PORTIMAO – Insiden yang dialami pembalap Leopard Racing Dennis Foggia di ajang Moto3 GP Algarve akhir pekan kemarin mendapat atensi besar dari pembalap MotoGP. Beberapa di antara mereka setuju bahwa MotoGP perlu menerapkan syarat mengantongi super licence. Terutama bagi pembalap yang akan naik kasta ke grand prix kelas premier alias MotoGP.

Ya, kesempatan Foggia mempertahankan peluang menjadi juara dunia Moto3 tahun ini hangus karena terjatuh di GP Algarve. Penyebabnya, dia ditabrak pembalap Petronas Sprinta Racing Darryn Binder dari belakang saat melibas tikungan. Darryn musim depan tampil di MotoGP bersama tim satelit Yamaha, yaitu RNF Racing.

Yang makin menyakitkan untuk Foggia, insiden tersebut terjadi di lap terakhir. Kejadian yang menimpa pembalap asal Italia itu langsung memastikan pembalap Red Bull KTM Ajo Pedro Acosta mengunci gelar juara dunia Moto3 musim ini. Menanggapi kejadian tersebut, pembalap MotoGP dari Ducati, Francesco Bagnaia, menuturkan bahwa MotoGP perlu meniru ajang Formula 1 (F1). Balapan jet darat itu mensyaratkan pembalap mengantongi super licence sebelum terjun ke arena F1. Dia menyebut cara tersebut bisa meminimalkan kejadian seperti yang dialami Foggia.

”Aku sadar, tidak etis mengomentari pembalap lain. Namun, musim depan dia bersama kami di MotoGP. Dan, aku harap kejadian seperti itu tidak terulang lagi,” tutur Bagnaia dilansir Motorsport.

Keputusan RNF Racing merekrut Darryn ke MotoGP memang sempat dipertanyakan. Performa adik kandung pembalap MotoGP dari tim KTM, Brad Binder, itu kurang menjanjikan selama tampil di kelas Moto3. Dalam tujuh tahun tampil di kelas tersebut, dia hanya sekali mendapat podium tertinggi.

Darryn juga terkenal sebagai pembalap yang terlalu agresif di lintasan sehingga sering membahayakan pembalap lain. Akibatnya, dia sampai punya julukan khusus. Yakni, Divebomb Darryn dari komentator MotoGP. Pembalap Monster Energy Yamaha Franco Morbidelli sepakat, super licence bisa menjadi salah satu opsi untuk mengurangi insiden akibat kesalahan pembalap lain di MotoGP. Namun, dia menekankan bahwa tidak selalu pembalap yang memiliki catatan tidak terlalu menonjol di balapan kelas lebih rendah daripada MotoGP gagal bersaing saat tampil di kelas premier. Dia menyebut juara dunia MotoGP musim ini, Fabio Quartararo. Pembalap asal Prancis itu direkrut Petronas Yamaha SRT pada 2019 meski saat itu baru menang sekali di ajang Moto2. (irr/c14/bas)