Pemkot Surabaya berencana memasang plakat informasi kesejarahan Jembatan Merah dan tengah memburu material mobil yang dulu dipakai Mallaby. Dua tetenger lain terkait dengan Hari Pahlawan juga terus berbenah, mulai melengkapi visualisasi dokumenter sampai mengadakan sekolah kebangsaan.

 

SEPTIAN NUR HADI.-HANAA SEPTIANA-EKO HENDRI, Surabaya

 

SEPERTI banyak sekali orang yang menjadikannya latar foto, Syafira Farizka juga tak tahu sejarah di balik Jembatan Merah. Dia tentu bukan yang pertama dan hampir pasti pula bukan yang terakhir. Sebab, tak ada plakat atau papan informasi apa pun terkait dengan jembatan di kawasan Surabaya Utara tersebut. Atau tentang Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby, perwira militer Inggris komandan Brigade Infanteri India ke-49, yang konon tewas tak jauh dari sana.

Jadilah, pada Minggu (7/11) siang itu, bersama dua temannya, Syafira lebih asyik berswafoto bersama. ”Saya cuma tahu bahwa Jembatan Merah salah satu lokasi pertempuran 10 November 1945,” kata Syafira. Hari Pahlawan setiap 10 November mengambil semangat dari pertempuran Surabaya. Heroisme dari palagan besar itu pula yang kemudian membuat Surabaya dijuluki Kota Pahlawan.

Pertempuran itu terjadi di penjuru kota. Jembatan Merah adalah salah satu tetenger penting pertempuran melegenda tersebut. Pendiri Komunitas Roodebrug Soerabaia Ady Setiawan menyebut, memang banyak sekali yang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di Jembatan Merah. Padahal, pada era ponsel pintar yang dilengkapi kamera mumpuni, tak sedikit yang meminati Jembatan Merah sebagai latar foto atau konten.

Informasi tentang Jembatan Merah memang tersimpan rapi di Museum 10 Nopember di kompleks Tugu Pahlawan. Namun, menurut Ady, akan sangat membantu kalau ada papan informasi di lokasi. ”Pengunjung bisa langsung membaca dan mengetahui kisah sejarah di lokasi itu,” ujar dia. Perlu juga dilengkapi restorasi mobil yang digunakan Mallaby ketika tewas tertembak di sekitar Jembatan Merah (ada sejumlah versi lain kematian si perwira Inggris). Menurut Ady, gagasan itu sangat mudah dilakukan Pemkot Surabaya.

”Tak hanya fokus menjaga perwajahan dan kondisi fisik infrastruktur bangunan, pemkot juga bisa berperan penting dalam menjaga sejarah Jembatan Merah,” tuturnya. Gayung pun bersambut, pemasangan papan informasi sejarah di Jembatan Merah dan restorasi mobil Mallaby itu telah masuk rencana Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP CKTR) Surabaya. Tahun depan penataan kawasan kota tua dilakukan. Mulai Jalan Rajawali, Jalan Kembang Jepun, Jalan Panggung, hingga kawasan Sunan Ampel.

Menurut Kabid Bangunan Gedung DPRKP CKTR Surabaya Iman Krestian, memasang plakat atau papan informasi seputar Jembatan Merah di lokasi bisa cepat dilakukan. Namun, yang tak mudah diwujudkan adalah restorasi mobil yang dikendarai Mallaby. ”Karena termasuk mobil tua, materialnya cukup sulit ditemukan. Kami masih mencarinya,” kata Iman.

Tetenger lain pertempuran Surabaya sudah pasti Hotel Majapahit. Tempat terjadinya insiden perobekan bendera Belanda yang terkenal itu. Manajemen hotel yang telah menjadi cagar budaya itu sudah berencana menambahkan sejumlah dokumentasi. Misalnya, film dokumenter dan kliping surat kabar. Tujuannya, visualisasi sejarah lebih menarik saat tur hotel.

Di hotel yang dibangun pada 1910 tersebut, tersedia referensi khusus mengenai peristiwa perobekan bendera. Salah satunya tepat tertera di bawah tiang bendera. Di hotel itu pula, ada kamar nomor 33 atau yang dikenal sebagai Kamar Merdeka. Kamar tersebut menjadi saksi sejarah pusat komando militer Belanda. Terdapat meja bundar dengan empat kursi yang mengelilinginya di salah satu sudut ruangan. Adalah mantan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdul Gani yang menamai kamar itu dengan Kamar Merdeka.

Dua pigura berisi penjelasan sejarah ruangan dipasang di dinding kamar tersebut. Rencananya, ditambah sejumlah visualisasi lainnya. Misalnya, dokumentasi surat kabar Belanda yang memuat peristiwa perobekan bendera. ”Kami yakin, jika tur hotel biasa, pasti akan membosankan tanpa visualisasi menarik,” ujar General Manager Hotel Majapahit Surabaya Kahar Salamun.

