SAMARINDA-Ruas jalan Kutai Barat-Mahakam Ulu dan Talisayan (Berau), diusulkan kembali dilanjutkan pada 2022. Masih ada ratusan kilometer yang rusak jadi alasan proyek jalan di kawasan ini tetap diteruskan. Apalagi akses ini termasuk jalan vital antarkabupaten di Kaltim. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda menuturkan, pengerjaan ruas jalan Kutai Barat ke Mahakam Ulu termasuk cukup berat.

Sebab, harus membuka lahan, memotong gunung, hingga membangun jembatan. "Progresnya masih jauh. Ini dapatnya lima kilometeran. Sedangkan masih ada ratusan kilometer. Targetnya tembus dulu jalan keras. Bisa dilewati kendaraan. Ini, buka lahan saja, jadi tahap pengerasan. Pasti memotong gunung," kata lelaki yang akrab disapa Fitra itu. Kebutuhan untuk memotong gunung memang ada. Sebab, tak sedikit gunung dengan grade tanjakan lebih dari 20 persen, sehingga perlu diturunkan di bawah 12 persen.

Dia menambahkan, pengerjaan proyek tersebut masih sama seperti sebelumnya, yaitu tetap kerja sama dengan TNI, yang melibatkan warga setempat. Jalan kawasan tersebut juga masih nonstatus, sehingga akan memudahkan penganggaran untuk perbaikan. Baik melalui APBD Kaltim atau dari APBN. Adapun saat ini, APBD Kaltim mengucur untuk pembangunan jalan dari Tering (Kubar) menuju Long Pahangai (Mahulu). Sedangkan, APBN mengucur untuk akses Long Pahangai ke perbatasan. "Jalan Kubar-Mahulu masih nonstatus, tapi ke depannya bisa jadi jalan nasional. Sebab, akses itu kan bisa antarprovinsi," jelas dia. Selain pembangunan jalan, pembangunan jembatan juga dilakukan. Tahun depan diusulkan tiga jembatan untuk akses menuju Mahulu.

"Secara umum anggaran jembatannya di atas Rp 30 miliar. Ada jembatan bailey dan rangka. Jadi bisa dilewati motor dan mobil," sambung dia.

Jumlah ini berkurang dibandingkan tahun sebelumnya, karena ada empat jembatan bailey yang dibangun. Mulai jembatan bailey dengan bentang 45, 20, dan 30 meter. Dalam keterangannya beberapa waktu lalu, Wakil Bupati Mahakam Ulu Yohannes Avun mengatakan, urusan infrastruktur memang jadi tantangan bagi kabupaten yang dia pimpin. Maka dari itu, untuk infrastruktur pihaknya terus berkonsultasi dengan pusat maupun provinsi.

"Untuk kewenangan daerah misal kecamatan, paling tidak pengerasan. Soalnya, kalau aspal atau beton, itu uang kita enggak cukup," sambung Yohannes Avun.

Peningkatan jalan dari Tering ke Long Bagun serta Long Bagun dan Long Pahangai pun sudah dimulai dengan sumber anggaran provinsi dan nasional. Diakuinya, untuk membuat akses mulus, dua atau tiga tahun termasuk berat. Selain pembangunan jalan di Mahulu tersebut, akses yang juga mendapat perhatian pemerintah provinsi adalah Talisayan, Berau. Tahun ini akses Tanjung Redeb ke Talisayan dan Kaliorang, Kutai Timur ke Talisayan juga bakal diperbaiki. "Kita usulkan melanjutkan tahun ini," sebut Aji Muhammad Fitra Firnanda. Dia memaparkan, sekitar Rp 70 miliar anggaran dipersiapkan untuk memperbaiki jalan di kawasan ini.

Selain mendukung mobilitas warga, kawasan ini prioritas untuk mendukung potensi pariwisata di kawasan tersebut. (nyc/riz/k16)