NORWICH – Frank Lampard sudah hampir sepuluh bulan ”menghilang”. Setelah diberhentikan sebagai tactician Chelsea pada 25 Januari lalu, Lampard membagi waktunya antara family time dan menjadi pandit BBC Sport. Meski musim sudah berganti, Frankie –sapaan akrab Lampard – belum kembali menangani tim.

”Aku tentu tidak pernah menolak untuk melatih lagi. Sebab, aku mencintai pekerjaan ini (sebagai pelatih, Red). Aku juga menyukai tantangan dalam pekerjaan ini,’’ ungkap Lampard pada musim panas lalu kepada BBC Sport.

Lampard sempat dirumorkan dengan sejumlah jabatan pelatih. Tapi, kebanyakan berasal dari klub dari kompetisi di bawah Premier League (Championship). Kondisi yang diyakini membuat pria kelahiran Romford, London, 43 tahun lalu itu tidak ingin ”turun kasta”. ”Dua pengalaman hebat telah kumiliki. Di Derby (County, klub Championship), lalu di Chelsea, dan aku akan kembali melatih di klub dan momen yang tepat,” beber pelatih bulanan terbaik Premier League edisi Oktober 2019 tersebut.

Momen yang tepat bagi Lampard bisa jadi saat ini. Sementara klub yang tepat mungkin Norwich City atau Aston Villa. Dua klub Premier League itu sama-sama berpisah dengan pelatih masing-masing kemarin. Yaitu Daniel Farke (Norwich City) dan Dean Smith (Aston Villa).

Farke dipecat justru setelah mempersembahkan tiga angka pertama untuk The Canaries. Di kandang Brentford FC, The Canaries menang 2-1 pada Sabtu malam lalu (6/11). Tapi, itulah satu-satunya kemenangan Grant Hanley dkk sehingga juara Championshop musm lalu tersebut masih berada di dasar klasemen.

Tadi malam, Smith juga dilengserkan setelah The Villa kalah lima kali beruntun. Berakhir pula cerita Smith yang pada musim pertamanya (2018—2019) membawa klub milik dua pengusaha Naseef Sawiris (Mesir) dan Wes Edens (Amerika Serikat) itu promosi ke Premier League.

”Frank Lampard adalah favorit utama (sebagai pelatih baru) Norwich City,” tulis beberapa media Inggris seperti Daily Mail dan The Independent.

Potensi kedatangan Lampard ke Norwich City mendapat dukungan dari Darren Eadie, mantan gelandang The Canaries dekade 1990-an. ”Saya yakin Frank akan cocok dengan klub ini setelah (menggunakan) pelatih bukan dari Inggris,” ucap Eadie kepada Sky Sports.

Sejak memecat Neil Adams pada 5 Januari 2015, Norwich City lebih memilih pelatih non-Inggris. Antara lain duo Skotlandia, Alex Neil (2015–2017) dan Alan Irvine (2017), lalu Farke (2017—2021).

Meski tidak punya rekam jejak menyelatmatkan klub dari jurang degradasi, ada nilai plus dari Lampard. Yaitu mampu memaksimalkan kemampuan para pemain asuhannya, khususnya pemain muda. Ketika menangani Chelsea, Lampard tidak bisa belanja pemain baru karena sanksi embargo transfer.

Norwich City pun termasuk klub yang hanya menghabiskan GBP 59,54 juta (Rp 1,15 triliun) untuk berbelanja pemain musim panas lalu. Termasuk anggaran belanja rendah bagi sebuah klub Premier League.

Nilai plus lainnya adalah pendekatan taktik Lampard yang tidak berbeda jauh dari Farke. Sama-sama mengusung formasi 4-2-3-1.

Mantan penyerang Chelsea Didier Drogba juga menambahkan potensi Lampard bagi The Canaries. Menurut Drogba, Lampard bakal dengan mudah beradaptasi karena tekanan di Norwich City tidak sebesar ketika menangani Chelsea.

”Andaikan musim ini dia gagal menjadi penyelamat klub dari ancaman degradasi, aku percaya musim depan dia akan membawa Norwich City juara Championship,’’ tutur Drogba dalam YouTube De Millenium Chelsea. (ren/dns)