Gejolak krisis di Republik Sudan sejak kudeta militer akhir Oktober 2021 lalu berdampak pada puluhan mahasiswa asal Kaltim yang kuliah di negara yang terletak di timur laut Benua Afrika itu.

 

PENAJAM-Saat ini, dilaporkan kondisinya berangsur-angsur membaik. Tetapi, potensi ancaman keselamatan jiwa di luar rumah tetap tidak bisa diabaikan. Akibatnya, puluhan mahasiswa asal Kaltim yang kuliah di Sudan terjebak, dan tidak berani keluar rumah, terlebih ke kampus tempat mereka belajar.

 “Dampak lain yang paling terasa bagi mahasiswa khususnya asal Kaltim adalah dalam hal kebutuhan bahan pokok utamanya, dan juga biaya sewa kontrakan rumah yang tiba-tiba naik tinggi. Di lain sisi, tidak semua mahasiswa Kaltim tinggal di asrama karena sudah terisi full, sehingga harus mengontrak di luar dormitory (asrama),” kata Burhanudin Robani, mahasiswa asal Gunung Intan, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU) yang kuliah di International University of Africa, saat dihubungi Kaltim Post, kemarin.

Mahasiswa  semester tiga Fakultas Dirasat Islamiyyah itu mengatakan, akibat krisis politik yang berkepanjangan itu kegiatan belajar-mengajar di universitas terjeda. Ia menjelaskan, situasi dan kondisi mahasiswa asal Kaltim terbagi pada dua perguruan tinggi. “Ada yang di International University Africa dan Alquran Karim and Islamic Science University, dan masing-masing universitas melakukan penutupan sampai waktu yang belum ditentukan. Sehingga, dampak politik Sudan yang memanas berimbas pada kampus dalam kegiatan belajar-mengajarnya,” tuturnya.

Untuk kegiatan belajar mengajar saat ini yang masih tertunda itu, ia mendapatkan info terbaru yang masih ditunggu kevalidannya bulan depan sudah dibuka dan dilanjutkan langsung ujian semester ganjil. “Di sini setiap kebijakan kampus berbeda,” ujarnya. Dijelaskannya, saat ini di Sudan sedang ada perubahan transisi lagi. Situasinya sangat mencekam. Satu sama lain tidak bisa berkirim kabar terlebih penggunaan media sosial akibat pemutusan jaringan internet selama tiga minggu, dan baru dibuka Senin, 15 November 2021.

Saat ditanya peranan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sudan di Khartoum, Burhanudin Robani mengatakan, untuk situasi kemarin KBRI sudah memberlakukan Siaga 2, tetapi saat ini mau menjadi Siaga 1 bahkan KBRI juga sudah siap-siap untuk melakukan evakuasi warga negara Indonesia (WNI) jika keadaan semakin memburuk. “KBRI juga sudah memberikan saran untuk repatriasi mandiri,” ujarnya.

Bagaimana dengan kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) di tengah-tengah wilayah yang sedang berkonflik? Ia mengatakan, harga bahan pokok makanan melambung tinggi. Di samping itu, terjadi pula kelangkaan gas untuk masak, kemudian harga sewa kontrakan juga melambung tinggi per bulannya rata-rata harga sewa kontrakan mahasiswa 300 dolar yang sebelumnya hanya 100 dolar. “Kondisinya menjadi semakin sulit karena sempat terjadi pemblokadean di Pelabuhan Sudan, sehingga bahan pokok seperti tepung, minyak, dan sebagainya terhambat tidak bisa sampai ke ibukota Khartoum,” ungkapnya.

“Pesan saya mewakili kawan-kawan Kaltim untuk orangtua di rumah tetap tenang. Insyaallah keadaan sekarang mulai membaik, meskipun belum kondusif untuk keluar karena ada banyak ancaman di luar. Kemudian untuk pemerintah, pemkab maupun pemprov, kami berharap bisa mendapatkan bantuan sosial dalam bentuk uang untuk memenuhi biaya bahan pokok kami. Saya pribadi pernah waktu Covid-19 di Sudan meningkat mengirim proposal ke Pemprov Kaltim tidak mendapatkan respons sampai sekarang. Saya juga mengirim surat resmi melalui rekomendasi dari Dubes Khartoum saat itu. Dan saat ini, kasus Covid-19 di Sudan juga melambung tinggi,” kata Burhanudin Robani sembari menambahkan, jumlah mahasiswa Kaltim yang kuliah di negara yang sedang bergolak itu sekira 20 orang.(ari/far/k15)