Usia harapan hidup masyarakat Kaltim tergolong tinggi, yaitu 73 tahun. Melampaui rata-rata nasional di angka 71,48 tahun. Akan tetapi, tingginya angka itu tidak menjamin bahwa mereka produktif.

 

BALIKPAPAN-Banyak masyarakat yang berumur panjang, namun tidak produktif. Itu disebabkan karena mengidap penyakit tidak menular (PTM). Di antaranya, hipertensi, strok, hingga diabetes.

Berdasarkan data faktor risiko PTM di Kaltim yang dihimpun Dinas Kesehatan (Diskes) pada 2020, kasus obesitas sentral atau penimbunan lemak di perut adalah yang terbanyak ditemukan. Obesitas sentral ditandai dengan lingkar perut laki-laki yang melebihi 90 sentimeter dan lingkar perempuan lebih dari 80 sentimeter. Risiko PTM ini banyak dialami 53.235 perempuan. Sementara laki-laki hanya 17.453 orang.

“Perempuan lebih tinggi tiga kali lipat. Hal ini diperoleh dari deteksi dini faktor risiko yang dilakukan Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) PTM melalui pengukuran lingkar perut,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim Padilah Mante Runa dalam seminar kesehatan yang digelar secara virtual, Kamis (11/11). Risiko PTM lainnya yang cukup tinggi dari hasil deteksi dini posbindu di seluruh Kaltim, yaitu hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi. Penyakit yang ditandai dengan tekanan daerah melebihi 140/90 mmHg ini juga banyak ditemui pada perempuan. Jumlah 42.886 orang. Adapun laki-laki, hanya setengahnya. Atau sekitar 25.869 orang.

Data ini diperoleh dari pemeriksaan tekanan darah yang dilakukan di posbindu di seluruh Kaltim tahun lalu. Menurut Padilah, banyaknya perempuan yang tercatat mengalami hipertensi, karena kurang bergerak dan melakukan aktivitas fisik di luar rumah. Seperti bersepeda dan lari yang lebih banyak dilakukan laki-laki. “Tingkat stres yang lebih tinggi dialami perempuan daripada laki-laki juga bisa menjadi penyebabnya,” terang perempuan yang sebelumnya menjabat direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda ini.

Padilah menerangkan, ada beberapa transisi yang memengaruhi PTM terhadap masyarakat Kaltim, seperti transisi epidemiologi. “Contohnya hipertensi. Bisa menyebabkan penyakit jantung, strok, gagal ginjal, hingga demensia (penurunan daya ingat dan cara berpikir),” terangnya. Selain itu, ada transisi demografi. Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia dihadapkan bonus demografi penduduk. Jumlah penduduk yang berusia produktif atau 15-65 tahun meningkat dua kali lipat.

“Sekarang, di usia 35 tahun itu sudah banyak yang strok, hipertensi. Akhirnya terjadi disabilitas. Jadinya enggak produktif,” jelas perempuan berkerudung ini. Oleh karena itu, dia berpesan, agar tidak hanya mempertahankan usia harapan hidup yang meningkat, tetapi juga perlu mempertimbangkan produktivitas, dengan terhindar dari risiko PTM. “Jangan sampai usia harapan hidup meningkat, tapi di tempat tidur saja, atau di kursi roda, sehingga tidak produktif. Jadi, jangan bangga Kaltim tiap tahun usia harapan hidupnya meningkat, tapi perlu dilihat jumlah masyarakat yang terkena penyakit hipertensi, diabetes, dan strok. Padahal usia 15-65 tahun adalah usia yang produktif, sehingga jangan sampai ada produktif dengan catatan,” katanya.

Dia melanjutkan, ada pula transisi teknologi yang memberikan kemudahan masyarakat dalam mengakses konsumsi makanan dan transportasi. Hal ini menyebabkan peningkatan sedentary life atau gaya hidup yang tidak aktif, kurang banyak bergerak. Terlalu banyak waktu dihabiskan dengan duduk atau berdiam diri akibat kecanggihan teknologi saat ini. “Ditambah dengan makanan kekinian yang kurang serat akan sayur. Karena semata-mata komposisinya adalah karbohidrat dan lemak. Dan sangat mendukung PTM, sehingga membuat kurang makan sayur dan buah,” tutur Padilah.

