Konsisten menyumbangkan emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) bukan pekerjaan mudah. Perlu upaya ekstra untuk menstabilkan kemampuan. Namun, semua itu mampu dilewati Muhammad Aliansyah.

 

M RIDHUAN, Balikpapan

 

PELUIT awal pertandingan dibunyikan di final Gulat Gaya Greco-roman kelas 67 kg putra PON Papua di GOR Futsal Dispora, Kabupaten Merauke, Papua, Rabu (13/10) lalu. Pegulat asal Kaltim Muhammad Aliansyah langsung menyerang lawannya, pegulat asal Jawa Barat Peri Budiyawan. Itu adalah gaya bertanding Aliansyah. Untuk mengukur kekuatan lawan.

“Pas deg. Wah, ngelawan. Berarti power-nya besar,” kata Aliansyah kepada Kaltim Post, Jumat (5/11).

Menit awal pertandingan, Aliansyah yang saat itu berkostum merah tampak tertekan. Bahkan dirinya sempat terkena pelanggaran. Mendapatkan pasif yang membuat lawannya memperoleh poin 1. Namun, Aliansyah berhasil mengamankan posisinya. Hingga Peri tak mampu memanfaatkan peluang. “Dari situ saya coba kejar,” ujarnya.

Aliansyah pun mengingat anaknya, Muhammad Parvaiz Athaly yang berusia 3 tahun. Yang selama persiapan, pra-PON, hingga PON ditinggalkannya untuk dirawat mertua. Anak yang diharapkannya mampu meneruskan jejak dirinya. Dan tak ingin saat bertemu nanti muncul rasa malu karena kalah. Semangatnya pun memuncak. Lelah dilupakan. Di sisi lain dia sadar harus tampil habis-habisan. Ini final. Hingga bisa membalik keadaan dengan terus menekan lawan.

“Pokoknya ingat anak,” sebutnya. Ingat anak ini juga dilakukannya untuk mengejar ketinggalan poin saat menghadapi atlet asal Jawa Timur. Saat itu dirinya tertinggal 6-0, namun akhirnya menang dengan poin 6-14 untuk kemenangannya hingga mengantarkannya ke semifinal.

Kembali ke pertandingan final, pada menit kedua, Peri akhirnya terkena pelanggaran. Saat posisi pasif lawannya itu, Aliansyah pun berhasil mengangkatnya. Lalu menggulungnya. Poin demi poin diraih. Meski lawan sempat akan melakukan counter dengan kayang. Namun, Aliansyah mampu mengantisipasinya. Hingga pertandingan dinyatakan berakhir sebelum menit keenam.

“Alhamdulillah saya dapat poin mutlak, 9-1,” ucapnya. Kemenangan itu membuat Aliansyah di posisi puncak. Dirinya pun dikalungi medali emas. Emas keempatnya di ajang PON (2008, 2012, 2016, dan 2021). Sekaligus membuktikan, meski di usianya yang ke-30, dia bisa unggul dari lawan yang masih berumur 20 tahunan.

Sujud dilakukan pria 30 tahun itu. Setelah pertandingan, sebenarnya Aliansyah mengaku sangat ingin menangis. Namun, dirinya gengsi. Tangisnya baru pecah saat melakukan video call dengan anak dan istrinya. Sekaligus bersyukur, dengan persiapan yang apa adanya, dirinya mampu mempersembahkan emas untuk Kaltim.

“Dengan kondisi begini, saya bersyukur bisa tampil maksimal. Kalau bukan dari diri yang habis-habisan, saya pikir tidak akan bisa. Karena teman-teman yang lain banyak yang mengeluhkan soal kelelahan dan kondisi fisik,” ungkapnya.

Bicara soal persiapan, Aliansyah memang mengaku jauh sebelum PON Papua sudah berlatih keras. Bahkan saat anaknya sakit pun, dia lebih mendahulukan latihan rutinnya. Sebab, menurut dia, berhenti berlatih pun dia tak bisa menyembuhkan anaknya. Tentu dengan konsekuensi dimarahi sang istri. “Karena kondisi pandemi, tentu latihan lebih terbatas. Di awal-awal, atlet tak diperkenankan latihan bersama. Harus latihan mandiri. Gym juga ditutup,” sebutnya.

