ARI/KP

TERBATAS: Hingga kini razia yang bisa dilakukan Satpol PP PPU hanya bersifat penertiban pedagang, sementara untuk menguji bahan berbahaya di dalam makanan menjadi ranah provinsi.

 

 

PENAJAM- Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop) Kaltim menggandeng Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan razia terhadap pedagang buah di Penajam Paser Utara (PPU). Razia bersama ini sebagai tindak lanjut keluhan konsumen di daerah tersebut, yang mengeluhkan peredaran buah-buahan yang dijual matang yang diduga akibat zat kimia berbahaya. 

Di samping sebagai respons keluhan tersebut sekaligus menjawab Surat Kepala Disperindagkop PPU Sukadi Kuncoro yang minta agar dinas teknis ini melakukan pengawasan barang dan jasa yang beredar di wilayah PPU, mengingat juga bertepatan sebentar lagi menjelang hari besar keagamaan dan tahun baru. 

“Sedang dijadwalkan,” kata operator hotline Disperindagkop Kaltim yang dihubungi Kaltim Post. Ia menegaskan, Disperindagkop Kaltim khususnya bagian perlindungan konsumen tetap menjadi tanggung jawab provinsi. Tetapi, dalam hal teknis seperti dalam kasus buah yang diduga mengandung bahan kimia itu, untuk menyatakan buah tersebut benar berbahan dasar kimiawi, Disperindagkop Kaltim harus menggandeng Balai POM untuk menyatakan mengenai hal tersebut. 

Sukadi Kuncoro sebelumnya mengatakan, untuk melakukan pengawasan atau semacam razia terhadap pedagang buah di daerahnya, ia tidak memiliki kewenangan. Undang-Undang (UU) No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan Pasal 95-96 disebutkan pemerintah daerah berwenang melakukan pembinaan dan pengawasan kegiatan perdagangan di daerah setempat sesuai UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah untuk urusan perlindungan konsumen, pengujian mutu barang, dan pengawasan barang beredar dan/atau jasa di seluruh daerah kabupaten kota kewenangannya ada di provinsi. “Karena itu, kami sudah menyurati provinsi agar melakukan razia di PPU,” katanya.

 Terkait buah-buahan yang dijual sejumlah pedagang yang diduga matang setelah diperam dengan bahan dasar kimia itu menjadi keluhan konsumen.  Salah satunya menimpa Trie Muliadi, warga Petung, Kecamatan Penajam, PPU. Ia mengaku kerap membeli buah, terutama pisang yang masak tidak wajar. “Kesannya matang, tapi saat dimakan rasanya hambar,” kata Trie Muliadi. 

Kaltim Post pun turut membuktikan dengan membeli beberapa pepaya. Buah yang dibeli harian ini tampak merah matang, tetapi saat dibelah ternyata masih mentah. Saat ditunggu beberapa hari buah tersebut layu dan membusuk. Saat dibelah dan dimakan daging buahnya terasa hambar dan asam. 

Buah-buahan yang matang diduga melalui proses kimiawi itu menggunakan zat seperti ethylene, ethephon, dan bethylene sangat berbahaya untuk kesehatan manusia. “Demi kesehatan masyarakat, negara harus hadir, dan harus memberi perlindungan kepada konsumen dengan cara melalui dinas teknis secara berkala melakukan razia ke pedagang,” kata Direktur RSUD Raden Aji Putri Botung Penajam Paser Utara (PPU)  Lukasiwan Eddy Saputro. 

Medikus kesehatan ini mengatakan, bahan-bahan kimia seperti pada proses pematangan buah itu sangat berbahaya apabila ditelan manusia. Saya juga usulkan agar dinas teknis merazia penjual pentol, jangan sampai mengandung zat pengawet boraks,” katanya. (ari/rdh/k16)