Terakhir, transisi ekonomi, sosial, dan budaya. Hal ini memengaruhi kebutuhan hidup individu yang berdampak pada tingkat stres. Apalagi adanya pembatasan kegiatan akibat pandemi Covid-19. Semua faktor transisi itu memunculkan risiko PTM. Di antaranya, hipertensi, gagal ginjal, paru kronik, strok, kanker, jantung, diabetes. Semua penyakit ini disebabkan metabolik, lingkungan, dan utamanya perilaku. Akibat pola makan tidak sehat. Yaitu mengonsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan, kurang aktivitas fisik, merokok, berat badan berlebih, peningkatan tekanan darah, serta prediabetes (kondisi kadar gula darah dalam tubuh seseorang lebih dari normal tetapi belum mencapai kategori diabetes melitus).

Khusus untuk prediabetes ini, jika tidak dilakukan intervensi, akan masuk dalam diabetes tipe 2, sehingga berpotensi menimbulkan PTM lainnya. Misal, kardiovaskuler dan strok. “Diabetes kelihatannya bukan penyakit, jadi akhirnya kadang lalai,” jelas dia. Oleh karena itu, salah satu upaya pemerintah adalah menggalakkan istilah CERDIK. Yang merupakan kepanjangan dari cek kesehatan berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.

“Selain itu, strategi operasional Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2TPM) melalui deteksi dini atau skrining faktor risiko di posbindu. Yang melakukan edukasi dan konseling,” pungkasnya. Swandari Paramita, sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltim menambahkan, PTM tersebut berisiko kematian yang besar pada pasien penderita Covid-19. Ada lima penyakit yang diwaspadai sepanjang pandemi Covid-19.

Yakni penyakit ginjal kronis yang berisiko kematian paling tinggi. Persentasenya 51,81 atau risikonya 13,7 kali lipat. Kemudian penyakit jantung 38,41 persen atau berisiko 9 kali lipat, diabetes melitus 33,89 persen atau berisiko 8,3 kali lipat, hipertensi 26 persen atau berisiko 6 kali lipat, dan kanker sebesar 33,33 persen atau berisiko 6 kali lipat. “Begitu kena Covid-19, kami benar-benar concern. Mereka sudah divaksin atau belum, dan kami benar-benar pantau saat puncak pandemi. Saturasi dan lain sebagainya,” kata dia.

Perempuan berkerudung ini menyampaikan, 90 persen kasus kematian pada pasien Covid-19 disebabkan kondisi komorbid, atau penyakit penyerta. Sepanjang pemantauan pihaknya, saat puncak pandemi Covid-19 yang terjadi pada Juni hingga Agustus lalu, pasien ternyata memiliki riwayat penyakit hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung. Dengan demikian, tidak hanya virus corona yang dianggap sebagai penyebab kematian tersebut, tetapi ada riwayat penyakit penyerta lainnya.

“Dan ini sebuah fakta, PTM seperti hipertensi dan diabetes melitus membuat daya tahan tubuh penderita menjadi lebih rendah. Kemudian, penyakit lainnya, seperti jantung dan paru menyebabkan fungsi organ menurun, sehingga menyebabkan kematian,” tandasnya. (kip/riz/k16)

 

Waspada Penyakit Tidak Menular--jdl

 

Obesitas Sentral:

 

Lingkar perut laki-laki lebih 90 centimeter

Lingkar perut perempuan lebih 80 centimeter.

 

Penyakit tidak menular ini banyak dialami perempuan sebanyak 53.235 orang. Sementara laki-laki hanya 17.453 orang.

 

Hipertensi

Ditandai dengan tekanan daerah melebihi 140/90 mmHg ini. Banyak ditemui pada perempuan. Jumlah 42.886 orang. Sedangkan laki-laki, hanya setengahnya. Atau sekitar 25.869 orang.

 

Mengapa perempuan lebih berisiko?

Stres dan kurang bergerak, seperti melakukan aktivitas fisik di luar rumah. Contohnya bersepeda dan lari yang banyak dilakukan laki-laki.

 

Stroke, diabetes, dan hipertensi.

Banyak penderita stroke, diabetes dan hipertensi ditemukan di usia produktif, yakni 35 tahun. Dampak terburuknya adalah, mengakibatkan disabilitas sehingga tidak produktif lagi.

 

Penyebab lain dari penyakit tidak menular

Pola makan tidak sehat dengan kurang mengonsumsi, buah-buahan, serat dan sayur-sayuran.

Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan duduk atau berdiam diri akibat kecanggihan teknologi saat ini.

Merokok dan berat badan berlebih.

Kurang istirahat yang mengakibatkan stres.

 

Lima penyakit yang patut diwaspadai sepanjang pandemi Covid-19.

Penyakit ginjal kronis.

Penyakit jantung.

Diabetes mellitus.

Hipertensi.

Kanker.

 

Sumber: Dinas Kesehatan Kaltim