allah SWT menerangkan posisi guru sebagai subjek yang menyampaikan ilmu, menyucikan jiwa dan membimbing objek/muridnya melakukan penelitian-penelitian dan penemuan-penemuan untuk makin meyakinkan mereka akan Kemahakuasaan Allah SWT dan mengantarkan mereka makin bersyukur sebagai makhluk.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, Rasulullah SAW juga bersabda: “Setiap anak dilahirkan diatas fitrahnya, kedua orangtuanyalah yang menyebabkannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau majusi”. Dari hadis ini dijelaskan pengaruh orangtua/guru dalam membentuk dan mengarahkan seorang manusia.

Sampai di sini jelaslah betapa tinggi dan besarnya pengaruh dan peran seorang guru dalam pandangan Allah dan di sisi manusia.

Namun, selain menjelaskan kedudukan dan peran seorang guru, Allah juga mengingatkan rambu-rambu kepada para guru yang Ia titipkan dalam Surah Al-Mudatsir Ayat 1–7.

Di ayat 1-2 seorang guru dituntut untuk selalu energik, penuh semangat, positif thinking dan optimistis. Di ayat 3 Allah menyampaikan bahwa hakikat tugas menjadi guru ini adalah tugas Allah, maka hendaknya seorang guru menyadari bahwa dirinya hanyalah kurir ilmu yang menyampaikan ilmu yang berasal dari Allah, sehingga seorang guru harus menyadari bahwa yang boleh mendapatkan pujian yang hakiki adalah Allah SWT yang disimbolkan dengan membesarkan Allah.

Dalam ayat yang ke-4 Allah mewanti-wanti para guru untuk senantiasa menjaga kebersihan pakaiannya, pakaian di sini meliputi penampilan fisik dan pakaian batin, intelektualitas dan spiritualitas.

Pada ayat ke-5 Allah mengingatkan para guru untuk menjaga adab, integritas, dan moralitas, menjauhi maksiat dan meninggalkan dosa. Pada ayat ke-6, Allah mengingatkan para guru agar menjaga niat mengajar semata-mata sebagai ibadah kepada Allah bukan untuk mengejar materi, seorang guru sejati pantang menuntut bayaran terhadap ilmu yang diajarkan walaupun tentu tidak dilarang menerima bila diberikan secara sukarela tanpa menentukan tarif.

Pada ayat ke-7 Allah mengingatkan bahwa karena tugas menjadi guru ini adalah tugas yang sangat berat baik dalam proses belajarnya, menjaga ilmunya, maupun mengajarkannya maka hendaknya para guru senantiasa menjaga kesabarannya. (luc/k8)