BALIKPAPAN–Wisata Edukasi Kang Bejo berada di tengah permukiman warga. Tepatnya di RT 40, Kelurahan Sunber Rejo, Balikpapan Tengah. Luasnya sekitar 1,7 hektare. Jarak tempuh ke wisata ini perlu waktu 25 menit dari pusat Kota.

Kampung wisata ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kang Bejo sejak 2020. Ada 23 kelompok tani dari warga sekitar yang menggarap area perkebunan kangkung wisata ini. Walaupun belum lama dibentuk, namun Wisata Kang Bejo sudah menunjukkan kemajuan yang pesat. Secara administrasi dan kelembagaan swadaya masyarakat, memang lebih unggul.

Warga sekitar juga kompak dalam mengelola kampung wisata ini, terutama yang aktif dalam kegiatan di Pokdarwis Kang Bejo. Karena salah satu penilaiannya juga adalah dampak positif pokdarwis ini terhadap warga sekitar.

Ketua Pokdarwis Kang Bejo Haryoto Sudjono, melalui Sekretarisnya Yethi Hirnawati mengatakan, Pokdarwis Kang Bejo satu-satunya wisata di Kaltim yang pernah mendapatkan sertifikasi CHSE. Prestasi lainnya yaitu sebagai Pelopor Kampung Tangguh Nusantara, juara satu Lomba Pokdarwis tingkat Kaltim.

Juara tiga Lomba Kampung Tangguh Nusantara binaan Polda Kaltim. Dan mendapatkan piagam tatanan kehidupan masyarakat sehat mandiri, ketahanan pangan dan gizi oleh Pemkot Balikpapan.

Bantuan-bantuan dari pihak lain, baik itu perusahaan ataupun instansi pemerintahan ke Kampung Wisata Kang Bejo ini, seperti sarana dan prasarana. “Kami tidak pernah mengajukan proposal permohonan, akan tetapi mereka sendiri yang menawarkan bantuan fasilitas tersebut di Kampung Wisata ini,” terangnya.

Kampung wisata ini menawarkan banyak wisata edukasi. Pengunjungnya selain instansi dan masyarakat, juga untuk wisata edukasi kalangan pelajar, mulai dari taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi, sering berkunjung. Pengunjung berkesempatan untuk belajar menanam, memanen, bahkan bisa menikmati langsung olahan kangkung tersebut.

Bukan hanya kebun kangkungnya yang menarik untuk dikunjungi, pada kampung wisata ini juga terdapat beberapa spot foto dan selfie yang menarik, serta tempat kuliner yang menjual hasil olahan kangkung seperti gado-gado dengan nasi tiwul dan nasi jagung, keripik kangkung, dan lainnya. 

“Kebanyakan anak-anak milenial hanya melihat kangkung dari bercocok tanam, namun mereka tidak mengetahui proses atau cara penanaman sayuran tersebut. Dengan adanya area Wisata Kang Bejo ini, mereka bisa melihat langsung proses penanaman, sehingga akan berdampak mental positifnya terhadap lingkungan di sekitarnya,” terang Yethi.

Dengan tetap menjalin dan menjaga kekompakan warga untuk saling membantu dan membangun, wilayah destinasi Wisata Kampung Kang Bejo menjadi lebih baik. “Dan semoga keberhasilan tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan sehingga dapat diikuti oleh kelurahan lainnya yang mempunyai inovasi sesuai dengan wilayah kami ini,” pungkasnya. (pms/taw/ind/k8)