SAMARINDA–Pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kaltim terus menunjukkan peningkatan. Pada Oktober 2021 telah mencapai 218.030 merchant, naik signifikan dibandingkan Agustus yang baru 173.141 merchant. Jika dilihat per kota, Samarinda merupakan pengguna QRIS tertinggi di Kalimantan.

Untuk diketahui, dari total pengguna QRIS di Benua Etam, Samarinda merupakan pengguna tertinggi mencapai 89.151 merchant, Balikpapan 74.162 merchant, Kukar 16.775 merchant, Kutim 11.972 merchant, Berau 8.585 merchant, Bontang 7.090 merchant, Paser 4.576 merchant, PPU 3.042 merchant, sisanya di Kubar.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, pengguna QRIS di Kaltim memang berkembang sangat pesat. Sayangnya masih didominasi oleh kota-kota besar saja, seperti Samarinda dan Balikpapan.

Pihaknya mengakui, memang masih ada beberapa daerah yang belum bisa membuat QRIS terkait sulitnya jaringan. Seperti tempat-tempat wisata di Derawan dan Maratua di Berau, serta daerah lainnya di Kubar dan Mahulu. “Kita siap untuk memfasilitasi seluruh merchant yang ingin bergabung dengan QRIS. Sehingga begitu sinyal masuk, kita sudah siap masukkan QRIS,” jelasnya, Jumat (12/11).

Dia menjelaskan, saat ini QRIS didominasi Samarinda, karena memang penggunanya cukup tinggi. Sedangkan daerah lain masih terbatas jaringan, sehingga diperlukan perhatian khusus untuk itu. QRIS itu untuk merchant cukup tiga hari sudah bisa jadi. Sehingga yang dibutuhkan untuk daerah-daerah adalah perbaikan sinyal, kalau sudah jaringannya baik QRIS dengan mudah masuk.

Di kota-kota seperti Samarinda dan Balikpapan penggunaan QRIS pasti sudah dilakukan. Sebab, kebanyakan konsumen pasti akan mencari cara transaksi yang paling mudah, yaitu cukup scan QR code. Apalagi di tengah pandemi, transaksi dengan scan lebih aman dan nyaman dibandingkan dengan transaksi tunai karena tidak membutuhkan sentuhan uang atau kartu.

Saat ini, di Kaltim QRIS sudah hadir di tempat ibadah, tempat wisata, pada UMKM, QRIS pasar tradisional, QRIS parkir, QRIS layanan pemda, QRIS event, bahkan hadir di sekolah maupun universitas. “Meski jumlahnya terus berkembang, tantangan tetap ada. Utamanya perlu edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menggunakan QRIS sekarang ini,” katanya.

Menurut dia, masyarakat harus sadar bahwa QRIS adalah masa depan transaksi keuangan. Digitalisasi sistem pembayaran ini masa depan, yang harus diikuti oleh masyarakat. QRIS juga menjadi solusi transaksi saat pandemi, sebab tidak bersentuhan lagi karena tinggal scan dari handphone masing-masing.

Edukasi ini yang terus dilakukan, ke pasar-pasar, tempat ibadah, mal dan lainnya. Sehingga masyarakat harus sudah tahu QRIS merupakan standardisasi pembayaran menggunakan QR code, yang dapat digunakan oleh semua aplikasi pembayaran digital, melalui aplikasi dompet elektronik dan mobile banking di Indonesia.

“Edukasi ini masih sangat penting, sebab masih banyak masyarakat yang belum mau pindah dari konvensional dengan uang kartal, menuju digitalisasi lewat QRIS,” pungkasnya. (ctr/ndu/k8)