Kahar mengungkapkan, sebagian tamu masih tertarik dengan sejarah hotel yang berdiri 111 tahun lalu tersebut. Salah satu komunitas pelestari makam Belanda, Oorlogsgravenstichting, mengagendakan kunjungan ke hotel itu setiap tahun. Tujuannya, tur hotel. ”Harus diakui bahwa ketertarikan WNA terhadap bangunan bersejarah lebih tinggi daripada tamu domestik,” kata Kahar.

Christina Esti Susanti, salah seorang tamu yang tertarik dengan sejarah Hotel Majapahit, sengaja mengambil satu cuplikan video Hari Pahlawan di hotel yang berlokasi di Jalan Tunjungan tersebut. ”Hotel ini referensi yang bagus untuk anak-anak muda memahami sejarah,” ucapnya.

Pertempuran Surabaya juga tak bisa dilepaskan dari resolusi jihad yang dideklarasikan sejumlah kiai sekitar sebulan sebelumnya. Dan, jejaknya tetap terawat di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya di Jalan BubutanVI/2 sampai sekarang.

Setiap menjelang 10 November, bangunan yang dulu pernah dipakai kantor Pengurus Besar NU itu selalu ramai didatangi pengunjung. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Selain penggiat atau peminat sejarah, ada pula anak-anak sekolah. ”Anak-anak tak hanya ingin mengetahui tulisan tentang resolusi jihad, tetapi juga lambang NU zaman dulu,” ungkap Mahardika, pengajar SD Khadijah Pandegiling, Surabaya, yang ditemui Jawa Pos pada Kamis (4/11).

Pria itu mengajak anak didiknya mengelilingi seluruh gedung. Mereka melihat satu per satu foto lawas yang terpajang di tembok. Setidaknya ada 20 foto lawas yang dipajang di kantor PCNU Surabaya. Foto-foto itu hampir seluruhnya berkaitan dengan peristiwa 10 November 1945. Seluruh dokumentasi sengaja dirawat untuk menunjukkan betapa besarnya peran santri pada era perjuangan.

”Semua itu tak terlepas dari resolusi jihad NU yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945,” jelas Ketua PCNU Kota Surabaya KH Ahmad Muhibbin Zuhri. Resolusi jihad dicetuskan beberapa ulama karismatik NU se-Jawa dan Madura. Yang paling berperan adalah Kiai Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat Rais Akbar. Selain itu, ada pula Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai M. Dahlan, Kiai Tohir Bakri, Kiai Ridwan Abdullah, Kiai Sahal Mansur, Kiai Abdul Djalil, Kiai M. Ilyas, Kiai Abdul Halim Siddiq, serta Kiai Syaifuddin Zuhri.

Ada sejumlah hal yang disampaikan melalui resolusi tersebut. Selain meminta pemerintah tak lembek kepada penjajah, para ulama mewajibkan setiap laki-laki dalam radius 94 kilometer ikut maju berperang. Para pejuang yang meninggal karena melawan penjajah diyakini bakal mati syahid.

Seruan ulama menggerakkan jiwa nasionalis para santri. Muncul tentara santri yang membentuk posko-posko perjuangan. Mereka mengatur strategi untuk bisa menggempur penjajah yang kembali datang untuk merebut kemerdekaan. ”Selain foto tulisan, kami membangun museum untuk mengingat resolusi jihad,” ungkap Muhibbin.

Monumen dibangun di dekat kantor PCNU Kota Surabaya. Bangunan berupa tugu yang berisi sejumlah tulisan lawas itu diresmikan Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj pada 2011. Status kantor PCNU Kota Surabaya sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Arsitekturnya juga masih utuh meski sudah sepuh. Renovasi tak menyentuh bentuk bangunan.

”Hanya, sekarang kami bikin lebih ramai. Selain untuk tempat mengaji, bangunan dipakai untuk sekolah kebangsaan,” ungkap Muhibbin. Sekolah kebangsaan itu dihelat setiap menjelang Hari Pahlawan bekerja sama dengan Pemkot Surabaya. Bentuknya bisa napak tilas, seminar, atau kunjungan. ”Kantor kami rutin didatangi anak-anak untuk kegiatan sekolah kebangsaan. Mereka menggali soal jihad ulama,” kata Muhibbin.

Meski awalnya sekolah kebangsaan adalah tugas sekolah, wawasan para bocah dan buyung itu diharapkan akan terbuka tentang resolusi jihad dan pertempuran Surabaya berikut momen-momen serta tetenger-tetenger pentingnya. Jadi, kelak mudah-mudahan mereka bisa tahu alasan 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. (*/c14/ttg)