Peliput: M Ridhuan, Nofiyatul Chalimah, Doni Aditya

 

Satu bulan sudah Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 berlalu. Sejumlah evaluasi harus diambil cepat. Terlebih PON berikutnya di Aceh dan Sumut tak sampai tiga tahun lagi. Tentu target berikutnya harus lebih.

 

ADA banyak hikmah yang bisa dipetik oleh Kaltim sebagai salah satu peserta di multievent olahraga empat tahunan tersebut. Bukan hanya pelajaran untuk KONI Kaltim semata, namun juga seluruh elemen yang terlibat, tak terkecuali peran aktif pemerintah provinsi.

Seperti diketahui, di PON Papua, Kaltim meraih 25 medali emas, 33 perak, dan 42 perunggu. Raihan 25 emas itu menyamai perolehan Kaltim di edisi PON sebelumnya di Jawa Barat 2016 silam. Kendati demikian, di tangga klasemen posisi Kaltim di Papua turun dua setrip ke posisi ketujuh.

Ada beberapa alasan yang membuat posisi Kaltim berada di peringkat tujuh di edisi PON Papua. Di antaranya, keterlambatan menggelar pemusatan latihan daerah (puslatda). Berkaca pada edisi PON sebelumnya, persiapan atlet cukup matang dengan waktu enam bulan. Sementara edisi PON kali ini, atlet hanya melakoni persiapan maksimal 2,5 bulan.

Keterlambatan turunnya anggaran menjadi salah satu sebab puslatda digelar singkat. Walhasil, persiapan tersebut berpengaruh ke performa atlet di arena tanding. Selain itu, minimnya uji tanding (try in dan try out) jadi sebab lainnya. Pada masa pandemi nyaris semua cabor Kaltim tidak bisa melaksanakan uji coba.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan daerah yang pembinaannya cukup baik. Semisal Bali yang berhasil masuk lima besar. Sebagai informasi, Bali selama ini dijadikan sebagai lokasi pemusatan latihan nasional (pelatnas) menuju pra-Olimpiade dan Olimpiade. Sehingga suasana di Bali lebih kompetitif dan kondusif. Dengan adanya atlet pelatnas membuat beberapa cabor di Bali bisa melakoni uji tanding.

Selain itu, beberapa cabor seperti kriket pada masa persiapan kesulitan mencari tempat latihan. Venue yang biasa digunakan untuk latihan di Kompleks Stadion Sempaja Samarinda ditutup karena pandemi Covid-19. Walhasil, kriket lebih banyak menjalani latihan secara mandiri. Kondisi itu membuat target emas kriket meleset.

Meski demikian, di tengah banyaknya kendala pada masa persiapan, Kaltim tetap mampu mendulang emas dengan jumlah yang sama di PON Jawa Barat 2016. Raihan itu terbilang luar biasa, mengingat jumlah atlet dan cabor yang dipertandingkan di Papua lebih sedikit dari Jawa Barat.

Dari jumlah atlet, di PON Papua, Kaltim mengirimkan 368 atlet. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit ketimbang PON di Jawa Barat sebanyak 555 atlet. Pun demikian dengan cabor yang dipertandingkan, di Papua ada 37 cabor dengan disiplin cabor 56. Sedangkan di Jawa Barat ada 44 cabor dengan disiplin cabor 65.

Di Papua beberapa cabor Kaltim yang kerap menyumbang emas tak dipertandingkan. Di antaranya balap sepeda dan dansa. Dua cabor itu punya catatan bagus setiap terlibat di PON.

Artinya pencapaian Kaltim di Papua sebenarnya lebih baik dari capaian di PON Jawa Barat dari segi prestasi. Sebab, dengan cabor dan atlet yang lebih sedikit, Kaltim masih bisa mempertahankan 25 medali emas. Jumlah itu menjadi modal penting bagi Kaltim menuju PON berikutnya di Aceh dan Sumatra Utara 2024.

Ketua Umum KONI Kaltim Zuhdi Yahya mengatakan, semua daya upaya sudah dilakukan KONI Kaltim untuk mendapatkan prestasi terbaik di Papua. Selama masa persiapan KONI Kaltim sejak jauh hari mengusulkan agar puslatda digelar selama enam bulan. Namun, karena anggaran terlambat cair, walhasil pemusatan latihan digelar lebih singkat.

