Ingat aku sayang, yang sudah berjuang, menunggumu datang, menjemputmu pulang. Sepenggal lirik “Menunggu Kamu” milik Anji jadi gambaran para istri prajurit yang telah sembilan bulan lamanya tak berada di samping sang suami yang tengah bertugas di perbatasan. Begitu pun mereka yang anaknya bertugas mengamankan perbatasan Indonesia.

 

MATAHARIbegitu terik. Menyambut kepulangan 450 prajurit Yonif 611 Awang Long (AWL) dari tugasnya di Papua. Perempuan berbaju hijau-hijau berjejer rapi, demi ingin melihat sang suami kembali dari tugasnya.

Silvi, satu di antara sekian banyak istri terharu begitu melihat Praka Galih D, sang suami mendekatinya. Setangkai mawar pun langsung diberikan, pelukan hangat pun menambah haru pertemuan. Namun, Grisele, anak pasangan Galih dan Silvi justru menangis kala melihat wajah sang ayah. “Lho, kok nangis. Gendong sini,” ucap Galih. Namun, sang anak menolak. Maklum, Galih merupakan ketiga kalinya berangkat bertugas ke perbatasan. Ambon, Malaysia, dan terbaru Papua. Dan saat ditinggal masih sangat kecil. “Padahal kalau lagi video call itu panggilnya papah, papah. Tapi ntar juga pasti mau,” timpal Silvi.

Begitu pun dengan Erna Ferina Manalu, istri dari Danyon 611/AWL Letkol Inf Albert Frantesca Hutagalung, yang juga sebagai komandan satuan tugas perbatasan RI-PNG. “Saya bangga dan bersyukur, suami dan seluruh prajurit yang diberangkatkan untuk bertugas ke Papua kembali dengan selamat,” ucap Erna. Endersen adalah anak ketiga dari Albert dan istri. Proses melahirkan tak didampingi suami memang baru pertama kali dirasakannya. “Tapi mau tidak mau harus kuat,” ungkapnya. Erna bahkan selalu cemas ketika mendengar ketika ada kabar atau informasi kontak senjata antara prajurit TNI maupun pasukan yang ditugaskan di sana dengan kelompok separatis.

Diungkapkan Albert, tak mendampingi istri saat jabang bayi lahir memang tak masalah baginya. “Karena istri sudah mengerti, tugas negara lebih penting,” ujarnya. Bahkan, ketika bertugas, apa pun yang terjadi dengan istri saat melahirkan sudah sangat siap. “Apa pun kondisinya meski buruk sekali, itulah kami sebagai tentara, segalanya harus siap,” jelasnya. Dia bersama 449 prajurit lainnya yang bertugas di Merauke dilepas dengan isak tangis. “Kami dengan warga di sana sudah seperti keluarga. Bantu melahirkan, mengajar, dan lainnya. Bahkan kalau sakit datangnya ke kami di pos. Kalau lapar juga datangnya pun ke kami, itu sangat bersyukur sekali,” ungkapnya. Banyaknya cerita membuat kenangan selama sembilan bulan berada di perbatasan Indonesia-Papua tak bisa terhitung.

Sementara itu, Danrem 091/ASN Brigjen TNI Cahyo Suryo Putro yang menyambut kedatangan 450 prajurit mengaku bangga dan mengapresiasi setinggi-tingginya. “Semua tugas dan arahan yang diberikan pimpinan diselesaikan dengan baik. Reward-nya mereka langsung diberikan libur 12 hari kerja,” ucap Cahyo. Menjaga perbatasan, kedaulatan, hingga bersama membangun kekeluargaan dengan meringankan beban masyarakat di sana, menjadi sebuah rasa syukur tersendiri. Jenderal TNI bintang satu itu juga berpesan, agar setelah kembali nantinya tetap profesional menjalankan tugas di satuan. (dra/k16)