PENAJAM-Setiap 11 Maret Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) merayakan ulang tahun berdirinya kabupaten ini di Kaltim. Setiap prosesi upacara hari ulang tahun itu selalu dibacakan sejarah singkat berdirinya daerah otonomi baru (DOB) di Kaltim 2002 itu. Ari Arief, salah satu pelaku berdirinya PPU yang tergabung dalam tim sukses pemekaran kabupaten menyatakan, catatan histori yang dibacakan itu, keliru.

“Keliru dan tidak lurus. Masyarakat melalui tim sukses pemekaran kabupaten yang mengantarkan PPU jadi kabupaten tidak disebut namanya dalam sejarah yang dibacakan itu. Tetapi, malah orang lain yang disebut-sebut. Ini cukup aneh, dan lucu,” kata Ari Arief, salah satu pejuang pemekaran. Menurut dia, yang lebih tidak bisa dimengerti itu adalah sikap tokoh-tokoh pemekaran yang tampak tidak peduli dengan sejarah singkat itu. Buktinya, hingga 2021 ini ulang tahun PPU sudah yang ke-19. “Selama 19 kali itu pula ada pembacaan sejarah yang berulang dan keliru atau tidak lurus itu,” tuturnya.

Draf Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten PPU yang dibaca oleh salah satu pengurus tim sukses pemekaran yang diterimanya dari Bagian Humas Setkab PPU, menyebutkan nama tujuh orang yang disebutkan dalam sejarah singkat itu. Semua nama itu di luar tim sukses pemekaran PPU. Nama-nama ini sesuai realitas sejarah menyuarakan aspirasi mewujudkan Kecamatan Penajam, Kabupaten Pasir, jadi kota administratif (kotif). “Dan, aspirasi itu sudah berhasil dengan ditekennya surat persetujuan oleh Bupati Pasir---kala itu---(alm) Ahmad Ramli, dan Ketua DPRD Pasir Abdurrahman Parti,” ujarnya.

Menurut dia, apabila menyebut nama tujuh orang itu tidak dalam fokus. Tetapi, seharusnya menyebut atau menuliskan 54 nama-nama anggota tim sukses pemekaran Kabupaten PPU. Terlebih lagi ada jeda waktu skala perjuangan antara tujuh orang itu dengan tim sukses pemekaran kabupaten. Terbitnya UU No 7/2002 tentang Pembentukan Kabupaten PPU adalah hasil jerih payah tim sukses pemekaran kabupaten.

Nama-nama yang dimaksudkannya dan harus ada dalam pembacaan sejarah itu adalah: H Andi Harahap, H Harimuddin Rasyid, H Andi Muhammad Jusuf, Salehuddin, Boy Gh Roentoe, Husein, Benny Subarja Hamdani, H Sayyid Zainal Abidin (alm), H Malkan (alm), Abdul Muin (alm), H Abdullah Makabilla (alm), Mastur Abe (alm), Bahruddin, H Darwis (alm), Ismail Subli, H Andi Rahman (alm), Sujianto, H Marwan (alm), H Basri Abas D (alm), Suhanda (alm). H Dalmansyah (alm), H Hairil Wahyuni, Mahyuddin Rasyid, Muhammad Nawir, Andi Achmad (alm).

Kemudian, Kasno, Adi Paimanais, Firmansyah, Salman, H Andi Safaruddin (alm), Tri Mulyono (alm), H Amiruddin Lambe, Noor Kamal, Andi Muslimin (alm), H Beddu Mattaliu (alm), Abdul Rahman M, Jamaluddin, Daeng Sandrang, Andi M Ansar, H Muhammad Ali, HM Basran (alm), Abdullah B, H Makmur Abe (alm), Sutiman, Budi Santoso, Rizal, H Makulau Pagora (alm), Abdullah Daeng Bido (alm), Hasan, Andi Trasodiharto, Toto Warsito (alm), Samad, Ari Arief, Agus Pamuji.

Sekretaris Tim Sukses Pemekaran PPU Salehuddin, membenarkan apabila ada pembacaan sejarah yang keliru atau belum lurus itu. Ia menyatakan sependapat apabila seluruh anggota tim sukses bertemu untuk membahas persoalan ini. “Kami perlu bertemu untuk merumuskan dan membuat redaksional sejarah yang sesuai fase-fase perjuangan yang telah dilalui itu,” kata Salehuddin.(ari/far/k15)

 

 

Pemkab Sambut Positif

 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU melalui Kepala Bagian Humas Setkab PPU Daud menyambut positif apabila ada sejarah singkat versi revisi, dan versi sejarah final yang sesungguhnya. “Tahun 2020 lalu ada pengurus tim sukses yang datang dan melakukan revisi, ternyata, itu belum final,” kata Daud.

Bagi pemerintah daerah, ujar dia, hanya memfasilitasi saja pada saat kegiatan tiap ulang tahun untuk pembacaan peristiwa yang sangat bersejarah itu. Ia mengatakan sangat senang dan mendukung adanya upaya pelurusan penulisan sejarah, terutama, untuk sejarah singkat yang pada tiap 11 Maret dibacakan itu. “Sejarah memang harus ditulis dengan benar karena kaitannya dengan anak dan cucu kita,” ujarnya.(ari/far/k15)