Jumlah tempat pembuangan sampah (TPS) di Kelurahan Tanah Grogot berkurang. Dari 140 TPS, kini sudah berkurang separuhnya.

 

BERKURANGNYA TPS itu pertanda baik. Warga melalui RT (rukun tetangga) sudah melaksanakan pengelolaan sampah berbasis swadaya masyarakat.  Baru saja di Jalan Padat Karya, Kelurahan Tanah Grogot, satu TPS telah dihancurkan.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Paser Harjana mengatakan, pengurangan TPS tersebut melalui prosedur. Pertama, ada warga dan RT setempat yang mengusulkan.

Jika sudah memenuhi syarat, petugas langsung segera menghancurkan TPS tersebut. Disaksikan langsung warga sekitar. “Biasanya yang mengusulkan ini warga yang TPS-nya tepat berada di depan rumahnya,” kata Harjana, Senin (8/11).

Banyak warga yang mengeluhkan keberadaan TPS di dekat rumahnya, sehingga makin banyak TPS yang dikurangi. Ini pun sejalan dengan misi DLH Paser yaitu pengelolaan sampah berbasis swadaya masyarakat.

Harjana menyebutkan, khusus di jalan utama kota Tana Paser yaitu Jenderal Sudirman, Anden Noko, Ahmad Yani, sudah tidak ada lagi TPS.  Sementara jalan protokol lainnya pun semakin berkurang. “Bulan depan di Jalan Sultan Hasanuddin kemungkinan sudah tidak ada lagi nanti TPS,” lanjutnya.

Dengan berkurangnya TPS, ini membantu tugas petugas pengelola sampah bisa bergerak ke kecamatan. Diketahui selama ini untuk kecamatan di luar Tanah Grogot, pengelolaannya harus antre setelah selesai di kota.

Pengelolaan sampah berbasis swadaya masyarakat perlahan membantu mengurangi keberadaan TPS. Sebab, daerah yang maju di Indonesia, semakin sedikit jumlah TPS-nya. Yang bertambah ialah tempat pembuangan sampah reduce reuse dan recycle (TPS3R).

Dengan pengelolaan swadaya atau TPS3R, bisa membantu mengurangi sampah plastik yang terus menumpuk tiap harinya. Berbeda dengan sampah organik yang mudah dilebur.

Di samping itu, RT setempat bisa memberikan tambahan penghasilan kepada warga yang ingin bekerja memungut sampah di sekitar perumahan atau RT. Tentunya dengan retribusi yang telah disetujui warga.

Sebelumnya hanya di Desa Tapis Kecamatan Tanah Grogot, pengelolaan sampahnya sudah dikelola masyarakat melalui TPS3R. Kini perlahan beberapa RT di Tanah Grogot sudah swadaya.

Dengan kesepakatan warga setempat, sampah dipilah dan dipungut oleh petugas yang sudah ditunjuk dan mendapatkan honor. Lalu dikirim ke bank sampah dan TPA. “Kalau bisa di Tanah Grogot tidak ada lagi TPS. Namun ini bertahap,” kata Harjana.

Keberadaan TPS selama ini kerap mengganggu estetika keindahan kota dan sisi jalan. Ditambah lagi banyak warga yang protes karena aroma TPS sampai ke rumahnya.

Kecamatan Tanah Grogot menjadi daerah penyumbang produksi sampah terbesar tiap harinya dengan angka 36 ton dari jumlah penduduk 72.784 jiwa. Diikuti Long Ikis sebesar 20 ton per hari.

Bahkan untuk kecamatan di luar Grogot seperti Kuaro, Long Ikis sampai Long Kali. Setiap harinya sampah tersebut harus didistribusikan ke Tanah Grogot ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Kilometer 7, Desa Janju, Kecamatan Tanah Grogot.

Dengan luas wilayah Paser sekitar 11.606 kilometer persegi dan 10 kecamatan, dari jumlah penduduk sekitar 281.006 jiwa, ada sekitar 140 ton sampah dalam sehari yang dihasilkan. (jib/kri/k16)