Oleh Bambang Iswanto

 

Peringatan Hari Pahlawan 2021 menjadi istimewa bagi Kalimantan Timur. Almarhum Sultan Aji Muhammad Idris dianugerahi gelar pahlawan nasional. Penganugerahan berdasar Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 109 dan 110 TK Tahun 2021 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Jasa.

Gelar pahlawan nasional untuk Sultan Aji Muhammad Idris sudah lebih dari satu dekade diajukan ke pemerintah pusat, namun baru dikabulkan sekarang. Proses administrasi dan verifikasi yang ketat membuat proses memutuskan sebagai pahlawan nasional cukup memakan waktu.

Salah satu pertimbangan yang sangat kuat untuk bisa dikategorikan sebagai pahlawan nasional adalah jasa perjuangannya melawan penjajahan di Indonesia. Kriteria ini sangat menempel dengan diri Sultan Aji Muhammad Idris.

Sultan Aji Muhammad Idris dikenal sebagai pemimpin kerajaan yang tidak mau berkompromi dengan penjajah bahkan melawannya. Beliau menginisiasi penggalangan semangat antikolonialisme kepada raja-raja lain di sekitarnya.

Sikap antikolonialisme sultan yang berkuasa pada 1735–1775 di Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini ditunjukkan dengan tekadnya melawan penjajah bahkan sampai harus menyeberang pulau. Bertempur bersama rakyat Bugis di Wajo, Sulawesi Selatan, melawan Veerenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda. Beliau tidak pernah kembali ke Kutai dan mengembuskan napas terakhir di Sulawesi Selatan.

Ada beberapa versi tentang meninggalnya Sultan Kutai ke-14 ini. Pertama, terluka ketika melawan VOC dan dibawa ke Wajo, lalu meninggal di sana. Kedua, terbunuh karena terjebak di lubang yang penuh bambu runcing. Ketiga, dibunuh karena perebutan kekuasaan di Kutai agar tidak bisa kembali berkuasa.

Meskipun ada beberapa versi wafatnya, namun fakta sejarah menunjukkan kesamaan tentang perjuangan gigih Sultan Aji Muhammad Idris melawan penjajah. Kedatangan beliau ke Sulawesi memang sejak awal dimaksudkan berjuang melawan penjajah bersama dengan La Madukelleng dan rakyat Bugis. Sultan tidak sempat kembali ke Kutai, meninggal di medan perjuangan melawan penjajah.

Salah satu jejak yang ditinggalkan Sultan adalah sebutan masyarakat Bone sebagai La Darise Denna Parewosi Petta Arung Kutek Petta Matinroe ri Kawane. Yang artinya, “Idris, kakak Parewosi, tuan kita, Sultan Kutai yang beradu tidur di Kawane”. Napak tilas perjuangannya terpatri di masyarakat Bone dan diabadikan dalam sebuah sebutan yang heroik.

Fakta dari sumber-sumber VOC sendiri dan referensi lainnya tentang pengorbanan pindah ke Sulawesi dan membawa pasukan serta perjuangan gigihnya menjadi penegas bahwa Sultan Aji Muhammad Idris sangat layak dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Salah satu tujuan utama peringatan Hari Pahlawan adalah mengenang kembali jasa dan perjuangan para pahlawan dalam melawan penjajah. Diharapkan generasi-generasi selanjutnya akan dapat menghargai setiap perjuangan tersebut dan dapat meneladani sifat tersebut dan menerapkannya pada masa pasca-kemerdekaan.

Mengingat, pahlawan tidak hanya dihubungkan dengan momentum waktu tertentu seperti hari peringatan. Dapat juga dilakukan dalam bentuk pemberian nama-nama lembaga, gedung, jalan, atau lainnya sehingga ketika menyebutnya akan terbayang jasa dan perjuangannya.

Di Kalimantan Timur, nama Sultan Aji Muhammad Idris sudah menjadi nama perguruan tinggi yaitu Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Berikutnya diharapkan akan diabadikan menjadi nama-nama jalan besar di kota-kota Kalimantan Timur untuk menambah nama-nama pahlawan lain yang sudah dijadikan nama jalan seperti Jenderal Sudirman, Soekarno-Hatta, Ahmad Yani, dan lain-lain.

Tindakan heroik tidak lagi dengan mengangkat senjata melawan penjajah, namun bisa dilakukan di era kemerdekaan. (***/dwi/k8)