Kepolisian berhasil mengungkap dugaan prostitusi online. Dua muncikari dan satu perempuan di bawah umur dibekuk. Mereka dari luar daerah, menginap di hotel sembari layanan terlarang.

 

SETELAH kasus wanita tunasusila (WTS) ditemukan tewas dihabisi pelanggannya, Polsek Samarinda Kota menaruh perhatian pada kasus prostitusi online yang kian marak. Di balik itu, rupanya terdapat tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Kapolsek Samarinda Kota AKP Creato Sonitehe Gulo menerangkan, sepekan belakangan tim cyber dikerahkan untuk mengungkap adanya bisnis prostitusi online di wilayah kerja Polsek Samarinda Kota.

Penindakan yang dilakukan pihaknya juga merupakan tidak lanjut dari kasus kematian seorang perempuan bernama Rabiatul Adawiyah. “Sejak kasus itu, pihak kami berupaya untuk memberantas praktek haram tersebut. Dengan gencar melakukan patroli cyber. Operasi patroli cyber akan terus kami lakukan,” ungkapnya, kemarin (12/11).

Dari hasil analisis polisi yang akrab disapa Gulo ini, prostitusi online memiliki tingkat kerawanan tinggi. Selain berkaitan erat dengan TPPO, adanya tindak kekerasan juga dimungkinkan terjadi.

“Orang yang mencari prostitusionline ini mempunyai dorongan seksual. Di mana biasanya disebabkan oleh dua hal. Seperti minuman keras dan narkoba, sehingga pengguna layanan ini cenderung memiliki tingkat emosional yang lebih tinggi dari masyarakat pada umumnya,” ungkapnya. Dari hasil operasi cyber yang dilakukan, setidaknya tiga orang yang terlibat dalam prostitusi online dibekuk di hotel berbeda. Masing-masing orang tersebut berinisial RD (20) dan SF (22) sebagai muncikari. Sementara remaja berinisial NA, merupakan PSK yang menjajakan tubuhnya seorang diri tanpa muncikari.

“Orang yang pertama kami amankan dari operasi patroli cyber, berinisial RD berperan sebagai muncikari di dalam satu kasus yang sedang kami tangani. Dari pengungkapan tersangka RD, kami menemukan barang bukti dua handphone, 10 bungkus kondom Sutra, kemudian 2 botol Durex dan uang tunai Rp 800 ribu," beber Gulo. Setelah berhasil meringkus RD, giliran muncikari berinisial SF yang diamankan. Ketika digerebek, petugas berhasil mengamankan barang bukti 5 bungkus alat kontrasepsi dan 11 butir penggugur kehamilan. Serta satu handphone dan uang tunai Rp 500 ribu.

Disampaikannya lebih lanjut bahwa tersangka TPPO berinisial SF merupakan mahasiswi yang tengah menempuh pendidikan di salah satu universitas di Samarinda. “Yang diperdagangkan temannya sendiri, bahkan sepupunya sendiri,” bebernya. Mengenai tarif untuk menggunakan layanan esek-esek tersebut, kedua muncikari ini mematok harga di kisaran Rp 500–800 ribu. “Sedangkan pembagian ke PSK-nya bervariasi, tergantung besaran harga yang disepakati. Bisa Rp 150 dan 200-an,” terang Gulo.

Sementara WTS berinisial NA yang merupakan remaja di bawah umur ditangkap saat sedang melakukan transaksi prostitusi online secara perseorangan atau tidak memiliki muncikari.

“Pada saat diamankan, kami menemukan tiga bungkus kondom merek Sutra dan uang tunai Rp 600 ribu,” ucapnya.

Dari pemeriksaan sementara, ketiga orang tersebut mengaku nekat melakukan bisnis prostitusi dengan alasan impitan ekonomi. Seluruhnya diketahui merupakan warga dari luar Samarinda.

“Karena kerawanan dan norma, prostitusi ini sangat diharamkan. Makanya kita terpaksa melakukan tindakan seperti ini. Kita mengimbau warga, terutama pendatang untuk tidak melakukan tindakan seperti ini,” tegasnya.

Ketiga orang yang diamankan itu teridentifikasi asal Banjarmasin. Selama di Samarinda, mereka menginap di hotel sembari membuka layanan prostitusi online.

“Jangka waktu biasanya ada yang seminggu, ada yang satu bulan. Mereka melakukan bisnis ini tergantung pada saat membutuhkan uang. Sejauh ini, kami belum ada temukan kalau pihak hotel ada sangkut-pautnya dengan bisnis seperti ini,” ucapnya. Kini, kedua muncikari yang berhasil diringkus ditetapkan sebagai tersangka TPPO dan ditahan di sel Mapolsek Samarinda Kota. Sementara NA, PSK remaja yang putus sekolah sejak di bangku IX SMP, ditetapkan sebagai korban dan dilakukan pembinaan.

“Untuk dua muncikari kami kenakan sebagaimana UU 21 Tahun 21 Nomor 7 Ayat 2 yaitu TPPO. Untuk remaja berinisial NA sedang kami koordinasikan dengan Dinas Sosial untuk dilakukan pembinaan,” pungkasnya. (*/dad/kri/k16)