Harga minyak goreng melonjak dalam beberapa bulan terakhir. Di Kaltim, harga minyak curah tercatat di level Rp 12 ribu per liter, sedangkan minyak kemasan rata-rata mencapai Rp 16 ribu per liter. Kenaikan ini disebut-sebut karena tingginya harga bahan baku.

 

SAMARINDA–Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar mengatakan, salah satu penyebab naiknya harga minyak goreng adalah harga crude palm oil (CPO) yang sedang tinggi. Untuk diketahui, CPO menjadi salah satu bahan baku minyak goreng. Tentunya memengaruhi harga jual minyak goreng.

Pada Oktober lalu, harga minyak goreng bahkan sempat menyentuh Rp 19–20 ribu per liter. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) hanya Rp 12 ribu per liter. “Harga minyak goreng memang sangat bergantung pada bahan baku CPO,” jelasnya, Selasa (16/11).

Dia menjelaskan, harga CPO tercatat terus meningkat karena banyaknya gangguan pasokan minyak nabati. Seperti terjadi gangguan panen dari Canada dan Argentina sebagai pemasok minyak Canola terbesar. Produksinya turun sekitar 7 persen yang menyebabkan pasokan dunia terganggu. Selain itu, produksi CPO Malaysia turun sekitar 8 persen, karena kekurangan tenaga kerja imbas pandemi.

Selain itu, krisis energi pada beberapa negara seperti India, Tiongkok, Eropa yang mengalihkan ke bioenergy, termasuk biodiesel. Sehingga konsumsi bahan bakar dari minyak sawit melonjak dan menumbuhkan permintaan yang besar. Tingginya harga CPO sebagai bahan dasar minyak goreng, membuat harganya melambung.

“Menurunnya produksi menyebabkan harga kembali meningkat. Tapi saat ini minyak goreng sudah mulai melandai, karena pemerintah juga sudah terus memastikan stok dalam negeri tercukupi sehingga harga minyak goreng tidak meningkat,” tuturnya.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengapresiasi komitmen produsen menyediakan minyak goreng kemasan sederhana sebanyak 11 juta liter dengan harga Rp 14 ribu per liter di tengah kenaikan harga minyak goreng.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, minyak goreng seharga Rp 14 ribu per liter disediakan oleh produsen yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) bekerja sama dengan ritel modern anggota Aprindo.

Oke menyebut, penyediaan minyak goreng kemasan sederhana dengan harga terjangkau dilakukan minimal hingga jelang Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru). "Penyalurannya dimulai awal November di AEON Jakarta Garden City dan segera diikuti ritel modern lainnya, dengan penjualan dibatasi 1 kemasan per orang per hari," terangnya dalam keterangan resmi, Selasa (16/11).

Kenaikan harga minyak goreng, sambung dia, imbas dari kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) selaku bahan baku minyak goreng. "Diharapkan, produsen minyak goreng lainnya mengikuti untuk menambah ketersediaan minyak goreng kemasan sederhana dengan harga terjangkau," jelasnya.

Berdasarkan pantauan Kemendag, harga minyak goreng per 12 November 2021 tercatat sebesar Rp 16.500 per liter untuk jenis curah, Rp 16.800 per liter untuk minyak goreng kemasan sederhana, dan Rp 18.300 untuk minyak goreng kemasan premium.

Kemendag telah menetapkan harga acuan penjualan minyak goreng dalam kemasan sederhana Rp 11 ribu per liter. Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. (ctr/ndu/k8)