Oleh: Dr Isradi Zainal

Rektor Universitas Balikpapan

 

 

UMKM atau usaha mikro, kecil, dan menengah merupakan usaha atau bisnis yang dilakukan individu, rumah tangga atau badan usaha kecil. Berdasarkan pengalaman saat Indonesia mengalami krisis moneter 1998, UMKM merupakan jenis usaha yang mampu bertahan selama krisis. Selain itu, UMKM menjadi penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar, terbanyak menyerap tenaga kerja, dan relatif tahan terhadap krisis keuangan.

Berbeda dengan saat krisis moneter ‘98 yang mampu meningkat hingga mencapai 350 persen ketika banyak usaha besar yang kolaps. Pada masa pandemi Covid-19, justru UMKM mengalami dampak yang sangat besar. Kementerian Koperasi dan UKM mencatat, setidaknya terdapat 949 laporan dari pelaku koperasi dan UMKM yang terkena dampak Covid-19.

Untuk diketahui, pada masa Covid-19, UMKM yang tidak menyesuaikan diri dengan sistem online atau digital mengalami keterpurukan. Dalam mengatasi masalah tersebut pemerintah menggelontorkan dana untuk membantu UMKM. Tercatat ada sekitar Rp 35 triliun untuk membeli produk UMKM.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM pada Maret 2021, jumlah UMKM mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,7 persen atau senilai Rp 8.573,89 triliun. UMKM mampu menyerap 97 persen dari tenaga kerja dan bisa menghimpun sampai 60,42 persen dari total investasi di Indonesia.

Dari data tersebut terlihat betapa besar pengaruh UMKM membangkitkan ekonomi nasional. Belajar dari pengalaman UMKM yang mampu bertahan selama pandemi dan unit usaha yang maju dengan berbasis digital, cara jitu memajukan ekonomi nasional adalah dengan digitalisasi.

Digitalisasi ekonomi merupakan strategi penggunaan teknologi berbasis digital, internet, dan aplikasi lainnya dalam bertransaksi kegiatan bisnis serta pemasaran. (rom/k8)