SAMARINDA–Konsumsi masyarakat pada akhir tahun diprediksikan tumbuh lebih tinggi, seiring momen hari besar keagamaan nasional (HBKN). Namun, pertumbuhan konsumsi tidak akan mampu mengerek pertumbuhan ekonomi Benua Etam. Sebab, pertumbuhan konsumsi belum bisa mengimbangi penurunan tren kinerja pertambangan pada akhir tahun.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, akhir tahun konsumsi masyarakat pasti lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal itu berasal dari peningkatan konsumsi pemerintah yang melakukan percepatan realisasi anggaran, dan konsumsi rumah tangga juga tumbuh positif seiring dengan masuknya periode liburan akhir tahun. Sehingga konsumsi dan mobilitas akan lebih tinggi.

“Pada triwulan terakhir konsumsi masyarakat akan tumbuh lebih tinggi, seiring melonggarnya kasus Covid-19. Namun belum bisa mengimbangi turunnya kinerja pertambangan. Seperti yang kita ketahui bersama, pertambangan masih memiliki kontribusi sangat besar terhadap ekonomi Kaltim,” jelasnya, Kamis (18/11).

Dia mengatakan, konsumsi masyarakat relatif kecil kontribusinya terhadap struktur ekonomi Benua Etam. Sebab, struktur yang paling besar berasal dari ekspor batu bara dan kinerja industri pengolahan. Pada akhir tahun, kinerja pertambangan diprediksikan akan sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya.

Saat ini, puncak tingginya perekonomian Kaltim dianggap sudah lewat. Pada triwulan III ekonomi berhasil tumbuh 4,51 persen (yoy). Sayangnya pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan triwulan II yang mencapai 5,76 persen (yoy). “Sehingga pada akhir tahun diprediksikan ekonomi masih akan tumbuh positif. Namun akan lebih rendah dibandingkan triwulan III,” ungkap Tutuk.

Menurut dia, itu sudah sesuai dengan prediksi awal, bahwa pada triwulan III dan IV ekonomi akan tumbuh lebih rendah. Puncak tingginya ekonomi Kaltim terjadi pada Triwulan II 2021. Triwulan II menjadi puncak pertumbuhan ekonomi, karena tingginya permintaan komoditas utama Kaltim di negara tujuan.

Lalu adanya hari besar keagamaan pada periode itu. Pada triwulan ketiga, sudah tidak ada hari besar bagi negara pengimpor batu bara Kaltim, diimbangi dengan penggunaan minyak dan gas yang menurun.

Harga batu bara pada triwulan IV memang masih sangat tinggi. Tapi volumenya tidak bisa terlalu tinggi. Masih banyak kendala lain di sektor batu bara, salah satunya pengadaan alat berat. Sehingga ada beberapa persoalan yang membuat pertambangan batu bara, tidak bisa secepat itu menaikkan kinerja emas hitam.

“Produksi kita tidak bisa mengikuti tingginya harga batu bara. Akibat masih ada beberapa kendala tadi. Selain itu juga terbatas kuota yang diatur pemerintah,” tuturnya.

Sehingga perekonomian pada triwulan IV akan tumbuh lebih rendah. Meski pada triwulan terakhir konsumsi masyarakat tumbuh lebih tinggi. Seiring melonggarnya kasus Covid-19 dan tingginya mobilitas masyarakat.

“Penurunan aktivitas pertambangan pada akhir tahun akan sangat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Kaltim, walaupun konsumsi masyarakat sedang tinggi,” terangnya. (ctr/rom/k8)