Inflasi di Kaltim diklaim relatif terkendali. Meski demikian, pemerintah daerah diminta untuk tidak terlena. Terutama menyiapkan sarana penunjang agar komoditas utama tidak bergantung daerah lain.

 

SAMARINDA-Secara umum, inflasi Kaltim relatif rendah dan stabil. Namun, inflasi tahunan mulai mengalami kenaikan, seiring dengan mobilitas masyarakat yang kian menggeliat. Dengan begitu, perlu diwaspadai inflasi komoditas pangan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, sampai triwulan ketiga tahun ini, inflasi Kaltim masih rendah. Indeks harga konsumen (IHK) Kaltim pada Oktober 2021 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,04 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,15 persen (mtm). “Inflasi tahunan mencapai 1,91 persen, relatif mengalami peningkatan,” jelasnya secara daring, Kamis (11/11).

Meski secara tahunan mengalami peningkatan, namun dalam bulanan relatif menurun. Berdasarkan kelompok pengeluarannya, lebih rendahnya inflasi pada Oktober 2021 utamanya bersumber dari deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok pakaian dan alas kaki setelah pada bulan sebelumnya mengalami inflasi dan berlanjutnya deflasi pada kelompok transportasi.

Komoditas hortikultura menjadi penyumbang utama deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau seiring dengan pasokan yang kembali berlimpah. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami deflasi sebesar 0,30 persen (mtm). Setelah bulan sebelumnya mencatatkan inflasi yang cukup tinggi mencapai 0,50 persen (mtm).

Salah satu faktor utama deflasi pada kelompok tersebut adalah deflasi komoditas hortikultura, seperti kangkung, bayam, tomat, cabai rawit, dan sawi hijau. Lebih lanjut komoditas kangkung dan bayam menjadi dua komoditas utama penyumbang deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

“Kembali melimpahnya pasokan karena membaiknya produksi di daerah sentra menjadi penyebab utama deflasi pada komoditas hortikultura tersebut. Setelah bulan sebelumnya mengalami inflasi yang tinggi akibat keterbatasan produksi,” bebernya.

Sedangkan secara tahunan mengalami peningkatan, seiring mulai membaiknya mobilitas masyarakat. Hingga akhir tahun konsumsi masyarakat juga meningkat. Hal itu akan membawa peningkatan inflasi, meski masih rendah dan terkendali. Salah satunya di sektor pangan.

Akhir tahun, dari sisi transportasi, makanan, dan lainnya akan meningkat sehingga bisa membawa inflasi secara tahunan meningkat. Untuk itu, koordinasi dalam kerangka Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di wilayah Kaltim terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga.

Pada Oktober 2021, TPID di wilayah Kaltim telah melakukan rapat koordinasi teknis pembentukan Kios Inflasi Digital (KID) Samarinda. Itu sebagai tindak lanjut dari audiensi KPw-Bl Kaltim bersama Wali Kota Samarinda Andi Harus sebelumnya terkait rencana pembentukan KID Samarinda.

“Keperluan pangan Kaltim yang kebanyakan didatangkan dari luar memang harus diperhatikan. Agar tidak menjadi penyumbang inflasi pada akhir tahun,” pungkasnya.

Adapun secara nasional, pergerakan inflasi per Oktober tercatat mencapai 0,12 persen. Sementara inflasi tahunan tercatat 1,66 persen dan secara tahun kalender 0,90 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menuturkan dari 11 kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami inflasi. Kelompok transportasi menjadi penyebab utama inflasi pada Oktober. “Terjadi inflasi di kelompok transportasi. Disebabkan adanya kenaikan tarif angkutan udara yang memberikan andil pada inflasi 0,03 persen,” ujarnya, kemarin.

Margo melanjutkan, ada tren peningkatan jumlah penumpang angkutan udara domestik menjadi 2 juta orang pada September atau naik 84,04 persen dibandingkan Agustus 2021. Dilihat secara tahunan, ada kenaikan 3,72 persen untuk pertumbuhan penumpang transportasi udara. Meski dilihat secara kumulatif, jumlah itu masih terkontraksi tajam hingga 16,50 persen.

“Angkutan udara untuk Agustus dan September sudah menunjukkan perbaikan dibandingkan Juli. Saat itu, ada pembatasan ketat sehingga aktivitas transportasi udara mengalami hambatan,” katanya.

Kemudian, penyumbang terbesar kedua inflasi, yakni berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas utamanya adalah harga cabai merah dan minyak goreng dengan andil masing-masing 0,05 persen. Serta, daging ayam ras dengan andil 0,02 persen.

Diwawancarai terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu memandang, inflasi berpotensi menguat secara bertahap seiring dengan perkembangan positif mobilitas masyarakat setelah pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

“Natal dan tahun baru serta liburan akhir tahun menjadi momen peningkatan konsumsi. Sehingga, bisa mendorong kenaikan inflasi. Selain itu, risiko kenaikan harga pangan akan mendorong tekanan inflasi,” jelasnya. Outlook inflasi 2021 diperkirakan bisa mencapai 1,8 persen (yoy). (ctr/rom/k15)