“Dengan persiapan yang cukup singkat, tapi Kaltim masih bisa mendapatkan 25 emas itu adalah prestasi yang cukup bagus. Kami menyaksikan sendiri bagaimana atlet berjuang mati-matian di Papua. Perjuangan mereka tidak mudah, tapi hasilnya juga patut disyukuri kita bisa mempertahankan 25 emas di PON Jawa Barat 2016,” terang Zuhdi.

Zuhdi menuturkan, 25 medali emas itu menjadi modal penting menuju PON XXI di Aceh dan Sumatra Utara (Sumut) 2024. Zuhdi berharap, persiapan Kaltim kali ini bisa lebih siap dari PON Papua, sehingga bendera Ruhui Rahayu bisa berkibar tinggi.

“Pada intinya PON Papua memberikan pelajaran berharga untuk kita semua, tidak hanya atlet tapi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Semoga di PON berikutnya Kaltim bisa mempersiapkan diri lebih maksimal dengan dukungan anggaran yang optimal, sehingga bisa meraih prestasi terbaik,” pungkas Zuhdi.

PERLU SINERGISITAS

Sama seperti pada edisi PON sebelumnya, Kaltim menitikberatkan perolehan medali emas kepada cabor-cabor unggulan. Pun demikian di PON XX Papua lalu, Benua Etam masih mengandalkan cabor langganan emas seperti gulat, layar, taekwondo, panjat tebing serta beberapa cabor lainnya.

Namun, ekspektasi tersebut tak sejurus dengan hasil yang diraih. Ada beberapa cabor yang sejak awal menargetkan medali emas namun gagal terealisasi. Ada beberapa faktor yang membuat cabor unggulan gagal mewujudkan target. Selain faktor teknis, ada juga yang bersifat nonteknis.

Konsultan teknik KONI Katim Dikdik Jafar Sidik menjelaskan, sejumlah penyebab cabor gagal meraih emas, di antaranya faktor nonteknis saat pertandingan. Untuk contoh kasus nonteknis, Dikdik mengambil sampel Mariska Halinda dari cabor taekwondo.

Pada pertarungan semifinal menghadapi tuan rumah, sejatinya Mariska bisa saja menang dan masuk final. Terlebih Mariska adalah salah satu taekwondoin putri terbaik di Tanah Air yang aktif di pelatnas. Sementara lawan yang dihadapi levelnya jauh di bawah Mariska. Namun faktanya, Mariska gagal melaju ke final karena ada faktor nonteknis tersebut.

“Kalau bicara kualitas, Mariska lebih baik tentunya. Tapi ada penilaian yang janggal saat Mariska bertarung menghadapi tuan rumah. Ada pukulan atau tendangan yang harusnya menjadi poin untuk dia tapi tidak diberikan. Sementara ketika lawannya melakukan hal yang sama, mendapatkan poin,” beber Dikdik.

Sementara faktor teknis, dia mengambil contoh atlet pencak silat putri Kaltim Siti Nur Dzubaidah. Di partai final, Djuju --sapaan karib Djubaidah-- berhasil mendominasi angka. Bahkan memimpin jauh dari pesilat Sulawesi Utara. Kendati demikian, Djuju harus menyerahkan medali emas kepada lawannya lantaran dirinya mengalami cedera di tengah laga. “Kalau ini sudah berbicara teknis. Djuju cedera dan dia tidak mungkin bisa melanjutkan pertandingan meski berpeluang emas,” tutur Dikdik.

Terlepas dari kegagalan cabor unggulan, PON Papua juga memberikan kejutan besar untuk beberapa cabor Kaltim. Salah satunya kempo yang di luar dugaan mampu menyumbang empat emas. Padahal di awal persiapan, tak sedikit yang meragukan kempo bisa meraih emas. Namun, kempo berhasil menyumbang empat medali emas. “Kempo ini di luar prediksi. Dari non-unggulan justru melesat menyumbang empat medali emas. Ini sangat luar biasa,” beber Dikdik.

