JAKARTA - Pengumuman tapering off oleh The Federal Reserve (The Fed) tidak berdampak besar terhadap pasar saham Indonesia. Meski demikian, pelaku pasar masih menanti pernyataan sejumlah petinggi bank sentral Amerika Serikat (AS) itu. Juga, hasil kinerja keuangan sejumlah emiten di dalam maupun luar negeri yang akan terbit pekan ini.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengatakan, The Fed akan mulai mengurangi quantitative easing (QE) pada akhir bulan ini. Pengurangan stimulus dimulai dengan memotong laju pembelian aset sebesar USD 15 miliar setiap bulan. Terdiri dari USD 10 miliar untuk surat berharga alias treasury dan USD 5 miliar untuk jaminan berbasis mortgage atau agency mortgage-backed security (agency MBS).

Hans menyebutkan, respon pasar menanggapi keputusan tapering The Fed saat ini sangat berbeda ketimbang 2013 silam. Bahkan, justru ditanggapi positif sebagai sebuah kepastian kebijakan. “Faktor yang mungkin negatif bagi pasar, bila The Fed melakukan perubahan kebijakan suku bunga,” katanya kepada Jawa Pos, tadi malam.

Selain itu, sekitar 420 perusahaan di indeks S&P 500 telah melaporkan hasil kinerja kuartal III. Hasilnya, laba perusahaan naik sekitar 41,2 persen. Sementara sentimen laba korporasi dalam negeri, masih akan menjadi salah satu katalis utama pergerakan saham di Indonesia.

Oleh karena itu, pelaku pasar masih berhati-hati. Mereka menunggu beberapa data penting akan terbit. “Indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan ini berpeluang melemah dengan support di level 6.550 sampai 6.480 dan resistance di level 6.617 hingga 6.687,” kata dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.

Dari dalam negeri, Hans menyebutkan, naiknya harga komoditas batu bara dan minyak kelapa sawit menjadi sentimen positif bagi pasar saham tanah air. Mengingat, Indonesia merupakan pengekspor terbesar di dunia untuk kedua komoditas itu. “Tak ayal, Indonesia mendapat banyak manfaat dari krisis energi ini,” ucapnya.

Meskipun demikian, investor global tetap memandang Indonesia berisiko dan rentan terhadap pelarian modal jika suku bunga Fed rate naik tajam. Berkurangnya kepemilikan asing pada obligasi negara dinilai sebagai kehati-hatian pada prospek pertumbuhan. Terutama, pemerintah Indonesia terikat secara hukum untuk mengurangi defisitnya.

“Indonesia adalah anggota fragile five Asia dianggap cukup rapuh bersama India sebagai negara yang sangat rentan terhadap aliran uang asing yang berubah-ubah berkaca pada 2013 lalu,” jelas Hans.

Terpisah, pelaksana harian Sektetaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Aulia Noviana Utami Putri menuturkan, IHSG ditutup pada zona merah pada perdagangan akhir pekan lalu. Yakni, level 6.581,78. Mengalami penurunan tipis sebesar, 0,15 persen dari level 6.591,346 pada pekan sebelumnya. “Perubahan turut terjadi pada kapitalisasi pasar bursa, yaitu hanya 0,12 persen menjadi Rp 8.078,470 triliun dari Rp 8.087,955 triliun pada pekan sebelumnya,” ungkapnya. (han/dio)