Bisnis prostitusi online seakan tumbuh subur di Samarinda, khususnya area Samarinda Kota. Tak sampai sepekan setelah sebelumnya meringkus tiga pelaku bisnis prostitusi Jumat (12/11) lalu, jajaran Polsek Samarinda Kota membongkar bisnis terselubung tersebut.

 

SAMARINDA–Dalam pengungkapan, terduga pelaku yang diamankan jauh lebih banyak. Ada 15 pelaku prostitusi online dari dua lokasi hotel berbeda diringkus. Para pelaku itu terdiri dari tujuh perempuan dan delapan laki-laki. Dari belasan tersangka, dua laki-laki di antaranya merupakan muncikari, sedangkan enam laki-laki lainnya berperan sebagai penjaga keamanan, sisanya wanita tuna susila (WTS). “Yang perempuan rata-rata sebagai pelaku prostitusi online. Jadi, mereka (muncikari) yang menawarkan korban kepada tamu dengan harga bervariasi, mulai harga Rp 300–500 ribu untuk sekali kencan," ungkap Kapolsek Samarinda Kota AKP Creato Sonitehe Gulo, (15/11).

Membongkar jaringan terselubung itu, ada pola teranyar yang ditemukan Korps Bhayangkara. Enam pria yang diamankan berperan sebagai penjaga ketika para WTS sedang menemani pria hidung belang. Tidak berperan untuk mencari pelanggan seperti muncikari. "Dari hasil penyelidikan kami, yang berperan sebagai penjaga adalah pasangan (pacar dari salah satu WTS). Bahkan ada yang suami siri (WTS). Jadi mereka memang sifatnya hanya untuk menjaga antara pelaku prostitusi online. Jadi bukan merupakan muncikari. Jadi berbeda konsep, dari delapan laki-laki itu, ada dua orang yang memang bertugas sebagai operator untuk menawarkan dan negosiasi kepada para calon-calon tamu, sementara enam yang lainnya sifatnya menjaga," terangnya.

Sementara itu, bagi para muncikari mendapatkan keuntungan Rp 50–150 ribu setiap ada transaksi. "Kalau dinilai (dijual) Rp 300 ribu dia (muncikari) akan mendapatkan Rp 50 ribu. Kalau dibayar Rp 400 ribu, muncikari dibayar Rp 100 ribu, dan apabila dinilai (dijual) Rp 500 ribu, si muncikari akan dapat Rp 150 ribu," tambah Gulo.

Meski ditangkap pada hari yang sama, rupanya para pelaku berasal dari kelompok berbeda. Sebab, dalam praktiknya para penjaga dan muncikari tak tinggal dalam satu kamar bersama WTS.

"Biasanya muncikari dan para penjaga, tidur sekamar dengan para pelaku prostitusi online. Ketika tamu datang mereka keluar, jadi mereka bukan dari kelompok yang sama dan mereka dari kelompok yang berbeda. Rata-rata mereka kalau untuk penjaga tidak ada fee. Mereka biasanya hanya diberi makan dan tempat tidur," lanjut pria yang pernah menjabat wakil kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Samarinda itu.

Gulo melanjutkan, ketika diusut lebih dalam, rupanya bisnis prostitusi itu tak hanya dilakoni di Kota Tepian. Para pelaku kerap berpindah-pindah kota. "Biasanya mereka selama dua minggu akan berpindah-pindah tempat, seperti Balikpapan, Samarinda dan Berau," ungkapnya.

Hasil pemeriksaan juga diketahui, dari 15 pelaku prostitusi online, sebagian besar merupakan warga pendatang. Kebutuhan ekonomi merupakan motif para pelaku prostitusi online melakoni bisnis haram tersebut. "Ada beberapa orang Samarinda, tapi lebih banyak yang dari luar. Alasan mereka berpindah-pindah untuk mencari tempat yang ramai. Untuk sementara dari keterangan yang kami dapatkan hanya ada tiga tempat itu yang menjadi tujuan utama. Untuk motif rata-rata perempuan yang tertangkap berstatus janda, dan rata-rata sudah mempunyai anak dan memiliki perekonomian yang menengah ke bawah. Jadi kebutuhan ekonomi yang menjadi dasar untuk melakukan bisnis ilegal itu. Dan untuk sementara kasus masih terus didalami," pungkasnya. (*/dad/dra/k8)