Dari semua hasil yang diraih cabor, Dikdik menyimpulkan bahwa Kaltim mesti mulai memperbaiki sistem pembinaan. Selain perbaikan dari cabor, dukungan dari pemerintah sangat diperlukan. Sebab, pembinaan tanpa anggaran akan sangat sulit.

“Ada sembilan pilar dalam kebijakan yang bisa menunjang prestasi olahraga. Yakni keuangan, tata kelola organisasi, partisipasi olahraga, pengembangan bakat, dukungan karier (setelah menjadi atlet), fasilitas latihan, ketersediaan pelatih, kompetisi, serta penelitian ilmiah dan inovasi keolahragaan,” papar Dikdik.

Lebih lanjut Dikdik menyebut, jika sembilan pilar tersebut mampu dipenuhi, bukan tidak mungkin Kaltim bisa bersaing dengan daerah maju lainnya di posisi atas. “Tentunya semua harus dijalankan secara sinergi antara pemerintah, KONI, pengurus cabor, pelatih, atlet, dan sponsorship,” ungkapnya.

FOKUS CABOR PERORANGAN

Ketika menjadi tuan rumah pada PON 2008, Kaltim bertengger di posisi ketiga. Lalu, pada PON 2012 di Riau, prestasi Kaltim menurun di posisi peringkat kelima. Peringkat yang sama juga didapatkan pada PON 2016 yang diselenggarakan di Jawa Barat. Namun, pada PON Papua, prestasi Kaltim merosot menjadi peringkat 7.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kaltim Agus Tianur menjelaskan, evaluasi harus dilakukan sejak sekarang untuk menghadapi PON Aceh dan Sumatra Utara. Apalagi dipahami bahwa pendapatan medali Kaltim menurun. Mengingat, semua daerah juga terus berlomba-lomba meningkatkan kemampuan para atlet mereka. Jadi jika hanya bertahan dengan kemampuan yang sudah ada, bisa saja dikalahkan.

“Prestasi beberapa cabor di beberapa provinsi kini sudah mulai merata. Terbukti selisih medali tidak terlampau jauh. Beberapa cabor yang tadinya kita unggul, kini sebagian sudah bisa direbut daerah lain,” jelas Agus.

Dengan demikian, atlet dan pengurus cabor di Kaltim harus memperkuat cabor. Salah satu cabor yang harus digenjot saat ini adalah di cabor perorangan yang medali diperebutkannya cukup banyak. Seperti atletik, renang, dayung, hingga selam. “Kalau kita bisa melakukan ini, kita semakin diperhitungkan daerah lain,” imbuhnya.

Sebelumnya Gubernur Kaltim Isran Noor berharap Kaltim bisa menepati posisi tiga kembali. “Sebagai calon ibu kota negara, Kaltim sudah semangat. Karena ketika di Papua pasti ditanya lawan. Dari mana? Kaltim. Ibu kota negara ya. Itu pasti menjadi semangat baru untuk juara. Yakin bisa tiga besar,” kata dia.

Dia menjelaskan, bonus bagi atlet berprestasi dalam PON tidak diberikan Pemprov Kaltim tahun ini karena keterbatasan anggaran. Namun, bonus tersebut akan diusulkan pada APBD 2022. “Mungkin kami usulkan ke Anggaran Murni 2022. Kan itu tidak lama lagi,” janjinya.

Pada 14 September 2021 lalu, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim menyampaikan usulan anggaran untuk bonus atlet dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPRD Kaltim dan Pemprov Kaltim.

Dari hasil pertemuan, berdasarkan formula yang telah disusun KONI Kaltim, jumlah bonus atlet yang perlu disiapkan mencapai Rp 47,4 miliar. Dengan asumsi, bonus atlet untuk peraih medali emas mencapai Rp 350 juta. Pemberian bonus merupakan suatu apresiasi pemerintah terhadap atlet yang bertanding membawa nama baik daerah. Itu adalah kebijakan pemerintah daerah, sebagai bentuk penghargaan kepada atlet yang berjuang, yang bertarung di pentas nasional mengharumkan nama daerah. (rom/k16)