BALIKPAPAN—Menyambut perpindahan ibu kota negara (IKN) pada 2024, pembenahan tidak hanya dilakukan pada sarana transportasi saja. Melainkan seluruh aspek, termasuk dunia kepariwisataan.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan Dortje Marpaung menuturkan, menciptakan kota nyaman berarti harus menyediakan destinasi lengkap dan memadai.

Menyediakan wisata yang mampu mengakomodasi keperluan pengunjung dari segala usia, baik senior maupun anak muda. Pengembangan destinasi pun harus dibarengi dengan adanya sertifikasi CHSE (cleanliness, health, safety, and environment sustainability). Sarana teknologi informasi di lokasi wisata pun harus di-update.

Diakui, saat ini memang belum banyak tempat wisata yang memiliki CHSE. “Kami sadar CHSE masih kurang, tapi terus didorong. Destinasi di Balikpapan memang belum menerapkan aplikasi PeduliLindungi. Itu sebenarnya perlu, agar pengunjung semakin nyaman saat datang biar tidak bermasalah, tidak hanya sapta pesona saja yang terwujud,” tuturnya.

Menghadapi IKN, terlebih dengan urbanisasi yang akan terjadi, maka akan menjadi potensi terhadap kunjungan wisata di Kota Minyak. Semakin banyak lokasi wisata dan layanan memadai, membuat pengunjung betah berlama-lama.

Menurutnya, itu bisa mendongkrak sektor lainnya. Strategi antara pengelola destinasi, transportasi, supporting hotel dan restoran sangat diperlukan agar terwujud. “Dari 1-1,5 juta pendatang yang pindah ke IKN, bila 10 atau 20 persen saja berkunjung (ke Balikpapan) bisa meningkatkan dan membantu perekonomian kota,” ungkap Dortje.

Pada masa sekarang, untuk ekonomi kreatif memang masih terhambat pandemi. Sebelum Covid-19 mewabah, sudah banyak aplikasi buatan anak-anak muda yang bergerak sampai luar negeri. Begitupun dengan seni pertunjukan. Tetapi karena pagebluk, semua menjadi terbatas hanya di tahap lokal dan nasional saja.

“Kondisi sudah mulai mengarah ke (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) Level I. Sehingga kami harap bisa bergerak ke arah normal, tapi harus tetap menerapkan prokes (protokol kesehatan). Kerja keras diperlukan, agar kita bisa sama-sama recovery sebelum reborn kembali. Semoga tidak ada gelombang ketiga,” harapnya.

Dikatakan, destinasi unggulan Balikpapan saat ini masih ecotourism, hutan mangrove, dan pantai yang jadi primadona. Memanfaatkan lebih luas tentu perlu kajian mendalam sebelum dieksekusi.

Seperti halnya mengenai potensi wisata Kepulauan Balabalagan di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat itu memerlukan kajian yang serius. Tidak asal menetapkan pariwisata. Karena harus melihat pula apakah benar tidak mengganggu moda transportasi di Teluk Balikpapan dan tidak merusak lingkungan. Itu perlu kajian untuk mewujudkan pariwisata yang nyaman dan jangka panjang.

Sementara ini, pemerintah secara step by step meski dengan kemampuan anggaran terbatas mulai mempercantik kawasan pantai. Serta membuat beberapa event untuk menarik pengunjung. Menjadi tuan rumah tentu memerlukan modal yang tidak sedikit, dari itu ia mengajak seluruh sektor terlibat.

Dirinya berharap ada investor yang berminat dan bekerja sama membangun resor, serta menyediakan atraksi dan kebudayaan di kawasan pantai. Agar pariwisata bahari semakin modern.

Geliat pariwisata tersebut perlu diimbangi dengan kemajuan sumber daya manusia (SDM). Jangan sampai hanya menunggu dan jadi penonton tanpa ada persiapan jelang perpindahan IKN di Kaltim. Dengan semakin banyak destinasi baru, peningkatan SDM serta event yang semakin marak diharapkan terus mendongkrak pariwisata lokal.

“Beberapa waktu lalu saat kami menggelar Haornas (Hari Olahraga Nasional) Virtual Run ternyata sangat digemari. Itu bisa jadi sarana untuk branding Balikpapan sebagai kota nyaman. Semoga tahun depan bisa digelar kembali, memeriahkan momen ulang tahun kota ataupun saat 17 Agustus,” bebernya. (lil/rom/k15)