Pandemi Covid-19 memang sudah mereda. Namun, kasus ini pernah tinggi-tingginya pada pertengahan 2021. Virus turut menyeberang jauh ke daerah terpencil di Kepulauan Balabalagan, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

 

ROMDANI, Mamuju

 

AZAN berkumandang, tanda salat Jumat telah tiba. Siang itu kapal yang ditumpangi Kaltim Post bersama sembilan pemancing dan tiga kru kapal lainnya tiba di Pulau Sabakkatang, Kepulauan Balabalagan, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Pada Jumat (27/8), rombongan pemancing dari Balikpapan mengunjungi pulau itu.

Jembatan dermaga menyambut kedatangan kapal. Jembatan itu memiliki panjang sekitar 1 kilometer menuju pulau. Pemancing yang beragama muslim langsung ke masjid untuk menunaikan salat Jumat.

Namun yang sedikit mengejutkan, nyaris tak ada warga yang mengenakan masker. Bisa jadi, karena minimnya informasi terkait protokol kesehatan Covid-19. Hingga mungkin minimnya ketersediaan masker di pulau itu. Sementara para rombongan pemancing tetap mengenakan masker. Salat Jumat di masjid pun tetap berjalan khusyuk.

Setelah salat Jumat, para rombongan menyempatkan istirahat di Pulau Sabakkatang selama beberapa menit. Di sana mereka mengobrol dengan penghuni pulau. Termasuk dengan Andi Kayyang, tokoh masyarakat setempat.

Andi juga menawarkan para pemancing minum kelapa muda yang dipetik langsung dari pohon. Siang itu, Andi meminta para pemuda di sana memanjat kelapa. Setelah mendapatkan kelapa dari para pemuda itu, para pemancing langsung mengupas sendiri. “Segar. Pas di cuaca panas seperti ini,” kata Agus Suriyadi, pemancing.

Andi mengatakan, minum kelapa adalah kebiasaan warga di pulau. Terlebih saat penyakit Covid-19 merebak. Meminum air kelapa seperti jadi hal yang rutin dilakukan saban hari oleh warga sekitar.

Pada saat kasus Covid-19 tengah tinggi-tingginya di berbagai daerah, dirinya sampai saat ini belum pernah mengetahui ada warga Pulau Sabakkatang yang terkena Covid-19. Bisa jadi tidak diketahui, karena memang tidak pernah dilakukan tes Covid-19.

Meski demikian, Andi menyebut, ada warga yang pernah demam lalu tidak bisa mencium aroma dan merasakan makanan. “Ciri-cirinya seperti Covid-19. Akhirnya mereka mandi ke laut setiap hari. Lama-lama sembuh sendiri,” bebernya.

Aktivitas itu kemudian menjadi kepercayaan warga setempat. Di mana ketika ada penyakit yang menyerupai Covid-19, mereka cukup berendam dan berjemur di pantai setiap pagi. Setelahnya minum air kelapa muda. Begitu seterusnya selama sepekan. “Saya juga pernah tak bisa mencium bau. Mungkin ini Covid-19. Bangun tidur, saya langsung berenang di laut. Juga berjemur setiap hari,” tuturnya.

Berenang laut dan berjemur di pantai menjadi pilihan, karena memang tidak ada tenaga medis di Pulau Sabakkatang. Ada puskesmas pembantu, namun tidak ada tenaga medisnya. “Sebenarnya ada perawat. Tapi lebih sering di kota (Mamuju) ketimbang di pulau,” ungkapnya. “Puskesmas terdekat ada di Pulau Salissingan,” sambungnya.

Andi menuturkan, tahun lalu awal-awal pandemi Covid-19, warga sempat menutup Pulau Sabakkatang dari warga luar. “Sekitar empat bulan kami tidak menerima warga luar. Ini untuk mengantisipasi persebaran virus,” ucapnya.

Adapun, Pulau Sabakkatang kini dihuni sekitar 200 kepala keluarga dengan 600 jiwa. Mayoritas mata pencarian warga sekitar adalah nelayan. Pulau ini juga memiliki dua dusun, yakni Dusun Olo dan Dusun Lere. (rom/k8)