Teknologi seperti dua mata pedang. Mempermudah hidup manusia, namun di sisi lain menggilas mereka yang tak siap, dan tertinggal zaman. Angkutan kota salah satu korbannya.

 

TARIF angkot di Balikpapan kembali naik awal bulan ini. Bervariasi, Rp 1.000 hingga Rp 1.500 tiap trayek. Tapi, itu tak serta-merta disambut gembira para sopir angkot. Pandemi yang menghantam banyak sektor terasa sejak awal 2020. Tapi bagi sopir angkot, pukulan telak sudah mereka rasakan satu dekade terakhir.

Angkot, dulu, duluuuu, memang sempat jadi primadona di Kota Minyak. Ia pilihan utama pelajar, pekerja, dan ibu rumah tangga untuk moda transportasi dalam kota. Malah sejumlah angkot tampil sangat modis. Dentuman musik, dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu, bahkan televisi mini, terlihat berseliweran.

Tapi, kini semua tinggal cerita. Perlahan namun pasti, angkot mulai ditinggal kala roda dua begitu mudah dibeli. Dengan uang muka Rp 1 juta, pelajar dan pekerja beralih menggunakan motor. Dalam lima tahun terakhir, saat transportasi teknologi berkembang sangat, sopir angkot pun makin terpinggirkan, termehek-mehek mencari penumpang.

Simaklah kisah salah satu sopir angkot trayek 7 (Terminal Damai - Sepinggan, Manggar dan Teritip) Muchlis (43). Ia merasakan betapa pahitnya menarik angkot sekarang.

“Syukur-syukur ada penumpang dalam satu hari. Ya kalau dibandingkan dulu awal tahun 2000-an dengan sekarang jauh sekali. Sekali narik misal rute Terminal Damai-Manggar hanya satu penumpang,” ucapnya.

Ia merasa sudah sangat bersyukur jika sekali pulang-pergi jurusan itu ada penumpang yang mereka angkut.

"Kalau normal bisa tiga sampai empat kali narik pulang-pergi. Pendapatan saya bersih sekarang paling tinggi syukur-syukur bisa Rp 50 ribu. Ya saya kan juga narik pakai angkot orang, jadi pendapatan satu hari buat setoran dan bensin,” jelasnya.

Ia menerangkan, pendapatan tidak menentu. Apalagi kondisi pandemi di mana warga jarang keluar. “Yang jelas, buat bensin satu hari sekitar Rp 100 ribu, setoran Rp 50 ribu,” bebernya.

Muchlis bahkan mengaku, pernah sampai meminjam uang untuk beli bensin atau setoran.

Untungnya, ketika penumpang sepi, pemilik angkot mau kurang lebih soal setoran.

Muchlis menyebut, apa yang ia rasakan, juga dirasakan sopir angkot pada umumnya.

Dengan kondisi sekarang, meski ada kenaikan, ia tak terlalu optimistis. Sebab, penumpang makin hari makin sepi.

Bapak dua anak ini mengaku hanya bisa pasrah dengan beroperasinya transportasi online.

"Ya, pasrah saja mau gimana lagi, makan tidak makanlah ini. Hidup segan mati tak mau. Palingan juga lama-kelamaan angkot punah," ucapnya lirih.

Hal senada dikatakan sopir angkot lain, Rian Hidayat (39). Ia mengaku sopir angkot kini dalam kondisi kesusahan, apalagi semasa pandemi Covid-19.

Rian menarik angkot milik sendiri, melanjutkan pekerjaan ayahnya yang juga sopir angkot.

Jika ingin membandingkan, sambil menghela napas dalam ia menyebut, “Sangat jauh. Dulu, ayah saya sampai bisa membeli angkot ini. Kalau sekarang, buat hidup saja sudah alhamdulillah. Saya sempat mau menjualnya lagi malah”.

Namun, karena angkot itu peninggalan ayahnya, ia menahan diri menjualnya.

Menurutnya, sejak era ojek/driver online, pengguna angkot turun drastis. “Dulu ayah saya sehari bisa mendapat Rp 300 ribuan per hari. Sekarang susah sekali. Rp 50 ribu saja sudah syukur,” bebernya.

Tidak heran, dulu, angkot banyak yang dimodifikasi karena banyaknya pendapatan mereka. Sekarang, buat bensin saja sopir terkadang tak dapat.

Ia mengaku, terkadang ada bantuan dari pemerintah. Namun, tak merata untuk semua sopir.

Dinas Perhubungan Balikpapan mencatat, saat ini ada sekitar 1.250 angkot yang beroperasi dari sejumlah trayek, dalam dan pinggiran kota. (aji/ms/k15)