PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan dan Polda Kaltim akan mengejar pemberian vaksinasi dosis 2. Langkah ini diambil setelah melihat jarak capaian dosis 1 dan dosis 2 cukup jauh.

Berdasarkan data 15 November, capaian vaksinasi dosis 1 sebesar 93,44 persen dari vaksin program dan vaksin gotong royong. Sementara dosis 2 masih 69,28 persen. Kepala DKK Balikpapan Andi Sri Juliarty menuturkan, pihaknya telah rapat bersama kapolda Kaltim dan hasilnya perlu percepatan pemberian vaksinasi dosis 2.

“Karena capaian antara dosis 1 dan dosis 2 terdapat gap jauh. Solusinya kami buka di Dome untuk layanan dosis 2 dari mana saja,” sebutnya. Dia menjelaskan, bagi siapa saja yang vaksin dosis 2 masih tertinggal bisa datang ke sentra vaksinasi Dome.

“Kalau dulu saat vaksin dosis 2 terkendala sakit atau berhalangan. Jadi belum dapat dosis 2 segera lapor,” katanya. Namun rencananya petugas vaksin akan banyak datang ke gerai vaksinasi. Sehingga tidak lagi dilakukan secara massal seperti di Dome.

Ibaratnya sistem jemput bola, apalagi tim Polri memiliki mobil presisi untuk mencari warga yang belum mendapat suntikan vaksin dosis 2. Saat ini segala jenis vaksin tersedia. “Arahan dari pusat selesaikan dosis 2 vaksinasi Sinovac dan AstraZeneca yang banyak ketinggalan,” imbuhnya.

Sehingga sementara ini, pihaknya tidak membuka dulu pendaftaran vaksinasi dosis 1 jenis Sinovac. “Kalau sekarang ada kesulitan mendapat sasaran banyak lagi,” tuturnya. Mengingat jumlah sasaran yang belum mendapat vaksin semakin berkurang.

Contoh jika dibuka gelaran vaksinasi massal dengan kuota 3.000 orang, biasanya yang datang hanya 1.000 orang. Total capaian vaksin baik program maupun gotong royong sudah 93 persen. Berarti warga yang belum vaksin tinggal 7 persen. “Jadi kami masih mencari terus,” ungkapnya.

Begitu pula, vaksin ibu hamil juga masih berjalan terus di tiga rumah sakit. Di antaranya RS Sayang Ibu, RSUD Beriman, dan RSIA Asih. “Kita arahkan di rumah sakit agar bisa sekalian kontrol periksa kehamilan,” sebutnya. Dia menambahkan, sejauh ini tidak ada penolakan vaksin.

Namun ada warga masih ragu mengikuti vaksin dengan alasan memiliki penyakit lain. Misalnya pernah struk, pasang ring jantung, diabetes, kemoterapi, dan sebagainya. “Tapi jangan ragu dan diam, datang ke dokter yang merawat selama ini dulu agar dokter lihat kondisi dan memberi saran,” bebernya.

Apalagi nantinya saat mau mendapat suntikan vaksin, peserta juga tetap harus melewati screening terlebih dahulu. Sehingga pemberian vaksin tetap dilakukan jika peserta dalam kondisi fit dan siap mendapat suntikan dosis vaksin. (gel)