Bernaulus Saragih 

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Meraih Gelar Doktor (PhD) dalam bidang Forest and Environmental Economics dari Universitas Leiden Belanda.

 

 

Conference of Parties atau COP26 atau Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang ke-26 baru saja berlangsung di Kota Glasgow Skotlandia United Kingdom. Perhelatan super besar tersebut dihadiri para kepala negara dan delegasi dari 120 negara di dunia, juga 25 ribu lebih pengembira dan pencinta lingkungan, baik yang diundang maupun datang dengan sukarela dari berbagai belahan dunia. 

Kota Glasgow ketiban rezeki luar biasa karena seluruh hotel dan penginapan, bahkan rumah-rumah penduduk banyak yang berubah sementara menjadi tempat penginapan. COP26 dipenuhi dengan berbagai agenda, terutama dalam usaha dunia untuk menurunkan pemanasan global. Dicanangkan untuk dapat menahan laju peningkatan suhu permukaan bumi tetap berada pada posisi sekarang atau setidaknya jangan sampai suhu permukaan bumi meningkat lebih dari 2 derajat celcius satu abad ke depan. 

Juga dicanangkan untuk menurunkan emisi gas-gas rumah kaca sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global yaitu melalui pengurangan konsumsi bahan bakar fosil seperti minyak dan gas bumi, juga pengurangan batu bara sebagai sumber energi, dan promosi besar-besaran untuk penggunaan sumber energi baru dan terbarukan. 

Bahkan beberapa pihak menginginkan agar penurunan yang drastis dari emisi gas-gas rumah kaca seperti C02, methane, N20, harus dipertegas. Dicanangkan di 2050 dunia sudah harus bebas emisi carbon atau zero carbon emision, sehingga pada 2050 diharapkan tercipta dunia yang bebas emisi, sehingga terbentuk apa yang disebut dengan zero emision society 2050 atau ZES2050 atau masyarakat dunia yang bebas emisi di 2050.

 

ZES 2050 Mungkinkah? 

Tantangan terbesar dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dalam COP26 tersebut adalah bagaimana memperoleh jaminan atau komitmen dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, India, Uni Eropa. 

Presiden Tiongkok, Xi Jin Ping sebagaimana Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menghadiri COP26 tersebut, padahal kedua pimpinan negara besar ini sangat diharapkan memberikan pidato komitmen negaranya di hadapan para peserta konferensi. 

Tiongkok adalah negara dengan emisi gas rumah kaca terbesar didunia setelah Amerika Serikat. Bahkan saat ini Tiongkok diduga menjadi negara dengan emisi karbon terbesar dengan menggunakan data pertumbuhan ekonomi dan konsumsi bahan bakar, baik berupa minyak dan gas bumi maupun batu bara. Dengan ketidakhadiran kedua pimpinan negara besar tersebut telah mengurangi bobot daripada COP26 karena sangat ditunggu masyarakat dunia. Ketidakhadiran kedua presiden tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, pernyataan untuk mengurangi emisi, apalagi dengan angka atau persentase tertentu akan memberi konsekuensi yang luar biasa terhadap ekonomi. 

Mengurangi konsumsi bahan bakar fosil tapi tidak diimbangi dengan perkembangan penggunaan sumber energi terbarukan tentu akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi. Dan inilah yang tidak diinginkan Tiongkok. 

Tiongkok menganggap jika konsumsi bahan bakar fosil dan batu bara dipaksa untuk dikurangi tapi belum diimbangi dengan penggunaan sumber energi terbarukan lainnya, akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara Rusia adalah negara yang memiliki penerimaan devisa sangat tergantung pada migasnya maka apabila negara-negara Uni Eropa mengurangi konsumsi migas dan menggunakan sumber energi lainnya tentu akan membuat Rusia kehilangan banyak pendapatan. 

Dengan demikian, penurunan gas rumah kaca tanpa disertai dengan penggantian sumber energi, hanya akan membuat negara-negara terutama negara berkembang mengalami permasalahan dalam pembangunannya.Presiden Amerika Serikat Joe Biden adalah salah satu orang terpenting di balik penekanan pengurangan emisi. Sebab, perubahan iklim dan pemanasan global salah satu kampanye Joe Biden ketika menjadi calon presiden. 

Penegasan Presiden Amerika Serikat agar dunia bebas emisi di 2050 bukanlah isapan jempol belaka. Sebab, Amerika Serikat sesungguhnya adalah negara yang selain pengonsumsi energi terbesar di dunia, tetapi juga dari segi teknologi dan inovasi adalah negara yang paling siap.

 Amerika Serikat telah mengembangkan energi terbarukan, seperti halnya Uni Eropa. Sementara negara-negara besar berkembang seperti Indonesia, Mexico, Brasil, masih sangat tergantung pada energi fosil, sehingga jika diprediksi sampai 2050, negara-negara tersebut belum bisa meraih zero emision. 

