Kaltim membutuhkan percepatan populasi sapi sebesar 650 ribu ekor agar mencapai swasembada daging. Saat ini jumlah indukan sapi di Kaltim masih sangat kecil, baru di kisaran 120 ribu ekor. Besarnya jarak ini memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk masuk.

 

SAMARINDA–Pemerintah sejatinya telah menjalankan berbagai program untuk menggenjot populasi sapi. Seperti upaya khusus percepatan populasi sapi dan kerbau bunting (upsus siwab), integrasi sapi di lahan perkebunan dan eks lahan pertambangan. Sayangnya bisnis peternakan belum banyak dilirik masyarakat, sehingga upaya tersebut belum berjalan maksimal.

Padahal, Kaltim berpotensi besar menjadi lumbung sapi nasional. Sebab, Kaltim memiliki keunggulan wilayah yang besar didukung luasan lahan potensial. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Munawwar mengatakan, bisnis peternakan di Kaltim sangat menjanjikan. Namun, tingginya permintaan pasar belum disambut oleh tingginya minat di sektor ini.

Walhasil, kebutuhan daging sapi 70 persen masih dipenuhi dari luar daerah. Sedangkan Kaltim hanya mampu menyuplai 27 persen kebutuhan daging sapi. “Untuk itu, peternakan sangat menarik untuk peluang bisnis. Apalagi sektor ini memberikan keuntungan yang lebih cepat dan tidak memerlukan investasi besar,” katanya, Senin (15/11).

Menurut dia, minimnya peminat di sektor ini karena masyarakat lebih memilih usaha yang praktis, cepat memberikan keuntungan. Meski pihaknya mengakui ada beberapa kendala seperti rencana tata ruang wilayah (RTRW). Saat ini lahan di Kaltim memang sangat luas dan potensial mengembangkan sapi, namun tidak spesifik untuk peternakan. Melainkan dalam RTRW mencakup pertanian dalam arti luas.

“Kita tetap berusaha mengoptimalkan kemandirian kebutuhan hewani, sebab sektor ini memang masih sangat potensial untuk dikembangkan,” pungkasnya.

Ditemui terpisah, Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengatakan, Kaltim terus mendorong pengembangan kegiatan peternakan. Banyak program yang terus ditekuni untuk penambahan produksi sapi, salah satunya melalui program integrasi sapi di lahan perkebunan dan eks lahan pertambangan. Hal itu masih menjadi jawaban untuk perkembangan sektor ini.

Dalam Pergub Kaltim Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pemberian Izin dan Non Perizinan di Bidang Pertambangan, Kehutanan, dan Perkebunan Kelapa Sawit ditargetkan menggembalakan 3.211 ekor dari 108 perusahaan tambang yang berkomitmen.

“Kita berharap, program ini terus berjalan agar pengembangan sapi di Kaltim terus bertambah. Kita akan imbau terus pelaku usaha agar membantu pengembangan sapi di Kaltim,” jelasnya Senin (15/11). (ctr/ndu/k8)