BALIKPAPAN-Interkoneksi listrik antarpulau akan dikembangkan pemerintah. Program elektrifikasi yang turut menyasar negara ASEAN itu, dituangkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030. Rencana pembangunan super grid atau transmisi listrik jarak jauh bertegangan tinggi melalui bawah laut, akan dimulai setelah 2025.

Dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI serta dirut PT PLN (Persero) pada Senin (15/11), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif memaparkan, berdasarkan perencanaan yang disusun, ada empat kegiatan yang sudah masuk daftar proyek RUPTL. Yakni interkoneksi Sumatra-Bangka (2022) sebesar 150 Kv, dan interkoneksi Sumatra-Malaysia (2030) sebesar 500 Kv. Interkoneksi Sumatra-Malaysia untuk mendukung kerangka kerja sama ASEAN power grid.

Selanjutnya, interkoneksi Kalimantan (2023) sebesar 150 Kv, dan interkoneksi Sulbagut-Sulbagsel (Tambu-Bangkir pada 2024) sebesar 150 Kv. Sementara itu, interkoneksi Sumatra-Singapura (termasuk interkoneksi Sumatra-Bintan), dan interkoneksi Sumatra-Jawa, juga diperlukan kajian lebih lanjut untuk mempertimbangkan suplai dan demand sebesar 500 Kv. Demikian jug interkoneksi Bali-Lombok sebesar 150 Kv. Rencana lainnya yang perlu kajian lebih detail, interkoneksi Bangka-Belitung untuk mendukung rencana interkoneksi Sumatra-Kalimantan sebesar 150 Kv, interkoneksi Belitung-Kalimantan sebagai bagian dari program super grid nusantara, dan interkoneksi Baubau-Sulbagsel.

“Dan di tahun 2060 untuk major emission memerlukan EBT (Energi Baru Terbarukan) hingga mencapai 587 GW (Giga Watt) yang tersebar di seluruh Indonesia,” kata Arifin. Super grid adalah konsep untuk mentransmisikan listrik jarak jauh menggunakan tegangan tinggi arus searah (high voltage direct current/HVDC). Aplikasi ini muncul karena kelebihannya dalam mentransmisikan listrik bawah laut, bawah tanah dan lebih sedikit kerugian yang timbul.

Sehingga pembangunan pembangkit listrik bisa di daerah potensial lalu mentransmisikannya ke daerah yang membutuhkan. Dengan adanya transmisi super grid, energi potensial dari EBT juga diharapkan dimanfaatkan optimal. Seperti tenaga surya, air, geothermal, angin, dan bahkan nuklir yang dapat dikembangkan di daerah potensial, tanpa perlu dekat dengan puncak beban. Khusus untuk nuklir yang selalu dipertanyakan keamanannya. Sementara itu,

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menyampaikan, RUPTL 2021-2030 merupakan perencanaan yang paling green atau hijau yang pernah disusun PLN. Dengan tujuan mencapai carbon netral 2060. Dalam RUPTL tersebut, komposisi pembangkit EBT sebesar 51,6 persen. Sedangkan sisanya adalah pembangkit non-EBT. “Kemudian pembangkit EBT pengembangannya sebaiknya memperhitungkan keseimbangan supply dan demand, keseimbangan sistem, keekonomian, dan lainnya,” katanya. (kip/riz/k16)