Seperti halnya India, negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia dengan tegas mengatakan bahwa tidak mungkin India mencapai zero emision di 2050, India berkomitmen bahwa zero emision akan dapat dicapai oleh negaranya di 2070, atau 48 tahun lagi. 

Disparitas ekonomi antarwilayah, perbedaan kemajuan, dan kepemilikan teknologi maupun kondisi sumber daya yang dimiliki oleh negara-negara di dunia membuat komitmen ZES2050 pesimis dapat dicapai. Sebab, setiap pengurangan konsumsi energi fosil tanpa diganti dengan sumber energi terbarukan lainnya pasti akan dihadapkan pada penekanan laju pertumbuhan ekonomi. 

Seperti Indonesia misalnya, jika masyarakat dipaksa untuk mengurangi konsumsi BBM padahal seluruh alat transportasi masih menggunakan BBM, dipastikan akan menurunkan mobilitas masyarakat. Dengan demikian, menurunkan produktivitas yang menekan laju pertumbuhan ekonomi. 

Namun, jika pengurangan konsumsi BBM dilakukan dengan mengganti moda transportasi dari berbahan bakar BBM ke listrik, atau baterai atau transportasi massal lainnya akan sangat memungkinkan untuk tetap meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan mengurangi konsumsi BBM. Namun, sangat sulit membayangkan di 2050 Indonesia akan mampu mencapai zero emision. Sebab, saat ini penggunaan mobil dan alat transportasi berbasis tenaga listrik atau baterai masih pada tahap inisiasi.

Demikian juga konversi hutan dan tata guna lahan lainnya, apalagi dengan kondisi geografis dan kepulauan yang demikian besar sangat sulit diraih di 2050. Di pelosok dan di perbatasan serta pulau-pulau kecil dan terluar tidak menggunakan minyak dan gas sebagai bahan bakar, baik bagi rumah tangga maupun transportasi. 

Sumber pesimisme lainnya adalah rendahnya implementasi dari keputusan-keputusan COP. Telah 26 kali dilakukan Konferensi Perubahan Iklim namun bumi terus mengalami pemanasan bahkan semakin mengkhawatirkan. Negara-negara besar bahkan tidak mengimplementasikan komitmennya. Penyampaian komitmen hanya sebatas di depan konferensi dan dalam perjalanannya sangat rendah implementasi, sehingga para penggembira dan pencinta lingkungan yang hadir dalam COP 26 Glasgow tersebut meneriakkan slogan simply talks less implementation, atau mudah bicara namun kurang dalam implementasi. 

Perubahan iklim sebagai akibat dari emisi gas rumah kaca yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, penggundulan hutan, perkembangan industri, maupun pertanian telah membuat suhu permukaan bumi meningkat 1,5 derajat celcius terhitung sejak terjadinya revolusi industri dua abad yang lalu. 

PBB memprediksi bahwa satu abad mendatang suhu permukaan bumi akan naik 1,5–2 derajat celcius jika manusia tidak melakukan aksi yang nyata atau bisnis as usual atau jika tidak ada perubahan dalam penurunan emisi gas rumah kaca. Dengan peningkatan suhu permukaan bumi sebesar 1,5–2 derajat celcius 100 tahun ke depan, akan mencairkan lapisan es di kutub paling tidak sepertiga dari sekarang. Jika lapisan es tersebut mencair sampai sepertiganya, akan meningkatkan permukaan air laut lebih dari 6 meter dari sekarang. 

Jadi, akan menenggelamkan wilayah-wilayah pantai dan daratan yang rendah, bisa dibayangkan bahwa 80% kota besar di dunia ada di pinggir pantai, seperti Jakarta akan tenggelam.

Belum lagi penyebaran penyakit tropis seperti malaria, dan akan semakin memperbanyak daerah kering yang akan menurunkan produksi pangan. Bencana alam, seperti angin puting beliung, tornado, banjir, dan kebakaran hutan dan lahan semakin mudah terjadi. 

Dampak dari perubahan iklim sangat luar biasa sehingga Pemimpin Agama Katholik Dunia Paus Johannes Paulus II pernah mengatakan bahwa ancaman paling serius terhadap eksistensi manusia di permukaan bumi ini bukanlah perang, tetapi perubahan iklim. 

Bagaimana untuk meraih komitmen ZES 2050 dihadapkan pada pesimisme namun juga optimisme. Tetapi sebagaimana seruan para demonstran yang hadir di Glasgow, tersebut yang terpenting adalah setiap insan manusia yang hidup di dunia ini melakukan aksi lokal yang serius.

Di antaranya, mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, inovasi dalam pengembangan sumber energi, mengurangi limbah buangan, tidak membakar hutan, dan mengembangkan economic recycle atau siklus economi. Adalah suatu tindakan konomi dalam kehidupan sehari-hari yang dalam konsumsi dan produksi yang bebas limbah atau zero waste. Semoga. (luc/k16)