LIVERPOOL – Sepak bola tidak melulu pertandingan 11 vs 11. Di Anfield (4/11), misalnya, tuan rumah Liverpool FC boleh dibilang hanya bermodal empat pemain saat sukses menekuk Atletico Madrid dua gol tanpa balas pada matchday keempat grup B Liga Champions 2021–2022.

Tiga di antara empat pemain tersebut beroperasi di sisi kanan area serangan The Reds. Fullback kanan Trent Alexander-Arnold, kapten sekaligus gelandang Jordan Henderson, dan wide attacker Mohamed Salah seolah membentuk koneksi apik. Hal itu diakui tactician LFC Juergen Klopp.

”Satu hal yang Anda lihat malam ini (kemarin, Red) adalah terciptanya segitiga yang sangat fleksibel di sisi kanan kami,” ucap Klopp di laman resmi klub. Dua gol LFC memang lahir bukan dari pemain di segitiga kanan LFC. Masing-masing oleh striker Diogo Jota (13’) dan wide attacker kiri Sadio Mane tujuh menit setelahnya. Tapi, dua gol itu berasal dari umpan Alexander-Arnold.

Kreativitas permainan LFC juga bersumber dari TAA (inisial Trent Alexander-Arnold), Hendo, dan Salah. Sentuhan bola terbanyak dilakukan Hendo dengan 107 kali. Setelah bek tengah Virgil van Dijk (99 kali), menyusul TAA (93 kali) dan Salah (91 kali).

Untuk operan, TAA paling banyak dengan 113 kali, disusul Hendo 95 kali. TAA juga sangat fleksibel sehingga sukses mengecoh taktik entrenador Atletico Diego Simeone. ”Sampai-sampai Mo (Salah) bertahan sebagai bek kanan karena Trent bisa masuk sampai area kotak penalti Atletico,” ulas Liverpool Echo.

Pep Ljinders, asisten Klopp, membeberkan bahwa antara TAA, Hendo, dan Salah memang telah memiliki chemistry satu sama lain. ”Itulah yang membuat mereka bisa bermain tanpa terprediksi,” kata Ljinders. Yang mengingat saat LFC mengalahkan Manchester United akhir bulan lalu (31/10) tentu takjub bagaimana chemistry yang terjalin indah ketika umpan Hendo diselesaikan Salah sebagai gol ketiganya dalam laga di Old Trafford tersebut.

Kepada BT Sport, TAA mengungkapkan bahwa antara dirinya dan Salah semakin memiliki pemahaman permainan yang sangat baik. ”Semuanya seperti mengalir begitu saja secara alami,” ucap pemain termuda ketiga LFC yang mampu mencatatkan dua assist dalam satu laga di Liga Champions itu. Sekarang usia TAA adalah 23 tahun 27 hari. Satu-satunya scouser di skuad LFC itu juga menyebut bahwa fleksibilitas posisi antar pemain merupakan permintaan Klopp.

TAA pun tidak sependapat bahwa LFC bermain bagus lantaran Atletico kehilangan bek Felipe setelah menerima kartu merah pada menit ke-36. Faktanya, saat kartu merah itu diberikan, LFC sudah unggul dua gol. ”Kami juga belajar dari pengalaman di Madrid (saat menang 3-2 di Wanda Metropolitano, 20/10, Red),” ucap TAA.

Kala itu, meski Atletico juga bermain dengan 10 orang sejak menit ke-52 dan skor 2-2, LFC kesulitan untuk memanfaatkan keuntungan kuantitas. Gol kemenangan The Reds baru tercipta 12 menit terakhir sebelum bubaran memanfaatkan hadiah penalti. (ren/c19/dns)