JAKARTA–Tujuh rekening dengan nilai mencapai Rp 217 miliar disita dalam pengungkapan pinjaman online (pinjol) ilegal bernama Kredit Kilat. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim mengamankan 13 orang, mulai pemilik, direktur, hingga desk operator.

Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Whisnu Hermawan menuturkan, pinjol Kredit Kilat dan Kredit Kilat Pro ini dalam penagihannya melakukan berbagai tindak pidana. Mulai pengancaman, penghinaan, penistaan dan mengirimkan gambar asusila. "Saat didalami, penerima uang dan pengirim uang itu PT AFT," beber dia, (16/11).

Aplikasi Kredit Kilat bermitra dengan koperasi simpan pinjam Inovasi Milik Bersama (KSP IMB). Whisnu menuturkan, KSP IMB melalui aplikasi Kredit Kilat menawarkan pinjaman dan bekerja sama dengan PT AFT sebagai perusahaan penyelenggara transfer dana (PTD). “KSP IMB dan PT AFT ini menggunakan jasa desk collection untuk menagih dengan berbagai pidana yang dilakukan,” jelasnya.

Dalam kasus tersebut, ditangkap 13 orang. Yakni, WJS, JMS, GCY, RJ, JT, AY, AL, VN, HH, HC, MHD, HLD, dan MLN. Tiga orang petingginya merupakan warga negara asing. Yakni, WJS, JMS, dan GCY yang berasal dari Tiongkok.

WJS merupakan pengendali dari KSP IMB yang melakukan rekrutmen untuk mengembangkan KSP IMB. “Juga mencari pinjol ilegal untuk menjadi mitra KSP IMB,” tuturnya.

Lalu, JMS adalah direktur dari PT AFT. Perannya membantu mendapatkan lisensi jalur pembayaran dan mengirim dana keluar negeri. "Lalu, GCY berperan mengetahui dan bertanggung jawab atas sistem integrasi data dan dana PT AFT dengan pemilik KSP IMB," ungkapnya.

Polisi menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya, 122 modem, 17 CPU, 8 laptop, 1 kotak sim card, dan berbagai akta perusahaan PT AFT. Juga disita tujuh rekening yang menjadi tempat penyimpanan uang dari PT AFT. Nilai uang yang tersimpan dalam ketujuh rekening itu mencapai Rp 217 miliar.

Sementara itu, maraknya praktik pinjol ilegal dan merugikan masyarakat juga menjadi perhatian Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Baznas tidak menyoroti pelaku, tetapi korbannya. Saat ini Baznas sedang menggodok regulasi kucuran bantuan dana zakat untuk membantu masyarakat korban pinjol. Rencananya program ini digulirkan mulai 2022.

Ketua Baznas Noor Achmad mengatakan, dana zakat untuk membantu korban pinjol diambil dari dana zakat untuk asnaf gharimin. Yaitu, orang-orang yang terjerat utang untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Jadi, Noor menegaskan, yang nanti bisa dibantu dana zakat adalah masyarakat korban pinjol untuk kebutuhan pokok sehari-hari. “Pelaku (peminjam atau korban) pinjol untuk kebutuhan konsumtif dan bukan kebutuhan pokok sehari-hari tidak termasuk asnaf gharimin,” tuturnya. (idr/JPG/rom/k8)