Karir bek kiri Manchester City Benjamin Mendy mandek musim ini. Baru turun dalam dua laga, pemain 27 tahun itu tersandung masalah hukum yang membuat dia dipenjara hampir tiga bulan terakhir.

 

 

MENDY menerima gaji GBP 90 ribu atau setara Rp 1,7 miliar per pekan sejak berkostum City. Tepatnya setelah diboyong dari AS Monaco dengan nominal transfer GBP 52 juta (Rp 997,6 miliar) pada 24 Juli 2017.

Dengan bayaran tinggi tersebut, pemain kelahiran Longjumeau, Prancis, tersebut terbuai dengan kesenangan. Performanya tidak stabil dan ditengarai karena kehidupannya di luar lapangan yang kurang terkontrol.

Puncaknya adalah pada 26 Agustus 2021 atau ketika kepolisian Cheshire menangkap Mendy dengan empat tuduhan pemerkosaan dan satu tuduhan penyerangan seksual. Salah satunya terjadi di rumah mewahnya di Cheshire.

Perbuatan tercela Mendy diduga dilakukan terhadap dua perempuan berbeda dalam rentang antara Oktober 2020 sampai Agustus 2021. Usia perempuannya yang masih muda, sekitar 17 tahun, makin memberatkan kasus Mendy.

Buktinya, permohonan untuk dilepas dengan jaminan telah ditolak sampai tiga kali. Alhasil, Mendy tetap mendekam di penjara Altcourse, Liverpool, sampai jadwal persidangan digelar pada 24 Januari 2022.

Nah, di sela menanti agenda sidang, Mendy dikejutkan dengan tambahan dua dakwaan pemerkosaan berikutnya berdasar keterangan yang dirilis oleh Pengadilan Stockport awal pekan ini. Fakta terbaru itu tak pelak membuat karir Mendy di City musim ini sudah tamat. ”Manchester City tunduk terhadap proses hukum. Selama proses hukum berlangsung, pemain yang bersangkutan (Benjamin Mendy, Red) dikeluarkan dari tim,” bunyi pernyataan resmi City seperti dilansir BBC.

Mendekam di penjara, tentu saja, tidak enak. Selain waswas menanti tuntutan, Mendy menghuni salah satu penjara paling menyeramkan di Inggris. The Sun melansir, penjara Altcourse memiliki kasus keributan narapidana lumayan tinggi.

Setahun terakhir, ada 338 insiden keributan yang melibatkan para narapidana. Jika dirata-rata, ada 29 insiden dalam sebulan.

Dari jumlah tersebut, 21 di antaranya dilakukan oleh napi, khususnya geng paling berkuasa di penjara. Delapan lainnya oleh staf penjaga yang terpancing emosi.

Memang, sel Mendy berada di kategori yang terpisah dengan para napi yang suka bikin onar atau biasa dijuluki ”berjam terbang tinggi”. Meski begitu,bukan berarti dia bakal aman sepenuhnya dari gangguan keributan sampai jadwal persidanganya tiba.

Di sisi lain, efek dipenjaranya Mendy membuat Mendy-Mendy lain kena getahnya. Antara lain dua pesepak bola dengan nama belakang yang sama, masing-masing kiper Chelsea Edouard Mendy dan bek kiri Real Madrid Ferland Mendy.

Itu berawal dari beberapa foto di portal berita yang memajang foto mereka tetapi dengan isi berita dari kasus Benjamin. Alhasil, hal itu menimbulkan mispersepsi dan menyulut emosi Edouard dan Ferland.

“Sedih melihat bahwa pada 2021, di Prancis dan juga di Inggris, bagi sebagian orang-orang, mereka yang nberkulit hitam tidak memiliki nama atau wajah yang berbeda,” sindir Edouard dalam unggahan Instastory.

”Kesalahan foto-foto itu mungkin tampak seperti lelucon. Tapi, sebenarnya malah kebalikannya. Justru sangat simbolis,” lanjut Edouard yang secara garis keluarga masih termasuk sepupu Benjamin. (io/dns)