Ulah oknum pedagang buah-buahan dan sayur-sayuran jadi sorotan di PPU. Banyak yang diduga menggunakan zat kimia, sehingga berbahaya bagi kesehatan. Perlindungan terhadap konsumen patut menjadi perhatian.

 

PENAJAM - Masyarakat diimbau berhati-hati saat membeli buah dan sayur. Pasalnya, beberapa warga Penajam Paser Utara (PPU) menginformasikan telah membeli sayur atau buah yang diduga berkimiawi.

“Saya beberapa kali membeli buah pepaya. Tampak merah merona. Namun, saat dibelah ternyata masih mentah. Kalaupun tampak masak rasanya hambar,” kata warga Penajam yang menolak namanya disebutkan dalam pemberitaan, kemarin.

Ia khawatir ada perbuatan oknum pedagang tertentu yang bertindak curang dengan menyulap buah muda dengan proses kimiawi. Koran ini sebenarnya sudah menerima informasi serupa pada beberapa waktu lalu. Untuk membuktikan, Kaltim Post mencoba membeli dua pepaya yang terlihat matang (merah).

Namun, saat dibelah ternyata masih mentah. Saat ditunggu sampai masak rasanya hambar. Hanya, belum diketahui apakah pepaya yang dibeli media ini telah melalui proses kimiawi yang dapat mengganggu kesehatan.

Pengalaman membeli buah diduga proses pematangannya melalui kimiawi dialami warga Petung, Kecamatan Penajam, PPU Trie Muliadi. “Iya, saya pernah mengalami beli buah yang diproses kimia. Rasanya sangat beda. Biasanya, pisang. Kalau sayur, belum mengalami,” kata Trie Muliadi, kemarin.

Referensi nama-nama kimia yang bisa digunakan untuk mematangkan buah-buahan didapatkan media ini dari The Times of India. Misalnya, bahan kimia bernama ethylene, ethephon, dan bethylene. Kimia ini bekerja membuat buah-buah matang sebelum waktunya.

Namun, senyawa yang terdapat di dalamnya dapat memengaruhi saraf pada manusia dan dalam jangka panjang dapat merusak organ vital. Contohnya, ethylene dapat memengaruhi fungsi penglihatan, kulit, paru-paru, daya ingat, dan memperparah penyakit hypoxia. Yaitu kurangnya suplai oksigen dalam tubuh manusia.

Direktur Buah dan Florikultura, Ditjen Hortikultura, Liferdi Lukman pun mengingatkan agar warga berhati-hati saat membeli buah. Jangan sampai membeli buah dengan proses kimia. Ciri-ciri buah yang terlihat matang karena proses kimia, yaitu warna buah tampak seragam, tampilannya pucat, aroma buahnya ringan, dan rasa hambar.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) PPU Sukadi Kuncoro mengaku telah menerima keluhan warga terkait hal ini. Namun, akibat keterbatasan peraturan, pihaknya tidak berhak melakukan razia.

“Undang-Undang Nomor 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah kewenangannya terkait hal ini dilimpahkan ke pemerintah provinsi. Namun, saya segera menyurat untuk melakukan razia di PPU,” kata Sukadi Kuncoro, kemarin.

Tidak hanya informasi tentang buah yang dijual diduga berkimia, harian ini, kemarin, juga menerima permintaan masyarakat agar dinas atau instansi terkait melakukan razia terhadap maraknya depot air isi ulang yang diduga menjual air tidak memenuhi standar kebersihan dan higienis.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) PPU Jansje Grace Makisurat yang dihubungi kemarin menjelaskan, pihaknya mengeluarkan sertifikat laik sehat, dan seharusnya terpampang di masing-masing depot yang sudah memiliki sertifikat.

“Untuk data depot air minum di PPU berjumlah 187 sarana. Kalau yang berizin kami belum dapat data dari perizinan. Yang dibina atau diinspeksi kesehatan lingkungan 80 sarana,” ujar Jansje Grace Makisurat.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) PPU Alimuddin yang dihubungi koran ini, kemarin, tidak menjawab saat diminta konfirmasi berkaitan jumlah perizinan yang diterbitkan kepada depot air minum isi ulang yang beroperasi di daerah ini. (ari/kri/k16)