BALIKPAPAN–Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) wilayah luar Jawa-Bali yang berakhir (8/11), kembali diperpanjang selama dua pekan. Mulai 9 hingga 22 November 2021. Pada perpanjangan PPKM kali ini, Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) memberikan catatan atas capaian vaksinasi di masing-masing daerah. Kaltim termasuk salah satu provinsi yang capaian vaksinasinya di atas angka rata-rata nasional.

Dalam keterangan persnya, Ketua KPC-PEN Airlangga Hartarto menyampaikan, enam provinsi luar Jawa-Bali yang persentase suntikan vaksinasi dosis pertamanya di atas rata-rata nasional adalah, Kepulauan Riau (Kepri), Bangka Belitung (Babel), Kaltara, Kaltim, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Utara (Sulut). Sementara itu, yang capaian vaksinasinya sudah dua dosis di atas rata-rata nasional adalah Kepri, Babel, Kaltim, Jambi, Kalteng, dan Sulut. Provinsi lainnya, capaian vaksinasi dosis satu maupun dosis dua, masih di bawah rata-rata nasional.

Karena itu, PPKM di luar Jawa dan Bali diperpanjang dua minggu dengan kriteria level asesmen ditambahkan dengan capaian vaksin. Untuk capaiannya di bawah 50 persen, dinaikkan satu level PPKM-nya,” kata Ketua Umum DPP Golkar itu. Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Balikpapan Andi Sri Juliarty menyampaikan, belum dipastikan apakah Balikpapan tetap bertahan pada PPKM Level 2 atau justru turun level. Karena berdasarkan data cakupan vaksinasi dosis pertama maupun dosis kedua, Balikpapan telah melampaui angka nasional.

Untuk diketahui, hingga 8 November, capaian vaksinasi dosis pertama secara nasional sebesar 60,21 persen. Sedangkan untuk vaksinasi dosis kedua sebesar 38,03 persen. “Besok (hari ini), kita tunggu inmendagrinya (instruksi menteri dalam negeri),” katanya kemarin. Untuk data cakupan vaksinasi kumulatif dosis pertama di Balikpapan sebesar 76,8 persen. Dalam hal ini, 404.482 orang sudah divaksinasi dosis pertama dari sasaran sebanyak 526.955 orang. Perinciannya, vaksinasi lansia 63,9 persen (25.594 capaian dari 40.048 sasaran), petugas publik 254,4 persen (131.132 capaian dari 51.544 sasaran), SDM kesehatan 135,7 persen (7.816 capaian dari 5.759 sasaran), vaksinasi masyarakat rentan dan umum 58 persen (209.625 capaian dari 361.428 sasaran), usia 12–17 tahun sebesar 44,5 persen (30.315 capaian dari 68.176 sasaran).

Sedangkan cakupan vaksinasi kumulatif dosis kedua mencapai 52,1 persen. Sementara itu, cakupan vaksinasi program Satgas Penanganan Covid-19 Balikpapan diakumulasikan dengan vaksinasi gotong royong, sebesar 89,52 persen untuk dosis pertama dan 64,67 persen untuk dosis kedua. Akan tetapi, Satgas Penanganan Covid-19 Balikpapan tidak dapat menyimpulkan bahwa level PPKM Balikpapan akan turun menjadi level 1. “Kita lihat saja, inmendagri, besok (hari ini),” kata perempuan yang akrab disapa Dio itu.

 

Kasus Covid-19 Meningkat dan Mobilitas Semakin Tinggi

Sementara itu, pemerintah memberikan peringatan kepada masyarakat agar tidak kendur meskipun kondisi pertumbuhan kasus Covid-19 sedang rendah. Dalam evaluasi penerapan PPKM kemarin (8/11), ditemukan terjadi peningkatan kasus pada 43 kabupaten/kota di Jawa-Bali. Meski demikian, Menko Maritim dan Investasi yang juga merupakan koordinator pelaksanaan PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, situasi pandemi Covid-19 yang terus terjaga pada kondisi yang rendah.

Dia menyebut, kasus konfirmasi di Jawa Bali terus mengalami penurunan dari puncaknya hingga mencapai 99 persen dari puncak kasus, 15 Juli. Selain itu, angka reproduksi efektif (Rt) Indonesia dan Jawa-Bali juga masih di bawah 1. ”Ini mengindikasikan terkendalinya pandemi Covid-19,” jelas Luhut kemarin. Angka Rt di Jawa tetap pada angka 0,93 sementara di Bali pada angka 0,97. Dalam Ratas yang dipimpin presiden kemarin siang, kepala negara menyampaikan, semua pihak harus betul-betul waspada dan belajar dari pengalaman negara-negara di Eropa yang mengalami lonjakan kasus harian cukup besar karena lalainya masyarakat menerapkan protokol kesehatan.

Di sisi lain, ada kabar kurang menyenangkan, yakni terdapat tren kenaikan kasus di Jawa-Bali utamanya terjadi pada 43 kabupaten/kota. Tren kenaikan kasus terjadi pada 33,6 persen dari 128 total kabupaten/kota yang melaksanakan PPKM di Jawa-Bali dalam 7 hari terakhir. Dalam waktu dekat, kata Luhut, pihaknya akan mengumpulkan 43 kabupaten/kota di Jawa-Bali tersebut untuk segera mengidentifikasi dan melakukan intervensi demi menahan tren kenaikan.

Sementara itu, menyusul berbagai relaksasi PPKM yang terus dilakukan pemerintah, juga terlihat sejumlah kenaikan mobilitas yang cukup tinggi hingga di atas baseline (garis normal). Luhut menyebut masih ada 34 persen kabupaten/kota di Jawa-Bali yang mobilitasnya cukup tinggi namun tingkat vaksinasinya belum mencapai target. “Peningkatan mobilitas ini wajib diwaspadai,” ungkapnya.

 

Varian AY.4.2 Sudah Sampai Malaysia

Pada kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, varian Covid-19 AY.4.2 sudah menginfeksi orang di Malaysia. Sebagai negara tetangga, Indonesia harus mempersiapkan diri. ”Belum terdeteksi di Indonesia,” katanya. Untuk menemukan kasus sedini mungkin, pemerintah melakukan genome sequencing. Budi menuturkan dalam sebulan dilakukan genome sequencing sebanyak 1.500–1.800 sampel. Jumlah ini dinilai cukup untuk melakukan deteksi dini. Selain itu, pintu perbatasan negara harus dijaga. Dalam hal ini juga termasuk simpul transportasi seperti bandara dan pelabuhan. ”Apalagi (kasus AY.4.2 sudah sampai) Malaysia. Orang Indonesia banyak yang pulang pergi Malaysia,” ucapnya.

Budi juga menerima data bahwa beberapa provinsi menunjukkan kenaikan kasus Covid-19. ”Meskipun (kenaikannya) sedikit itu menjadikan kita harus waspada,” ungkapnya. Ada 155 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan kasus. Kota/kabupaten itu ada di Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, dan Kaltim. Sehingga Kementerian Kesehatan memberikan perhatian lima provinsi ini. (kip/jpg/tau/lyn/riz/k8)