PENYAKIT asam urat sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno. Pada masa sebelum Masehi. Bahkan sering disebut sebagai raja dari seluruh penyakit dan penyakit para raja. Lantaran menjadi penyakit sendi yang terasa paling nyeri dibandingkan dari nyeri reumatik lainnya.

“Jadi, asam urat ini termasuk ke dalam kelompok 200 penyakit reumatik. Dan menempati urutan kedua tertinggi jumlah penderitanya di bawah penyakit pengapuran sendi,” terang dr Natsir Akil, internist-konsultan reumatologi, Kamis (11/11).

Ditemui di sela tugasnya di Poli Reumatologi di RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, Natsir menjelaskan, penyakit asam urat sangat terkait dengan pola makan dan jenis makanan. Tak mengenal usia, baik muda hingga tua. Namun lebih banyak diderita pada mereka yang berumur di atas 40 tahun.

“Namun, belakangan banyak juga yang muda, dari 20-30 tahun sudah terkena asam urat. Ini disebabkan gaya hidup dengan mengonsumsi makanan cepat saji,” ucap ahli dan konsultan reumatologi satu-satunya di Kaltim itu.

Berbagai jenis makanan bisa berpotensi menyebabkan asam urat. Yakni yang mengandung purina. Sebab, dasarnya, penyakit itu muncul akibat dari konsumsi zat purina secara berlebihan. Asam urat adalah hasil metabolisme dari masuknya berbagai zat makanan. Purina dari makanan kemudian diubah menjadi asam urat di dalam tubuh. Yang kemudian mengalir ke peredaran darah.

“Jika jumlahnya berlebihan, menumpuk di dalam darah. Jika mengendapnya di persendian, maka muncul namanya penyakit asam urat,” jelas dokter spesialis penyakit dalam itu.

Natsir mencontohkan, makanan yang mengandung purina yang tinggi seperti kacang-kacangan, daging merah, ayam, jeroan dan sayur seperti bayam serta kangkung. Selain itu, minuman bersoda bisa berpotensi tinggi menyebabkan asam urat. Di sisi lain, asam urat juga disebabkan oleh faktor genetik.

“Tetapi tidak berarti orang yang punya faktor genetik itu bisa menderita asam urat. Tidak selalu. Jadi faktor genetik itu bukan menjadi faktor satu-satunya. Hal utama soal pola makan tadi,” bebernya.

Faktor lainnya seperti mereka yang memiliki penyakit lain, seperti kanker dan gangguan ginjal. Meski penyakit asam urat tidak secara langsung menyebabkan kematian, tapi jika kadar asam urat dibiarkan terus tinggi, dapat menimbulkan komplikasi asam urat yang berakibat kematian. Di sisi lain, perlu diketahui tahapan atau fase dalam penyakit asam urat. “Untuk itu perlu dipahami gejala penyakit asam urat agar bisa segera ditangani,” ujarnya.

Gejala penyakit asam urat umumnya akan dirasakan di persendian jari kaki. Setelah itu menyebar ke persendian lainnya. Setiap orang akan mengalami kasus berbeda berapa lama penyebaran tersebut bisa terjadi. Itu juga bergantung pada pencegahan. Misal, mengatur pola makan, rutin olahraga, dan konsumsi obat-obatan.

“Saat ini obat-obatan untuk asam urat banyak tersedia. Tetapi kendalanya ini lebih kepada makanan. Jadi, banyak penderita yang tidak berpantangan,” sebut dokter yang aktif menulis artikel dan membantu tanya jawab soal kesehatan di media sosial itu.

Natsir mengingatkan kepada mereka yang merasakan gejala asam urat. Pada masa terjadinya peradangan tidak dianjurkan untuk dipijit. Terutama pada bagian yang sakit. Kondisi itu justru bisa menambah peradangan hingga terjadinya pembengkakan. Pun tidak melakukan aktivitas berat dan jika merasakan sakit segera mengonsumsi obat.

“Kalau dekat dengan fasilitas kesehatan sebaiknya segera memeriksakan kondisi tersebut. Jika jauh dan tidak ada obat asam urat, bisa konsumsi obat antiradang atau pereda nyeri. Paling sederhana, dan banyak dijual adalah Paracetamol,” terangnya.

Dari banyak kasus yang ditangani Natsir, sejumlah penderita sudah memasuki tahap kronis. Asam urat sudah membentuk kristal di bagian persendian. Tidak hanya di sendi kaki atau tangan, bahkan hingga di bagian telinga. Menyebabkan benjolan dan dalam kasus tertentu memerlukan tindakan operasi. Bahkan jika sudah merusak jaringan, berpotensi dilakukan amputasi.

“Selain menumpuk di persendian, asam urat juga bisa mengendap di ginjal. Ini lebih berbahaya karena tidak terlihat secara kasatmata. Menyebabkan kerusakan hingga berujung pada tindakan cuci darah hingga transplantasi ginjal. Artinya pengobatannya seumur hidup,” pungkasnya. (rom/k16)