DI atas kertas, Spanyol bisa mengalahkan Yunani dini hari nanti (12/11). Beda kualitas materi pemain adalah faktor utama. Tetapi, ada satu syarat lagi bagi Spanyol untuk mengungguli Yunani. Yaitu meredam strategi tak terprediksi dari pelatih Yunani John van't Schip.

Pelatih berkebangsaan Belanda itu sudah membuat kesal La Furia Roja dalam pertemuan di awal kualifikasi (26/3). Kala itu, Spanyol yang bertindak sebagai tuan rumah di Nuevo Estadio de Los Carmenes, Granada, harus puas bermain seri 1-1.

Atensi bukan hanya tertuju pada susah payahnya Spanyol dalam mencetak gol. Melainkan juga strategi Van't Schip sehingga Spanyol hanya menang dalam penguasaan bola. Yaitu 79 persen milik La Furioa Roja berbanding 21 persen untuk Piratiko.

Pertahanan tangguh Yunani berasal dari perubahan taktik yang digunakan oleh pelatih 57 tahun itu. Dari semula 4-1-4-1 berubah 5-2-1-2 setelah Yunani menyamakan kedudukan pada menit ke-57 oleh striker Thasos Bakasetas. Skema yang kemudian digunakan terus oleh Van't Schip.

Bersama Van’t Schip sejak Juli 2019, Yunani hanya merasakan lima kekalahan dari 24 pertandingan. Gawang Yunani pun tidak pernah merasakan kebobolan lebih dari dua gl dalam satu pertandingan. Seolah mengingatkan cerita hebat Yunani dengan pertahanan tangguhnya saat memenangi Euro 2004.

Kepiawaian Van't Schip meracik taktik bermuara dari pendidikan kredibel bersama AFC Ajax. Setelah pensiun pada 1996, dia langsung jadi pelatih Jong Ajax setahun berselang. Van’t Schip juga sempat bekerja sebagai asisten pelatih Ajax pada 2000—2001 dan 2008—2010. Plus asisten pelatih Belanda pada 2004—2008.

”Melawan Spanyol memang penting. Tetapi, menghadapi Kosovo (15/11) juga krusial. Kami harus maksimal dalam dua laga itu. Masuk playoff (finis runner-up grup, Red) adalah target kami,” papar Van't Schip kepada ESPN. (io/dns)