Padahal bagi pegulat, latihan fisik jadi prioritas. Meski gulat adalah olahraga solo, namun perlu rekan untuk melatih teknik dan mengukur kekuatan. Hal itu sulit dilakukan selama pandemi. Hingga saat awal penyebaran Covid-19, Aliansyah lebih banyak melakukan latihan di rumah. “Latihannya pakai yang ada saja. Dorong motor. Bergulat sama istri. Kalau ada keponakan, saya angkat-angkat,” ujarnya.

Meski beberapa kali program latihan dilakukan bersama, atlet seperti dirinya “diharamkan” untuk menyentuh matras. Dan kerap harus ditunda sementara karena ada atlet yang reaktif Covid-19.

Program latihan baru bisa dimaksimalkan saat pemusatan latihan daerah (puslatda) jelang pelaksanaan PON selama tiga bulan. Namun, sebelum puslatda, atlet gulat seperti dirinya bersyukur dibolehkan latihan di salah satu gym di kawasan Sempaja, Samarinda. “Gym itu ditutup untuk umum. Jadi, khusus dibuka untuk gulat. Kurang tahu untuk cabor lain,” ucapnya.

Selain latihan, kendala lain adalah pemenuhan gizi, vitamin, dan suplemen tambahan untuk menjaga kesehatan tubuh. Pasalnya, selama program latihan mandiri tersebut, pengeluaran menjadi tanggung jawab pribadi. Seperti dirinya, yang menggantungkan semua itu dari gaji bulanan yang diberikan KONI.

Sejak awal menurutnya, gaji Rp 3 juta yang diberikan itu sudah menjadi keluhan atlet yang menghadapi PON. “Selama berjalanannya program mandiri, untuk makan, beli vitamin, dan suplemen dari uang gaji KONI itu saja kurang. Tetapi kami tetap menjalani program,” bebernya.

Terkait posisi Kaltim di ranking 7 perolehan medali di PON Papua, Aliansyah sebenarnya menyayangkan. Namun, dengan melihat kondisi di lapangan, dia menyebut ada faktor pada terlalu pendeknya jarak antara kedatangan atlet di Papua dengan jadwal pertandingan. Dia melihat banyak rekannya yang belum bisa menyesuaikan diri begitu bertanding.

“Seharusnya kami satu minggu sudah tiba sebelum penimbangan. Juga untuk menyesuaikan cuaca. Tetapi yang terjadi untuk (atlet gulat) putri itu, tiga hari sampai sudah harus bertanding. Akibatnya banyak target yang lepas,” jelasnya.

Keputusan tidak datang lebih awal disebut Aliansyah karena ada kabar kontingen daerah lain yang datang sebelum pembukaan PON tidak mendapatkan tempat dan fasilitas latihan. Hal itu tentu memengaruhi kondisi atlet. “Sebelumnya saya sudah memberi masukan, kami sudah sampai di Papua tanggal 1 Oktober. Tapi karena dengar kondisi teman-teman atlet yang tidak diterima sebelum pembukaan, akhirnya keberangkatan diundur,” sambungnya.

Terlepas dari semua kondisi tersebut, dia berharap di PON XXI 2024 di Aceh-Sumut nanti, Kaltim bisa mendapatkan medali lebih banyak dan ranking lebih baik dari PON Papua. Bahkan bisa melampaui prestasi di PON XIX Jawa Barat pada 2016 lalu.

Baginya ini menjadi momen balas dendam atas kondisi PON Papua. Untuk itu dirinya ingin, program latihan yang saat ini ada bisa diubah. Bukan lagi program latihan secara umum. Melainkan per cabang olahraga.

“Ini bisa menjadi evaluasi bagi KONI Kaltim. Seperti program latihan untuk gulat ya fokusnya yang mengedepankan fisik,” katanya. “Saya pun kalau dipercaya dan umur saya masuk, saya siap kembali bertanding,” imbuhnya. (rdh/rom/k16)

 

 

PRESTASI MUHAMMAD ALIANSYAH

1. Medali Emas PON XVII-2008 Kaltim

2. Medali Emas PON XVIII-2012 Riau

3. Medali Emas PON XIX-2016 Jawa Barat

4. Medali Emas PON XX-2021 Papua

5. Medali Emas SEA Games XXVI-2011 Indonesia

6. Medali Perak SEA Games XXV-2009 Laos

7. Medali Perunggu Asia Junior 2011