SAMARINDA–Nilai impor Kaltim pada September 2021 mencapai USD 214,09 juta atau mengalami penurunan sebesar 31,30 persen dibandingkan Agustus 2021. Namun, bila dilihat dari periode yang sama tahun lalu, mengalami kenaikan sebesar 106,40 persen. Penurunan terbesar disumbang oleh impor barang dari Singapura, menurun 57,91 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Anggoro Dwitjahyono mengatakan, impor barang migas September 2021 mencapai USD 74,46 juta, turun sebesar 47,81 persen dibanding Agustus 2021. Hal itu juga terjadi pada impor barang non-migas, mencapai USD 139,63 juta, turun sebesar 17,35 persen dibanding Agustus 2021.

“Namun secara kumulatif impor Kaltim mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” jelasnya, Minggu (14/11). Secara kumulatif, nilai impor Kaltim periode Januari–September 2021 mencapai USD 2,10 miliar, naik sebesar 52,76 persen dari periode yang sama tahun lalu. Peranan impor barang migas mencapai 43,03 persen sedangkan non-migas mencapai 56,97 persen.

Negara asal utama impor migas Kaltim pada Agustus 2021 adalah Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Singapura dan Tiongkok masing-masing mencapai USD 30,68 juta, USD 25,11 juta, USD 17,68 juta dan USD 0,96 juta, dengan peranan keempat negara tersebut mencapai 100 persen.

Kenaikan nilai impor migas terbesar berasal dari negara Tiongkok yang naik 152,18 persen atau dari USD 0,38 juta pada Agustus menjadi USD 0,96 juta di September. “Penurunan nilai impor terbesar berasal dari Singapura yang turun 57,91 persen yaitu dari USD 42,00 juta di Agustus menjadi USD 17,68 juta pada September,” katanya.

Sedangkan, negara asal utama impor non-migas Kaltim pada September 2021 adalah dari Korea Selatan, Tiongkok dan Jepang masing-masing mencapai USD 26,68 juta, USD 19,92 juta dan USD 18,02 juta. Peranan ketiga negara tersebut mencapai 46,29 persen terhadap total impor non-migas Kaltim pada September 2021.

Nilai impor non-migas pada September 2021 mengalami penurunan sebesar 17,35 persen. Penurunan nilai impor non-migas dipengaruhi turunnya nilai impor dari Korea Selatan yang turun sebesar 35,17 persen dan Jepang yang turun sebesar 36,23 persen.