JAKARTA - Sektor logistik di Indonesia dikeluhkan sebagai sektor yang ”rumit”. Kendala logistik tak jauh dari kata-kata ’’tidak efisien’’, ’’overcost’’, dan sebagainya. Tentu tak mudah membereskan kompleksitas isu logistik dalam jangka pendek. Namun, upaya mewujudkan cita-cita logistik yang efisien sudah dimulai berbagai pihak. Digitalisasi diandalkan menjadi game changer menuju Logistik 4.0.

”Kita punya banyak handicap. Infrastruktur, dwelling time, sampai budaya pungli yang sudah mengakar, semua menjadi faktor tingginya biaya logistik,” ujar pengajar global value chain IPMI International Business School Hoetomo Lembito.

Lembito menambahkan, daya saing logistik Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga cenderung tertinggal. Dia memaparkan bahwa biaya logistik di Indonesia masih tergolong mahal. Yakni, mencapai 24 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Menurut studi konsolidasi Pelindo, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain. Misalnya, Singapura (8 persen), Amerika Serikat (8 persen), Uni Eropa (9 persen), Jepang (9 persen), Korea Selatan (9 persen), India (13 persen), Malaysia (13 persen), dan Tiongkok (15 persen).

Sebagai upaya menciptakan ekosistem logistik yang semakin efisien, pemerintah meluncurkan program National Logistic Ecosystem (NLE). NLE menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen internasional sejak kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang. ”Sistem ini menggunakan teknologi digitalisasi yang memungkinkan tiap entitas berkolaborasi tanpa menghilangkan kewenangan setiap pihak,” ujar Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda, dan Keselamatan Perhubungan Cris Kuntadi.

Fragmentasi sektor logistik Indonesia juga dikonfirmasi pelaku industri. Shipper, aggregator logistik yang memberikan layanan jasa pengiriman barang ke seluruh Indonesia dan internasional, menilai bahwa kerumitan logistik Indonesia perlu dibuat lebih efisien. ”Logistik, kalau tidak dibuat efisien akan menjadi, PR bersama. Digitalisasi menjadi kesempatan, bagian dari solusi untuk membantu logistik lebih termanajemen,” ujar COO & Co-Founder Shipper Indonesia Budi Handoko.

Budi menambahkan, menjadi agregator, Shipper bisa menggaet berbagai pemain, mulai e-commerce, penyedia jasa ekspedisi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). ’’Jadi, kami bisa sebagai enabler semua ekosistem logistik. Dari yang awalnya terfragmantasi menjadi tidak terfragmantasi,” tuturnya. (agf/c7/dio)