Keluhan terhadap kondisi buah-buahan dan bahan pangan lain yang terkontaminasi kimiawi, kian mengemuka. Ini patut ditertibkan karena membahayakan kesehatan manusia. 

 

PENAJAM - Buah-buahan yang matang melalui proses kimiawi dengan penggunaan zat seperti ethylene, ethephon, dan bethylene sangat berbahaya untuk kesehatan. Terutama untuk jangka panjang.

Demi kesehatan masyarakat, negara harus hadir dan memberi perlindungan kepada konsumen. Instansi teknis diminta melakukan razia secara berkala. Demikian dijelaskan Direktur RSUD Raden Aji Putri Botung Penajam Paser Utara (PPU) Lukasiwan Eddy Saputro, kemarin.

Ia menanggapi pemberitaan media ini berkaitan keluhan sejumlah konsumen di PPU yang membeli buah-buahan pada pedagang, yang diduga matang bukan secara fisiologis, tetapi akibat proses kimiawi.

“Bahan-bahan kimia seperti pada proses pematangan buah itu sangat berbahaya apabila ditelan manusia. Saya juga usulkan agar dinas teknis merazia penjual pentol, jangan sampai mengandung zat pengawet boraks,” katanya.

Diungkapkannya, dalam jumlah tertentu, boraks pada makanan dan dimakan manusia bisa menyebabkan gangguan kesehatan serius. Di antaranya, gangguan lambung, usus, hati, dan gagal ginjal yang akhirnya berujung pada kematian.

“Jadi, saya kira, perlu juga ada razia menyeluruh terhadap pedagang buah, sayur, pentol, dan depot air minum isi ulang, agar semua sehat,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian PPU Mulyono, kemarin, mengimbau petani dan pedagang tidak perlu mematangkan buah-buahan yang dijual kepada masyarakat dengan cara karbitan melalui proses kimiawi. Alasannya, rantai pasokannya dari kebun ke pedagang tidak terlalu panjang.

Diharapkan petani menjual buah-buahan ke pedagang sudah dalam kondisi matang ke pedagang, dan pedagang menjualnya secara alami ke konsumen.

“Atau petani menjual buah dalam kondisi setengah matang, sehingga pedagang memiliki waktu untuk memasarkannya ke pembeli. Karena kalau terlalu matang, bisa cepat busuk saat dipasarkan oleh pedagang dan bisa menimbulkan kerugian,” katanya.

Trie Mulyadi, warga Petung, Kecamatan Penajam, PPU, seperti dilansir media ini, kemarin, mengeluhkan pembelian buah dari pedagang yang ciri-cirinya seperti hasil pengeraman dengan bahan kimia.

“Iya, saya pernah mengalami beli buah yang diproses kimia. Rasanya sangat beda. Biasanya, pisang. Kalau sayur, belum mengalami,” kata Trie Muliadi.

Sejumlah warga yang mengaku punya pengalaman sama dengan Trie Mulyadi juga menginformasikannya kepada koran ini. “Saya beberapa kali membeli pepaya. Tampak merah merona. Namun, saat dibelah ternyata masih mentah. Kalaupun tampak masak rasanya hambar,” kata warga Penajam yang menolak namanya disebutkan dalam pemberitaan. (ari/kri/k16)