SAMARINDA–Setelah 76 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Provinsi Kaltim akhirnya punya pahlawan nasional. Dialah Sultan Aji Muhammad Idris. Pejuang dari Kutai Kartanegara yang berperang di Sulawesi Selatan, lalu wafat dan dimakamkan di Kabupaten Wajo.

Penetapan Sultan Aji Muhammad Idris sebagai pahlawan nasional dari Kaltim, disampaikan pemerintah bertepatan Hari Pahlawan (10/11) di Jakarta. Wacana Sultan Aji Muhammad Idris jadi pahlawan nasional sebenarnya sudah ada sejak dekade 90-an. Hanya saja terkendala beberapa hal. Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengatakan, pemprov melalui Dinas Sosial diminta melengkapi berkas administrasi, dokumentasi, dan kelengkapan pemberkasan.

“Sehingga baru tahun ini ditetapkan. Penetapan Sultan Kutai Aji Muhammad Idris sebagai pahlawan nasional oleh Kementerian Sosial, menjadi bukti bahwa Kaltim ikut berjuang melawan dan mengusir penjajah di Indonesia,” kata Hadi. Sultan Aji Muhammad Idris dikenal sebagai sultan ke-14 Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martapura yang memimpin dari 1735–1738. Sultan Aji Muhammad Idris dianggap memenuhi kriteria sebagai pahlawan nasional karena perjuangannya melawan penjajah. Perlawanan Aji Muhammad Idris dilakukan di tanah Sulawesi.

Pada 1738, dia berangkat ke Wajo menggunakan perahu bersama ratusan pasukan. Sultan Aji Muhammad Idris merupakan menantu dari Sultan Wajo La Madukelleng. Bersama mertuanya itu, Sultan Aji Muhammad Idris berperang melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), sebuah persekutuan dagang asal Belanda yang memonopoli perdagangan Asia di Sulawesi Selatan. Setahun kemudian, perang besar terjadi. Sultan Aji Muhammad Idris gugur di medan perang dan dikuburkan di Wajo.

Makamnya bersebelahan dengan kakek mertuanya, La Maddukelleng.

Meskipun dia tak berperang di tanah Kaltim, namun perjuangan Aji Muhammad Idris disebut dapat menginspirasi. Nama Sultan Aji Muhammad Idris kini diabadikan menjadi nama Universitas Islam Negeri (UIN) Samarinda yang sebelumnya adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda.

Setelah dinobatkan menjadi pahlawan nasional, Pemkab Kukar berencana membuat monumen Sultan Aji Muhammad Idris. Termasuk mengabadikannya dengan nama jalan. "Ini sudah kami bicarakan dengan sekda dan Forkopimda," kata Wabup Kukar Rendi Solihin seusai memimpin upacara ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bukit Biru, kemarin. Dalam waktu dekat, dia akan berkunjung ke Kabupaten Wajo untuk melihat secara langsung kondisi makam Sultan Aji Muhammad Idris.

 

Selanjutnya Abdoel Moeis Hasan

 

Setelah usaha Sultan Aji Muhammad Idris dinobatkan sebagai pahlawan nasional, Pemprov Kaltim bersiap mengusulkan sosok Abdoel Moeis Hasan (gubernur ke-2 Kaltim periode 1962–1966) sebagai pahlawan nasional pada tahun depan. "Sesuai informasi dan data yang disampaikan Dinas Sosial Kaltim, Abdoel Moeis Hasan berhak mendapat gelar pahlawan. Namun, saya tetap akan membaca terlebih dulu riwayat dan data dari Abdoel Moeis Hasan," sebut Hadi. Menurut Hadi, jika berbicara pahlawan, maka ada ratusan pahlawan yang telah berjuang di Kaltim. Namun, secara administrasi yang diusulkan itu adalah kategori nasional. Termasuk adanya pendataan, inventarisasi serta dokumentasi. Sehingga baru saat ini bisa terwujud, di Kaltim Sultan Aji Muhammad Idris menjadi Pahlawan Nasional.

 

"Tahun depan rencana diusulkan Abdoel Moeis Hasan. Hanya saja, menurut saya terpenting adalah untuk anak muda bisa mewarisi sifat-sifat kepahlawanan. Mulai, ketulusan, keberanian, berani berkorban dan memberikan manfaat kepada negara," jelasnya. Sosok Abdul Moeis Hassan dikenal sebagai orang yang menentang keras pendudukan Belanda. Lelaki yang dipanggil Muis Kecil oleh kawannya ini, menjadi orator di Lapangan Kinibalu, Samarinda, pada 23 Januari 1950. Dalam orasinya itu, dia menuntut demokratisasi pemerintahan lokal dengan menghapus sistem feodalisme. Kiprah Abdoel Moeis Hassan bermula di usia belia. Yaitu 16 tahun. Saat itu, dia mendirikan dan mengetuai Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) pada 1940. Pada 17 Agustus 1945, saat proklamasi dibacakan, Moeis juga terlibat dalam Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (P3KRI). Gerakan politiknya menyokong perjuangan pemuda yang berkiprah di jalur fisik. Mereka juga menolak bekerja sama dengan pemerintah Belanda. (nyc/riz/k8)