Tak banyak orang yang bisa berkesempatan berpergian ke pulau Maratua. Para wartawan dari kota Samarinda termasuk yang beruntung  bisa pergi ke pulau terluar tersebut bersama Bank Indonesia melalui jalur udara menggunakan penerbangan pesawat Wings Air via Balikpapan ke Bandara Maratua. 

Berjumlah 30 orang lebih, rombongan tiba hari Jumat (5/11/2021) pukul 12.05 Wita. Cuaca di Maratua saat itu berawan tebal. Kali ini, rombongan dibawa Pratasaba Resort, tempat menginap, dengan tiga bus mini elf. 

Bus mini elf di Maratua ada berjumlah 4 buah, merupakan bantuan dari Kementerian Desa Tertinggal RI. Masing-masing setiap bus dikelola satu kampung yang ada di Maratua. 

Ketika, keluar dari bandara Maratua. Jalan aspal hitam mulus terhampar. Sebuah SPBU Pertamina juga baru di bangun namun belum beroperasi. Jalan aspal menghubungkan kampung-kampung di Maratua ini selesai dibangun sejak tahun 2019 lalu.

Bangunan resort dari kayu terlihat bertebaran di pinggir jalan. Catatan dari media ini, sudah ada 11 resort pada tahun 2021 yang beroperasi di pulau Maratua dari semula tahun 2013 hanya 1 resort.

"Dulu hanya satu resort di Maratua, yaitu Paradise. Sekarang sudah ada 11 resort," kata salah satu pengelola Resort. 

Tempat menginap rombongan Bank Indonesia, yakni Pratasaba Resort, terbilang paling representatif. Karena, terdapat gedung pertemuan yang bisa berkapasitas 50 orang lebih. 

Gedung dengan cat warna putih dan atap yang sederhana dilengkapi mesin pendingin menjadi tempat pertemuan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tutuk S.H. Cahyono dengan para wartawan membahas perekonomian Kaltim Triwulan III Tahun 2021. 

Hadir pula Kepala Dinas Pariwisata Berau Masrani pada acara tersebut malam hari sebagai tuan rumah yang menyampaikan potensi pariwisata di Berau dan situasi pandemi COVID-19 terkini. 

Esok harinya, Sabtu (6/11/2021), rombongan menengok UMKM binaan Bank Indonesia di kampung Teluk Alulu. Hampir 10 kilometer jaraknya dengan Pratasaba Resort. Di kampung ini, masyarakatnya masih alami kendala fasilitas listrik dan air. 

Tetapi soal keindahan alamnya, Teluk Alulu dianugerahi air kebiruan dan pasir putih. Suasananya pun tenang jauh dari deburan ombak laut lepas. 

Di Teluk Alulu, dengan pembinaan Bank Indonesia ada beberapa mendirikan home stay dan membuat cinderamata khas dari bahan kayu hitam. 

Pemerintah pun diharap dapat mendukung ekonomi pariwisata di daerah ini dengan penyediaan listrik. Warga Teluk Alulu kini mengandalkan sumbangan bersama untuk genset listrik. 

"Listrik disini menyala dari jam 6 sampai jam 10 malam dengan memakai mesin genset. Setiap hari menghabiskan 2 liter solar," kata Raspi. 

Solar satu liter di Maratua dijual Rp 10 ribu dan bensin Rp 12 ribu. Sedangkan, sumber air di Teluk Alulu mengandalkan air hujan. Bila kemarau, maka warga membeli air ke kampung sebelah dengan setiap tandon seharga Rp 125 ribu. 

Untuk pendidikan, anak-anak di Teluk Alulu harus pergi menggunakan bus mini elf dengan membayar Rp 7500 pulang pergi. Mereka harus sekolah ke Kampung Payung-payung untuk tingkat SMP dan SMA. (Muhammad Yamin)