Lidi nipah biasanya digunakan sebagai salah satu bahan kerajinan di Kaltim. Namun siapa sangka, ternyata lidi tersebut punya pasar di luar negeri. Provinsi ini punya peranan untuk mengekspor komoditas tersebut.

 

CATUR MAIYULINDA, Samarinda

 

MARKET share usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kaltim 50 persen masih berskala provinsi. Skala kabupaten mencapai 33 persen, dan skala nasional 14 persen. Sedangkan skala global, atau ekspor hanya 3 persen, dari total jumlah UMKM.

Harapannya, UMKM di Kaltim sudah bisa menembus pasar ekspor. Lidi nipah menjadi salah satu komoditas, yang bisa mendorong UMKM Kaltim memiliki pasar yang lebih luas. Sebab, Kaltim masih menjadi pemain tunggal ekspor komoditas itu.

Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengatakan, potensi ekspor Kaltim sangat terbuka lebar. Pihaknya mendorong seluruh UMKM bisa melakukan ekspor. UMKM Kaltim harus terdaftar, saat ini setidaknya ada 85 ribu lebih nomor induk berusaha (NIB) yang sudah diterbitkan. Artinya, Pemprov Kaltim sudah memfasilitasi agar UMKM secara legal bisa melakukan ekspor.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Semua harus bekerja sama mendukung agar UMKM memiliki pasar global. Dari Bank Indonesia membantu memfasilitasi agar UMKM bisa mendapat pembiayaan dari perbankan di daerah. Ada juga Yayasan Hanida yang membantu mencari pasar bagi produk UMKM kita,” jelasnya setelah kegiatan Percepatan Pemulihan Ekonomi melalui Perluasan Ekspor UMKM di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Kamis (4/11).

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, Benua Etam harus memiliki sektor unggulan yang tidak dimiliki daerah lain. Salah satunya ekspor lidi nipah dan lidi sawit. Sebab, permintaannya di luar negeri sedang banyak.

“Jadi nanti dari daerah lain, dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, lidi nipah dan sawitnya dikumpulkan di Kaltim, lalu akan kita ekspor. Sebab, kita yang punya buyer itu,” tuturnya.

Menurut Tutuk, jangan hanya ekspor lidi nipah berskala kecil saja. Harus ada industri yang besar, agar bisa didorong ke pentas nasional. Artinya pengaruh ekonominya akan besar, karena limbah yang potensial untuk ekspor. Apalagi ini sektor padat karya, yang memberdayakan masyarakat desa. Sehingga, dampaknya akan lebih besar dan dinikmati oleh banyak orang.

Saat ini, permintaan lidi nipah ke Kaltim mencapai enam kontainer dalam sebulan. Tapi, hanya bisa dipenuhi dua kontainer. Sehingga ada pasar potensial yang bisa dimainkan oleh Kaltim. Apalagi sektor ini belum banyak yang memainkan, Kaltim bisa berperan besar. “Pasarnya dulu yang kami persiapkan, lalu suplai. Agar menjadi kantong ekonomi baru bagi Kaltim,” jelasnya.

Senada, Ketua Dewan Pembina Yayasan Hanida Sri Suparni Bahlil mengatakan, Kaltim sangat potensial untuk menumbuhkan ekspor. Pihaknya sudah mengunjungi Kampung Ketupat di Samarinda, yang memberdayakan warganya membuat ketupat. Limbah dari ketupat itu, yaitu lidi nipah, itu sangat potensial untuk diekspor.

“Tentunya kami perlu sinergi dari berbagai pihak. Kami hadir untuk membantu dari akses pengembangan UMKM dan mencarikan buyer yang siap membeli produk-produk Kaltim,” tuturnya. (rom/k15)