JAKARTA - Demi mengurangi beban pinjaman investasi, PT Waskita Karya (Persero) Tbk berencana mendivestasikan seluruh aset jalan tol sampai tahun 2025. Rencana BUMN itu telah dicanangkan sampai dengan 2022. Namun, penjualan tersebut tertunda akibat pandemi Covid-19.

Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono mengatakan, pihaknya telah melakukan restrukturisasi utang bank pada perseroan dan anak usaha. Konsolidasinya hingga level 92,35 persen dari target. ”Dengan restrukturisasi ini perseroan dapat meningkatkan efisiensi dengan memperpanjang masa fasilitas kredit sampai 2026 dan mendapatkan bunga yang lebih kompetitif,” ujar Destiawan, kemarin (8/11).

Dia menambahkan, kedepannya perseroan juga fokus mengurangi komposisi utang melalui proses divestasi tol-tol. "Utang yang ditimbulkan oleh investasi jalan tol ini setidaknya mencapai Rp 53 hingga 54 triliun," tambahnya.

Destiawan membeberkan, Tol Becakayu saat ini masih dalam proses pembangunan dan ditargetkan bisa terhubung dan beroperasi hingga Bekasi Barat dan Tambun pada 2023. Selanjutnya, tol Trans Sumatra untuk seksi Kayuagung-Palembang-Bitung juga ditargetkan selesau pada tahun yang sama. ”Proses transaksi sambil bertahap di akhir tahun 2022 kami tawarkan, 2023 akan terjadi deal transaksi,” urainya.

Hingga September 2021, emiten berkode WSKT telah melepas empat ruas tol dengan perolehan dana Rp 6,8 triliun. Destiawan menyebutkan, pihaknya juga dekonsolidasi utang senilai Rp 6 triliun. Sisanya, merupakan margin usaha.

”Selanjutnya, perseroan akan fokus dalam menyelesaikan proyek-proyek infrastruktur sehingga mempermudah proses divestasi yang juga merupakan fokus saat ini dengan tujuan menurunkan kewajiban secara bertahap,” tegasnya.

Destiawan mengatakan bahwa Waskita menjalankan 8 stream penyehatan keuangan. Kemudian, fokus pada penyelesaian proyek existing. Perseroan juga berupaya meningkatkan perolehan nilai kontrak baru dengan fokus pada bisnis water infrastructure, dan airports. Sementara itu, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan bahwa Waskita memiliki utang mencapai Rp 90 triliun hingga akhir 2019. Hal itu karena banyaknya proyek jalan tol yang dikerjakan. ”Sekitar Rp 70 triliun utang ke bank dan obligasi, serta Rp 20 triliun ke vendor," ujar pria yang akrab disapa Tiko tersebut.

Tiko menambahkan bahwa pengerjaan proyek-proyek tol membutuhkan pendanaan yang cukup besar, sehingga membuat keuangan Waskita Karya memburuk karena menambah utang. Alhasil, utang perusahaan pelat merah ini meningkat sangat tajam di sepanjang 2017-2019. ”Setelah melakukan assessment menyeluruh, kami menetapkan 8 stream penyelamatan kondisi Waskita. PMN dan rights issue menjadi satu bagian dari 8 paket perbaikan ini,” pungkasnya. (agf/dio)

 

8 Stream Rencana Penyehatan Keuangan

-Penyertaan Modal Negara (PMN) dan rights issue

- Dukungan pemerintah

-Master Restructuring Agreement (MRA)

-Restrukturisasi utang anak usaha

-Asset recycling atau divestasi jalan tol

-Penyelesaian konstruksi jalan tol

-Transformasi bisnis

-Implementasi GCG (good corporate governance) dan manajemen risiko

Sumber: PT Waskita Karya (Perseroan)Tbk