Rusdi

*Dosen Program Studi D-3 Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

 

Salah satu permasalahan lingkungan yang terjadi pada suatu wilayah adalah masalah sampah. Sampah merupakan masalah penting yang dapat merusak keseimbangan ekosistem lingkungan. Berdasar perhitungan Bappenas dalam buku infrastruktur Indonesia pada 1995, perkiraan timbulan sampah di Indonesia sebesar 22,5 juta ton dan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2020 menjadi 53,7 juta ton.

Jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi mengakibatkan bertambahnya jumlah sampah. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Pasal 1, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.

 Penumpukan sampah harus ditanggulangi melalui pengolahan sampah. Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a meliputi kegiatan: a. pembatasan timbulan sampah; b. pendauran ulang sampah; dan/atau c. pemanfaatan kembali sampah.

Pengelolaan sampah belum dapat dilakukan secara terpadu. Artinya, meskipun rumah tangga telah memisahkan antara sampah organik dan anorganik, namun pada TPA, sampah masih tetap bercampur, sehingga seolah pemisahan sampah di tingkat rumah tangga tersebut tidak ada gunanya. Oleh karena itu, pengelolaan sampah masa kini diharapkan dapat berlangsung dari sumbernya, misalnya rumah tangga.

Dewasa ini, pengelolaan sampah di masyarakat masih bertumpu pada pendekatan akhir (end of pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah. Padahal, timbunan sampah dengan volume yang besar di lokasi tempat pemrosesan akhir sampah berpotensi melepas gas metan (CH4) yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Penguraian sampah melalui proses alam memerlukan jangka waktu yang lama dan penanganan dengan biaya yang besar.

Paradigma pengelolaan sampah yang bertumpu pada pendekatan akhir sudah saatnya ditinggalkan dan diganti dengan paradigma baru pengelolaan sampah. Paradigma baru memandang sampah sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan. Pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dari hulu, sejak sebelum dihasilkan suatu produk yang berpotensi menjadi sampah, sampai ke hilir, yaitu pada fase produk sudah digunakan sehingga menjadi sampah, yang kemudian dikembalikan ke media lingkungan secara aman.

Pengelolaan sampah dengan paradigma baru tersebut dilakukan dengan kegiatan pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan, penggunaan kembali, dan pendauran ulang, sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir.

Jenis sampah organik rumah tangga menempati proporsi paling besar dari total produksi sampah. Sampah organik setiap hari selalu dihasilkan oleh rumah tangga di Indonesia. Sampah organik apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar sampah tersebut.

Seperti diketahui, sampah organik yang menumpuk akan membusuk dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap, sehingga mengundang berbagai vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, tikus dan kecoa. Selain itu, sampah yang dibuang sembarangan, misalnya ke selokan atau sungai akan menghambat aliran air. Akibatnya sampah tersebut bertumpuk, sehingga aliran air tersumbat dan akan mengakibatkan banjir. Namun, tidak semua sampah itu tidak berguna. Beberapa jenis sampah organik masih dapat diolah, sehingga memiliki nilai ekonomis.

Di masa pandemi Covid-19, persoalan sampah khususnya sampah dari jenis organik masih belum dapat dikendalikan secara efektif dan efisien, ditambah efek yang dimunculkan dari kondisi pandemi Covid-19 membuat kondisi perekonomian masyarakat Indonesia dapat dikatakan kurang stabil, bahkan tidak sedikit masyarakat Indonesia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga berimbas meningkatnya angka penggangguran.

Dua persoalan ini yakni sampah dan ketidakstabilan perekonomian masyarakat Indonesia di masa pandemi Covid-19 ini menjadi acuan untuk kembali menstabilkan lingkungan dengan pemberdayaan pengolahan sampah organik penghasil eco-enzyme yang berpotensi sebagai hand sanitizer untuk menjadi produk yang dapat dikembangkan sebagai bagian solusi dalam perbaikan ekonomi masyarakat juga sekaligus sebagai penunjang kesehatan masyarakat.

Dalam penerapan pengolahan sampah organik penghasil eco-enzyme, tentunya masyarakat dipahamkan terlebih dahulu tentang eco-enzyme serta cara pembuatannya. Advokasi yang diberikan kepada masyarakat diharapkan menjadi motivasi dalam membangun kesadaran dalam pemanfaatan sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, terutama masyarakat yang terdampak dari pandemi Covid-19, sehingga dapat menjadi alternatif sarana penunjang perekonomian rakyat.

Eco-enzyme pertama kali diperkenalkan oleh Dr Rosukon Poompanvong, yang merupakan pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand. Gagasan proyek ini adalah untuk mengolah enzim dari limbah atau sampah organik yang biasanya kita buang ke dalam tong sampah, menjadi pembersih organik, atau bahan pembersih rumah tangga. Eco-enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah, kulit buah, dan sayuran, gula (gula cokelat, gula merah atau gula tebu), dan air.

Warnanya cokelat gelap dan memiliki aroma fermentasi asam manis yang kuat. Namun, walau ramah lingkungan, eco-enzyme tidak untuk dikonsumsi. Eco-enzyme dapat menjadi cairan multiguna dan aplikasinya meliputi rumah tangga, pertanian, dan peternakan. Pada dasarnya, eco-enzyme mempercepat reaksi biokimia di alam untuk menghasilkan enzim yang berguna menggunakan sampah buah atau sayuran. Enzim dari “sampah” ini salah satu cara manajemen sampah yang memanfaatkan sisa-sisa dapur untuk sesuatu yang sangat bermanfaat.

Eco-enzyme memiliki berbagai manfaat salah satunya berpotensi sebagai hand sanitizer (Yuliono, dkk., 2021). Mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang belum berakhir, dengan terus digalakkan upaya pencegahan tertularnya virus corona dengan penerapan protokol kesehatan.

Hand sanitizer yang ramah lingkungan dari olahan fermentasi limbah organik sangat baik sekali dimanfaatkan terutama di masa pandemi Covid-19 ini sebagai bentuk upaya dalam pencegahan penularan virus. Selain itu, produk hand sanitizer dapat menjadi ladang usaha dalam membantu perekonomian rakyat. (luc/k16)